Pasar Saham Indonesia Tergeser Singapura, Kepercayaan Melemah

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 25 Mei 2026 07:07 WIB 4
Pasar Saham Indonesia Tergeser Singapura, Kepercayaan Melemah

Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan besar setelah statusnya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara digeser oleh Singapura. Data Bloomberg menunjukkan kapitalisasi pasar saham Indonesia anjlok lebih dari 30 persen sejak puncaknya pada Januari, menjadi sekitar US$618 miliar.

Di sisi lain, nilai pasar saham Singapura justru naik ke US$645 miliar, mempertegas perubahan peta kekuatan di kawasan. Kondisi ini terjadi di tengah melemahnya kepercayaan investor, kekhawatiran terhadap status pasar Indonesia, serta rupiah yang terus menyentuh level terlemah terhadap dolar AS.

Pasar Saham Indonesia Tertekan

Pasar saham Indonesia melemah tajam dalam beberapa bulan terakhir, seiring arus sentimen negatif yang terus berdatangan. Penurunan kapitalisasi pasar menjadi salah satu sinyal paling jelas bahwa minat investor sedang menurun.

Bloomberg mencatat, total nilai pasar perusahaan tercatat di bursa Indonesia telah merosot lebih dari 30 persen dari puncaknya pada Januari. Nilai tersebut kini berada di kisaran US$618 miliar, atau sekitar Rp10.000 triliun.

Pergerakan itu membuat Indonesia kehilangan posisi sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara. Singapura kini berada di atas Indonesia dengan kapitalisasi pasar sekitar US$645 miliar.

Perubahan tersebut menandai pergeseran kepercayaan investor regional terhadap dua pasar utama di kawasan. Dalam situasi seperti ini, aliran dana cenderung lebih berhati-hati dan selektif.

Kepercayaan Investor Melemah

Kepercayaan investor terhadap Indonesia turut tertekan oleh sejumlah faktor yang saling berkelindan. Salah satunya adalah kekhawatiran pasar akan kemungkinan Indonesia turun kelas menjadi frontier market.

Kekhawatiran tersebut menambah tekanan di tengah kondisi pasar global yang juga belum stabil. Investor cenderung mencari pasar yang dinilai lebih pasti dan memiliki visibilitas kebijakan yang lebih jelas.

Mengutip Strait Times, kondisi ini membuat sentimen terhadap Indonesia semakin rapuh. Pasar menilai risiko investasi di Tanah Air meningkat dibandingkan beberapa waktu lalu.

Di saat yang sama, pasar saham Indonesia juga tercatat sebagai salah satu yang berkinerja paling buruk dibandingkan negara lain di dunia. Kombinasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa minat investor asing bisa terus melemah.

Prospek Kredit Jadi Sinyal

Tekanan terhadap pasar Indonesia juga datang dari sisi penilaian lembaga pemeringkat. Fitch Ratings dan Moody's sama-sama menurunkan prospek rating kredit Indonesia menjadi negatif.

Langkah tersebut menambah daftar sentimen yang membebani pasar keuangan nasional. Investor biasanya memandang penurunan prospek kredit sebagai sinyal meningkatnya risiko makroekonomi.

Di pasar, perubahan outlook itu dapat memengaruhi persepsi terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Dampaknya tidak hanya terasa pada obligasi, tetapi juga pada pasar saham dan nilai tukar.

Dalam konteks yang lebih luas, sinyal negatif dari lembaga pemeringkat sering menjadi rujukan investor global. Karena itu, efeknya dapat bertahan lebih lama jika tidak diimbangi pemulihan data ekonomi yang meyakinkan.

Singapura Makin Dianggap Aman

Berbeda dengan Indonesia, saham-saham di Singapura justru mendapat dorongan dari stabilitas ekonomi dan politik. Pemerintah setempat juga dinilai konsisten melakukan reformasi pasar untuk menjaga daya tarik investasinya.

Manajer portofolio Lion Global Investors, Soh Chih Kai, menilai kondisi saat ini memang belum berpihak pada Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa peluang kebangkitan Indonesia di masa depan tetap terbuka.

Menurut dia, situasi ini sekaligus menegaskan posisi Singapura sebagai pasar yang dianggap lebih aman dan pasti oleh investor global. Di tengah ketidakpastian kebijakan dunia, preferensi terhadap aset yang stabil semakin menguat.

Indeks Straits Times bahkan mencetak rekor tertinggi pada pekan ini. Penguatan itu didorong oleh arus pencarian aset aman, termasuk di tengah gejolak akibat perang Iran.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!