Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62 Persen

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 18:03 WIB 3
Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62 Persen

Pertamina mencatat lonjakan omzet hampir 62 persen bagi 32 UMKM binaannya selama lima hari pameran Inacraft 2025 yang berlangsung pada 5 Oktober. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa produk pelaku usaha kecil binaan BUMN energi tersebut semakin kompetitif di pasar nasional dan internasional.

Para UMKM itu hadir dari beragam sektor, mulai dari wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya mendorong promosi, tetapi juga memperkuat kapasitas usaha agar pelaku UMKM siap bersaing lebih luas.

UMKM binaan pertamina naik daun

Kinerja UMKM binaan Pertamina di ajang Inacraft 2025 menunjukkan hasil yang menonjol. Selama pameran berlangsung, transaksi yang tercatat meningkat hampir 62 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Capaian itu memperlihatkan adanya perbaikan kualitas produk dan daya saing pelaku usaha. Pertamina menilai hasil tersebut tidak lepas dari pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Fadjar Djoko Santoso mengatakan, dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada penyediaan ruang promosi. Menurut dia, perusahaan juga membantu penguatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM lebih siap menghadapi pasar yang makin kompetitif. Pendekatan itu dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Selain itu, strategi ini juga membuka peluang perluasan jaringan pemasaran.

Partisipasi 32 UMKM binaan dibagi ke dalam beberapa kategori sesuai produk unggulan masing-masing. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A. Enam UMKM kuliner unggulan hadir di Talam Hall B. Sementara itu, tujuh UMKM co-branding ikut berpartisipasi secara mandiri.

Keberagaman produk tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung. Dari sektor busana hingga kuliner, produk binaan Pertamina dinilai memiliki kualitas yang kompetitif. Kehadiran mereka juga memperlihatkan peran UMKM dalam memperkuat ekonomi kreatif nasional. Dalam konteks ini, pameran menjadi ruang penting untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas.

Batik mata andau mencuri perhatian

Salah satu peserta yang paling menyita perhatian adalah Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan ini didirikan oleh Yoga Rustaman bersama istrinya pada 2017 dengan misi mengenalkan batik khas Dayak kepada masyarakat luas. Dalam pameran, produk mereka berhasil menarik minat banyak pengunjung. Respons positif itu datang dari beragam kalangan, termasuk tokoh nasional yang hadir di lokasi.

Dengan melibatkan 20 pengrajin, sebagian besar perempuan berusia di atas 50 tahun, Batik Mata Andau mencatat penjualan lebih dari 800 outer bermotif Dayak hanya dalam hitungan hari. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa produk berbasis budaya daerah tetap memiliki pasar yang kuat. Tidak hanya itu, produk mereka juga diminati pembeli dari Korea, Jepang, dan Turki. Bahkan, salah satu BUMN transportasi mempercayakan produksi seragam bernuansa budaya Nusantara kepada mereka.

Yoga Rustaman menyebut keikutsertaan mereka bersama Pertamina membuka banyak peluang baru. Ia menilai omzet meningkat secara signifikan, sekaligus memberikan akses pada calon pembeli dari luar negeri. Menurut dia, dukungan Pertamina tidak hanya berbentuk pameran, tetapi juga pendampingan usaha yang manfaatnya sangat terasa. Pengalaman itu menjadi dorongan penting bagi pengembangan usaha ke tahap berikutnya.

Keberhasilan Batik Mata Andau menunjukkan bahwa produk lokal dapat naik kelas melalui kolaborasi yang tepat. Penguatan kapasitas produksi, promosi, dan jejaring pasar menjadi faktor penting dalam pertumbuhan usaha. Dalam praktiknya, keterlibatan pengrajin lokal juga memberi dampak sosial yang lebih luas. Hal ini memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas.

Smart batik usung inovasi hijau

Kisah serupa datang dari Smart Batik Yogyakarta yang memperkenalkan Batik Sawit, kain batik ramah lingkungan dengan sentuhan teknologi hijau. Inovasi tersebut memadukan kearifan lokal dengan pendekatan produksi yang lebih berkelanjutan. Produk ini menjadi salah satu bukti bahwa UMKM dapat beradaptasi dengan tren konsumsi masa kini. Pengunjung pameran memberikan sambutan positif terhadap gagasan tersebut.

Founder Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, menyebut pameran pertamanya bersama Pertamina berjalan sangat baik. Ia mengatakan banyak relasi baru dan peluang kolaborasi yang muncul selama kegiatan berlangsung. Salah satu momen penting terjadi ketika ia bertemu Duta Besar RI untuk Meksiko, Toferry Primanda Soetikno. Pertemuan itu membuka kemungkinan perluasan jejaring ke pasar yang lebih luas.

Saat ini Smart Batik memberdayakan 65 ibu-ibu pembatik di Yogyakarta. Model usaha itu tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi perempuan di daerah. Keterlibatan para pembatik menjadi bagian penting dari rantai produksi yang menopang keberlanjutan usaha. Karena itu, dampak ekonominya menjangkau lebih dari sekadar transaksi penjualan.

Inovasi yang dihadirkan Smart Batik menunjukkan bahwa keberlanjutan kini menjadi nilai tambah di sektor UMKM. Produk yang ramah lingkungan memiliki peluang besar di tengah meningkatnya kesadaran konsumen. Dengan dukungan promosi dan pendampingan, inovasi lokal seperti ini berpotensi masuk ke pasar ekspor. Tren tersebut sekaligus memperkuat citra produk Indonesia yang adaptif dan berdaya saing.

Pertamina dorong ekonomi kreatif

Pertamina menegaskan bahwa dukungan kepada UMKM sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran poin ketiga. Poin itu menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan industri kreatif, dan pertumbuhan kewirausahaan. Dukungan dilakukan melalui pelatihan, akses permodalan, dan perluasan peluang pasar. Dengan cara itu, UMKM diharapkan dapat tumbuh lebih mandiri dan berkelanjutan.

Fadjar menambahkan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari transaksi. Menurut dia, dampak sosial dan budaya yang dihasilkan juga menjadi indikator penting. Karena itu, Pertamina menempatkan penguatan ekosistem usaha sebagai bagian dari strategi pemberdayaan. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi pelaku usaha dan masyarakat.

Partisipasi UMKM binaan di Inacraft 2025 juga menjadi ajang pembuktian bahwa produk lokal mampu bersaing di pasar premium. Produk wastra, kriya, fesyen, dan kuliner yang ditampilkan menunjukkan kualitas yang semakin matang. Kehadiran pembeli mancanegara menjadi sinyal bahwa pasar luar negeri terus terbuka. Situasi ini memberi optimisme bagi pengembangan ekspor UMKM Indonesia.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap produk lokal, dukungan korporasi seperti Pertamina menjadi faktor penting. Pendampingan yang konsisten dapat membantu UMKM memperbaiki kualitas, memperluas jaringan, dan meningkatkan kapasitas produksi. Bila pola ini terus berjalan, UMKM berpeluang menjadi pilar yang lebih kuat dalam ekonomi nasional. Pada akhirnya, keberhasilan mereka juga mencerminkan tumbuhnya ekonomi berbasis nilai budaya dan inovasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!