Pakar IPB Ungkap Cara Tepat Menilai Label Makanan Kemasan

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 05:27 WIB 2
Pakar IPB Ungkap Cara Tepat Menilai Label Makanan Kemasan

Banyak orang masih ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan karena nama bahan yang asing, teknis, atau terdengar seperti bahan kimia sering langsung dicurigai berbahaya. Keraguan itu makin kuat ketika produk tersebut dikaitkan dengan istilah ultra-processed food yang belakangan ramai dibahas di media sosial.

Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai anggapan itu belum tentu tepat. Menurutnya, kualitas produk pangan tidak bisa dinilai hanya dari daftar bahan pada kemasan tanpa melihat fungsi, kadar, dan kesesuaiannya dengan aturan.

Label makanan kemasan dan persepsi

Di tengah maraknya diskusi soal makanan kemasan, banyak konsumen menilai produk dari panjang pendeknya daftar bahan. Nama bahan tambahan yang terdengar teknis sering membuat produk langsung dianggap kurang sehat. Padahal, penilaian seperti itu belum tentu mencerminkan kualitas sebenarnya.

Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa persepsi negatif terhadap label komposisi sering muncul karena konsumen tidak mengenali fungsi tiap bahan. Istilah yang asing juga kerap memunculkan kesan seolah-olah bahan tersebut merupakan zat berbahaya. Kondisi ini membuat informasi pada kemasan justru disalahartikan.

Ia menegaskan bahwa pembacaan label seharusnya dilakukan secara utuh. Konsumen perlu memahami konteks produk, bukan hanya terpaku pada nama bahan yang tercantum. Dengan begitu, penilaian terhadap makanan kemasan menjadi lebih objektif.

Menurutnya, cara pandang yang terlalu sederhana dapat memicu kesimpulan keliru. Produk dengan daftar bahan lebih panjang tidak otomatis lebih buruk daripada produk dengan daftar bahan singkat. Yang perlu diperhatikan adalah apakah bahan tersebut memang digunakan secara tepat dan sesuai kebutuhan produk.

Bahan tambahan pangan

Prof Purwiyatno menuturkan bahwa bahan tambahan pangan memiliki fungsi penting dalam industri pangan. Bahan tersebut dapat membantu menjaga mutu, keamanan, stabilitas, dan karakteristik produk. Karena itu, keberadaannya tidak otomatis berarti produk bermasalah.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan bahan tambahan justru sering dibutuhkan untuk menjaga kualitas selama penyimpanan dan distribusi. Dalam banyak kasus, bahan tambahan membantu produk tetap layak konsumsi lebih lama. Fungsi ini penting, terutama pada makanan kemasan yang harus melewati rantai pasok panjang.

Yang menjadi perhatian utama bukanlah sekadar ada atau tidaknya bahan tambahan. Faktor yang lebih penting adalah apakah penggunaan bahan tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika sesuai regulasi, maka kehadirannya merupakan bagian dari proses pengolahan pangan yang wajar.

Dengan demikian, konsumen tidak perlu langsung menganggap bahan tambahan sebagai ancaman. Penilaian yang tepat harus mempertimbangkan tujuan penggunaan bahan, kadar yang dipakai, dan dampaknya terhadap produk. Pendekatan ini dinilai lebih adil bagi produsen maupun konsumen.

Memahami ultra-processed food

Istilah ultra-processed food atau UPF memang sering muncul dalam perbincangan publik. Namun, istilah ini kerap dipahami secara hitam-putih tanpa melihat penjelasan ilmiahnya. Akibatnya, semua produk yang diproses tinggi sering disamaratakan sebagai tidak sehat.

Prof Purwiyatno menilai pemahaman seperti itu perlu diluruskan. Tidak semua makanan dengan proses pengolahan lebih lanjut otomatis masuk kategori berisiko. Setiap produk tetap harus dilihat dari komposisi, tujuan pengolahan, dan cara konsumsinya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengolahan pangan dilakukan untuk banyak alasan, termasuk keamanan dan kepraktisan. Dalam beberapa produk, proses pengolahan justru membuat makanan lebih stabil dan aman dikonsumsi. Karena itu, label UPF tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar penilaian.

Di sisi lain, konsumen tetap perlu cermat memilih makanan sesuai kebutuhan. Keseimbangan pola makan dan pemahaman terhadap produk menjadi kunci utama. Dengan cara ini, istilah UPF tidak lagi dipandang secara berlebihan.

Cara memilih makanan aman

Untuk memilih makanan kemasan, konsumen disarankan membaca label dengan lebih teliti. Informasi komposisi, takaran saji, dan keterangan gizi dapat membantu memberi gambaran yang lebih lengkap. Semua data itu perlu dipahami bersama, bukan secara terpisah.

Selain itu, penting untuk menilai apakah bahan yang digunakan memang memiliki fungsi yang jelas. Bahan tambahan yang sah dan digunakan sesuai aturan tidak serta-merta menurunkan kualitas produk. Justru, keberadaannya sering mendukung mutu dan keamanan pangan.

Prof Purwiyatno menekankan bahwa literasi pangan perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh asumsi. Edukasi mengenai label komposisi dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih rasional. Hal ini juga mencegah kesalahpahaman yang sering beredar di media sosial.

Pada akhirnya, penilaian terhadap makanan kemasan harus didasarkan pada informasi yang benar. Konsumen perlu memahami bahwa tidak semua istilah teknis berarti buruk. Dengan pemahaman yang tepat, pilihan pangan bisa menjadi lebih aman dan lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!