Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali mencuri perhatian publik setelah Kejaksaan Agung memastikan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo, adalah barang palsu. Pemusnahan barang sitaan itu menyoroti kembali besarnya nilai jam tangan mewah, sekaligus membongkar bagaimana merek prestise kerap dipalsukan karena harganya yang tinggi.
Di dunia horologi, kedua merek asal Swiss itu memang berada di jajaran teratas, bersama Richard Mille yang juga sangat diburu kalangan berduit. Di Indonesia, jam tangan mewah seperti Patek Philippe dan AP bukan hanya simbol status, tetapi juga aset koleksi yang nilainya dapat bertahan kuat di pasar sekunder.
Patek Philippe dan Audemars Piguet
Patek Philippe dan Audemars Piguet dikenal sebagai merek jam tangan mewah yang memiliki reputasi sangat kuat di pasar global. Keduanya identik dengan kualitas pengerjaan tinggi, desain ikonik, dan produksi yang terbatas. Kondisi itu membuat permintaannya tetap tinggi meski harganya berada di level yang sulit dijangkau sebagian besar konsumen.
Di kalangan kolektor, Patek Philippe bahkan sering disebut sebagai holy grail karena nilai jualnya cenderung stabil. Sementara itu, Audemars Piguet juga memiliki basis penggemar besar berkat lini Royal Oak yang legendaris. Keduanya sama-sama dipandang sebagai simbol prestise dan pencapaian personal.
Fenomena tersebut ikut menjelaskan mengapa barang palsu jam tangan mewah masih sering beredar di pasaran. Harga asli yang tinggi membuat versi tiruan menjadi sasaran bagi pembeli yang ingin tampil mewah dengan biaya lebih rendah. Namun, risiko hukum dan reputasi tetap besar ketika barang palsu itu digunakan untuk menutupi kepemilikan aset.
Harga Jam Tangan Mewah
Harga Audemars Piguet bervariasi tergantung model dan material yang digunakan. Seri Royal Oak berbahan stainless steel umumnya dibanderol sekitar Rp 600 juta hingga Rp 1,2 miliar. Sementara itu, Royal Oak Offshore chronograph berada di kisaran Rp 400 juta hingga Rp 900 juta.
Untuk model high complication atau edisi terbatas, harga AP dapat menembus Rp 2 miliar hingga lebih dari Rp 6 miliar. Nilai tersebut menunjukkan bahwa jam tangan bukan sekadar aksesori, melainkan juga barang koleksi bernilai tinggi. Tidak heran jika model tertentu sangat sulit didapatkan di pasar resmi.
Patek Philippe bahkan kerap melampaui AP dalam hal eksklusivitas dan harga. Seri Calatrava entry level biasanya dimulai dari Rp 180 juta hingga Rp 500 juta. Adapun Aquanaut, Nautilus, dan Grand Complications dapat berada di kisaran Rp 1 miliar hingga puluhan miliar rupiah.
Model Incaran Kolektor
Salah satu model yang paling sering diburu kolektor adalah Patek Philippe Nautilus. Seri ini dikenal memiliki desain sporty, elegan, dan mudah dikenali dari bentuk casing khasnya. Kombinasi itu membuat Nautilus menjadi salah satu jam tangan paling prestisius di pasar.
Pada gelaran Jakarta Watch Exchange 2026, sempat dipamerkan Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary. Arloji tersebut disebut sangat diminati kolektor karena kelangkaannya. Harga yang dipasang mencapai Rp 6,6 miliar, menunjukkan tingginya nilai sebuah edisi spesial.
Minat terhadap jam tangan seperti Patek Philippe dan AP tidak hanya datang dari kolektor, tetapi juga dari kalangan crazy rich di Indonesia. Bagi sebagian orang, kepemilikan jam mewah menjadi cara menunjukkan selera, status, dan keberhasilan finansial. Di sisi lain, pasar yang besar turut memicu maraknya barang tiruan dengan kualitas beragam.
Pasar Jam Tangan Indonesia
Di Indonesia, jam tangan mewah memiliki pasar tersendiri yang terus berkembang. Permintaan tertinggi umumnya datang dari konsumen yang sudah memahami perbedaan detail, keaslian, dan nilai investasi. Karena itu, merek seperti Richard Mille, Patek Philippe, dan Audemars Piguet selalu menjadi sorotan utama.
Anton Lim, pendiri Jakarta Watch Exchange, menyebut Richard Mille sempat berada di urutan teratas merek paling dicari, disusul Patek Philippe dan Audemars Piguet. Tren tersebut memperlihatkan bahwa preferensi pembeli lokal semakin matang. Mereka tidak hanya mengejar merek besar, tetapi juga kelangkaan dan potensi nilai jual kembali.
Kasus pemusnahan jam palsu milik tersangka korupsi Asabri pun menjadi pengingat bahwa barang mewah tidak selalu identik dengan keaslian. Di tengah tingginya harga dan permintaan, edukasi soal otentikasi menjadi penting bagi pembeli. Pasar yang sehat hanya bisa tumbuh jika konsumen memahami nilai, risiko, dan asal-usul produk yang dibeli.
