Nanda Nuril, kakak aktor Fedi Nuril, mengungkap firasat yang dirasakannya sebelum sang ibunda, Gusmawati Nuril, meninggal dunia. Gusmawati dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Rabu, 20 Mei 2026. Pengakuan itu ia sampaikan saat menceritakan detik-detik terakhir sang ibu yang berpulang di rumah.
Menurut Nanda, tanda itu bermula dari obrolan beberapa hari sebelum kepergian ibunya. Ia mengaku melihat wajah Gusmawati semakin mirip dengan almarhumah kakak sang ibu yang wafat sekitar 63 hari sebelumnya. Dugaan yang hanya dipendam dalam hati itu ternyata berujung pada kabar duka yang datang tidak lama kemudian.
Firasat Nanda Nuril
Nanda menceritakan bahwa dirinya sempat bercakap dengan sang ibu menjelang hari naas itu. Dalam percakapan tersebut, ia menyebut wajah Gusmawati tampak mirip dengan almarhumah Nini. Ucapan itu membuatnya menyimpan firasat yang sulit dijelaskan.
Ia menilai kedekatan Gusmawati dengan sang kakak sangat erat, seperti saudara kembar. Kedekatan itu membuat perubahan kecil pada wajah ibunya terasa begitu jelas baginya. Dari situlah, Nanda mulai merasakan ada hal yang tidak biasa.
Meski demikian, firasat itu hanya ia simpan sendiri tanpa menyampaikannya kepada keluarga. Ia sempat membatin bahwa sang ibu mungkin akan menyusul almarhumah kakaknya. Beberapa waktu setelah itu, dugaan tersebut benar-benar terjadi.
Nanda menuturkan momen itu terasa berat karena datang tanpa persiapan yang cukup. Ia mengaku hanya bisa berdiam setelah menyadari tanda yang dirasakannya menjadi kenyataan. Situasi tersebut membuat keluarga terpukul mendalam.
Kondisi Kesehatan Gusmawati
Gusmawati dikenal sebagai sosok yang kuat dan jarang mengeluhkan kondisi tubuhnya. Bahkan saat sakit, ia tetap berusaha terlihat tegar di hadapan keluarga. Hal itu membuat kepergiannya terasa mengejutkan bagi orang-orang terdekat.
Sebelumnya, Gusmawati sempat didiagnosis mengalami lumpuh pita suara sebelah. Kondisi tersebut sempat ditangani, namun keluarga tidak menduga penyakit itu akan berkembang menjadi keadaan yang lebih serius. Dalam keseharian, ia tetap berusaha menjalani aktivitas seperti biasa.
Nanda mengatakan sang ibu juga sempat mengeluh tidak nafsu makan saat diperiksa dokter. Dokter kemudian menyarankan agar makanan diberikan sedikit demi sedikit setiap dua jam karena usia Gusmawati sudah lanjut. Saran medis itu dijalankan keluarga sambil memantau kondisinya.
Di tengah perawatan, Gusmawati tetap menunjukkan ketabahan yang membuat keluarga tenang sesaat. Namun, keadaan itu berubah cepat ketika tubuhnya mulai melemah. Perubahan tersebut akhirnya memicu kejadian yang tidak terduga.
Detik-detik Terakhir
Menurut Nanda, penyebab kondisi ibunya menurun adalah saat Gusmawati tersedak air putih. Ia menyebut kejadian seperti itu sebenarnya sudah beberapa kali terjadi sebelumnya. Meski tampak sederhana, insiden tersebut menjadi awal dari keadaan yang memburuk.
Saat kejadian berlangsung, Nanda sudah berjanji bersama Fedi untuk membawa sang ibu melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Ia kemudian panik ketika melihat kondisi ibunya semakin memburuk. Dalam keadaan genting itu, ia berusaha bertindak cepat di rumah.
Nanda mengaku sempat berdoa agar diberi kekuatan untuk memindahkan tubuh ibunya ke sofa. Dengan tenaga yang tersisa, ia menggendong dan memindahkan Gusmawati seorang diri. Momen itu menjadi salah satu bagian paling berat yang ia ingat.
Ia mengatakan ibunya meninggal di kursi sebelum sempat mendapat pertolongan lanjutan. Nanda juga mengingat waktu kejadian itu bertepatan dengan azan Asar. Catatan dokter kemudian menyebut kepastian pada pukul 15.53.
Pemakaman di Karet Bivak
Tak lama setelah kejadian, Fedi Nuril tiba di rumah dan langsung memahami situasi tanpa banyak bertanya. Menurut Nanda, sang adik masuk ke rumah dengan tergesa dan bahkan tidak sempat melepas sepatu. Sikap itu menunjukkan keduanya sama-sama sudah mengerti kondisi yang terjadi.
Setelah dokter datang dan memastikan Gusmawati telah meninggal dunia, keluarga langsung dilanda kesedihan mendalam. Nanda dan Fedi kemudian saling berpelukan sambil menangis. Konfirmasi medis itu menjadi momen yang benar-benar mematahkan ketegaran mereka.
Jenazah Gusmawati kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Rabu, 20 Mei 2026. Prosesi pemakaman dihadiri keluarga dekat yang melepas kepergian almarhumah dengan doa. Suasana haru menyelimuti perpisahan terakhir tersebut.
Bagi keluarga, kepergian Gusmawati meninggalkan duka yang sangat dalam. Nanda menilai ibunya telah berpulang setelah menjalani hidup dengan ketegaran yang jarang ditunjukkan kepada orang lain. Kisah itu sekaligus menjadi pengingat tentang rapuhnya kehidupan dan kuatnya ikatan keluarga.
