OJK: Koreksi IHSG Bersifat Sementara, Prospek Tetap Kuat

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 11:48 WIB 4
OJK: Koreksi IHSG Bersifat Sementara, Prospek Tetap Kuat

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, mengakui Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tengah mengalami koreksi di tengah tekanan global. Kondisi tersebut terjadi seiring beragam tantangan eksternal yang memengaruhi sentimen pelaku pasar dan arah investasi.

Meski begitu, Friderica menegaskan prospek investasi di Indonesia tetap menjanjikan untuk jangka panjang. Ia menilai fundamental ekonomi nasional masih terjaga, sementara OJK terus menjalankan reformasi untuk memperkuat integritas pasar modal.

IHSG dan Tekanan Global

Friderica menyampaikan penilaian itu dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Menurut dia, kondisi pasar modal saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang berlangsung serentak. Tekanan tersebut turut memengaruhi pergerakan IHSG yang sedang berada dalam fase koreksi.

Ia menekankan bahwa koreksi pasar bukan berarti melemahkan prospek investasi di Indonesia. Dalam pandangannya, pasar modal tetap menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Karena itu, investor diminta melihat arah ekonomi nasional secara lebih menyeluruh.

OJK juga menilai reformasi integritas di sektor pasar modal perlu terus diperkuat. Langkah ini diarahkan agar pasar lebih transparan, akuntabel, dan mampu menjaga kepercayaan investor. Di tengah gejolak eksternal, fondasi tata kelola menjadi pembeda utama bagi pasar domestik.

Friderica menambahkan bahwa koreksi IHSG perlu dibaca sebagai bagian dari siklus pasar yang wajar. Selama fundamental ekonomi tetap solid, ruang pemulihan masih terbuka. Dengan demikian, sentimen jangka pendek tidak seharusnya menutupi potensi jangka panjang Indonesia.

Fundamental Ekonomi Indonesia

Friderica menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus dipercepat melalui berbagai program strategis pemerintah. Ia menyebut OJK ikut berkomitmen memperkuat daya tahan sektor jasa keuangan agar mampu menopang pemulihan dan ekspansi ekonomi. Upaya ini menjadi bagian dari menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.

Menurut dia, kekuatan ekonomi domestik menjadi modal penting bagi pasar modal. Ketika aktivitas ekonomi bertumbuh, minat terhadap investasi juga berpeluang meningkat. Kondisi itu akan membantu memperluas partisipasi masyarakat di pasar keuangan.

OJK juga melihat perlunya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Penguatan pengawasan tetap dilakukan agar sistem keuangan tidak rentan terhadap guncangan. Dengan tata kelola yang baik, pasar dinilai lebih siap menghadapi tekanan eksternal.

Friderica menegaskan bahwa Indonesia memiliki pijakan fundamental yang masih cukup sehat. Hal itu menjadi alasan utama mengapa investasi di dalam negeri tetap layak dipandang sebagai pilihan jangka panjang. Pandangan tersebut sekaligus memberi sinyal optimisme bagi pelaku pasar.

Fokus UMKM dan Pembiayaan

Selain pasar modal, OJK juga menaruh perhatian besar pada penguatan ekosistem pembiayaan UMKM. Friderica menyebut sektor ini sebagai salah satu fokus utama yang terus didorong melalui kebijakan dan pengembangan kelembagaan. Bahkan, OJK baru membentuk departemen khusus untuk pengembangan UMKM.

Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah. UMKM dipandang sebagai tulang punggung perekonomian yang membutuhkan dukungan pendanaan lebih inklusif. Dengan pembiayaan yang tepat, kapasitas usaha mereka dapat meningkat lebih cepat.

OJK menilai penguatan UMKM juga akan berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Sektor ini memiliki keterkaitan erat dengan konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi daerah. Karena itu, pembiayaan UMKM menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan nasional.

Friderica menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak bisa berjalan sendiri tanpa ekosistem yang mendukung. Kolaborasi antara regulator, pemerintah, dan industri keuangan diperlukan agar pembiayaan lebih efektif. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat menyebar lebih merata ke berbagai daerah.

Obligasi Daerah dan Keuangan Digital

Dalam pemaparannya, Friderica juga menyoroti pentingnya pendalaman pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Salah satu instrumen yang didorong adalah obligasi daerah untuk mendukung kebutuhan dana di tingkat wilayah. Skema ini dinilai dapat membuka alternatif pembiayaan yang lebih terarah.

Menurut dia, pemerintah daerah memerlukan akses pendanaan yang lebih beragam untuk membiayai proyek pembangunan. Obligasi daerah dapat menjadi pilihan agar kebutuhan infrastruktur dan layanan publik tidak hanya bergantung pada anggaran pusat. Dengan mekanisme yang tepat, instrumen ini berpotensi memperkuat kemandirian fiskal daerah.

Friderica juga menekankan pentingnya pengembangan ekonomi hijau dan keuangan digital yang aman serta berintegritas. Ia menilai transformasi digital tidak bisa dihindari dalam pengembangan sektor keuangan modern. Tanpa dukungan sistem digital, optimalisasi layanan keuangan akan sulit tercapai.

OJK, kata dia, akan terus mendorong inovasi yang tetap mengedepankan keamanan dan integritas. Kombinasi antara pembiayaan daerah, ekonomi hijau, dan keuangan digital diharapkan memperkuat struktur ekonomi nasional. Pada saat yang sama, pasar modal diyakini tetap memiliki prospek yang menarik bagi investor jangka panjang.

Tag Terkait
#IHSG#OJK#pasar modal

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!