Pedagang Sate Madura di Mayestik Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 13:39 WIB 4
Pedagang Sate Madura di Mayestik Naik Kelas

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura menyeruak dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di kawasan Mayestik yang ramai, hidangan sate itu menarik perhatian para pejalan kaki dan pekerja kantor yang melintas. Di balik kesibukan itu, ada kisah perjuangan Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun, yang berhasil membawa usahanya naik kelas.

Haidir memulai usahanya pada 2013 dengan gerobak satai keliling yang berjualan di atas trotoar. Ia sempat menghadapi penertiban, penolakan sesama pedagang, hingga tekanan untuk bertahan di tengah persaingan jalanan. Namun, konsistensinya membuahkan hasil, karena nama Sate Ayam Barokah Mayestik kini semakin dikenal pelanggan.

Perjalanan Sate Madura

Haidir mengaku, awal berjualan bukan perkara mudah karena ia harus berpindah-pindah mengikuti kondisi lapangan. Pada masa awal itu, ia kerap merasa tidak nyaman karena harus berhadapan dengan pedagang lain dan petugas ketertiban. Meski begitu, ia tetap memilih bertahan karena melihat potensi besar kawasan Mayestik.

Lokasi di sekitar perkantoran membuat arus pembeli terus datang pada jam-jam tertentu. Menurut Haidir, peluang itu menjadi alasan utama ia tidak meninggalkan lapaknya. Ia menilai keberadaan lebih dulu di lokasi tersebut menjadi modal penting untuk terus berkembang.

Setiap hari, Haidir menjaga bara arang agar tetap stabil demi menghasilkan sate yang matang merata. Ketekunan itu membuat cita rasa dagangannya konsisten dan mudah dikenali pelanggan. Dari sana, usahanya mulai mendapat tempat di tengah persaingan kuliner setempat.

Nama Sate Ayam Barokah Mayestik perlahan melekat di benak pembeli yang datang kembali. Reputasi itu tumbuh bukan dari promosi besar, melainkan dari pelayanan dan rasa yang dijaga. Bagi Haidir, kepercayaan pelanggan adalah aset yang paling berharga dalam usaha kecil.

Ujian Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi pukulan berat bagi usaha Haidir karena jumlah pembeli turun drastis. Situasi itu membuat lapaknya sepi dan pendapatannya ikut tertekan. Dalam kondisi tersebut, ia sempat merasa sangat stres dan hampir menyerah.

Haidir bahkan pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain karena tidak sanggup lagi melanjutkan usaha. Ia mengaku saat itu ingin berhenti dan berharap ada pihak yang bersedia membeli lapaknya. Tawaran itu sempat membuatnya berpikir bahwa perjalanan bisnisnya benar-benar akan berakhir.

Nilai yang ditawarkan saat itu mencapai Rp50 juta, jauh di bawah harga yang ia minta sebesar Rp150 juta. Perbedaan harga itu membuat transaksi tidak pernah terjadi. Keputusan batal menjual lapak kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya.

Meski sempat terpuruk, Haidir tetap bertahan hingga kondisi berangsur membaik. Pengalaman pahit saat pandemi memberinya pelajaran bahwa usaha membutuhkan ketahanan mental yang kuat. Dari fase itu, ia semakin yakin untuk menjaga bisnisnya agar tidak kembali jatuh.

Ruko Baru Jadi Titik Balik

Titik balik usaha Haidir datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul setelah selama bertahun-tahun ia berjualan di lokasi yang sama. Tanpa menunggu lama, ia menilai momen tersebut sebagai peluang yang tidak boleh dilewatkan.

Ruko itu dinilai lebih strategis karena berada di titik yang mudah terlihat oleh calon pembeli. Posisi tersebut juga memberi kenyamanan yang lebih baik dibanding gerobak keliling. Bagi Haidir, perpindahan ini menandai naiknya kelas usaha yang ia bangun sejak muda.

Keputusan pindah ke ruko bukan hanya soal tempat, tetapi juga soal keberlanjutan usaha. Dengan fasilitas yang lebih layak, ia dapat melayani pelanggan dengan lebih tertata. Langkah itu sekaligus memperkuat citra usahanya sebagai kedai sate yang serius dikelola.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa keberanian mengambil peluang bisa menjadi pembeda dalam bisnis kecil. Haidir memanfaatkan momentum untuk memperbaiki posisi usahanya di tengah persaingan kuliner Jakarta. Dari lapak sederhana, ia kini berada pada tahap yang lebih mapan.

Pelajaran Dari Ketekunan

Kisah Haidir memperlihatkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh jika dijalankan dengan disiplin dan kesabaran. Ia tidak hanya bertahan, tetapi juga terus membaca peluang di sekitar tempat berjualannya. Sikap itu membuat perjalanannya relevan sebagai contoh bagi pedagang kecil lain.

Dalam bisnis kuliner, lokasi, rasa, dan konsistensi menjadi faktor yang saling menguatkan. Haidir berhasil memadukan ketiganya meski berangkat dari modal yang sederhana. Hasilnya, usahanya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang ke arah yang lebih baik.

Pengalaman dikejar penertiban, bersaing dengan sesama pedagang, hingga terdampak pandemi membentuk mental usahanya. Setiap tekanan justru membuatnya lebih memahami pentingnya adaptasi. Ia menunjukkan bahwa ketahanan menjadi bagian penting dalam perjalanan wirausaha.

Bagi Haidir, keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan lewat proses panjang yang penuh ujian. Dari gerobak keliling hingga menempati ruko strategis, ia membuktikan bahwa konsistensi bisa mengubah nasib usaha. Kisahnya menjadi gambaran nyata bahwa kerja keras dan ketepatan membaca peluang mampu mengangkat bisnis kecil ke level berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!