Nanda Nuril Ceritakan Firasat Sebelum Ibunda Meninggal

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 04:03 WIB 5
Nanda Nuril Ceritakan Firasat Sebelum Ibunda Meninggal

Nanda Nuril, kakak dari Fedi Nuril, mengungkap firasat yang ia rasakan sebelum ibundanya, Gusmawati Nuril, meninggal dunia. Gusmawati wafat dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Rabu, 20 Mei 2026, setelah kondisi kesehatannya menurun.

Menurut Nanda, tanda-tanda itu mulai terasa ketika ia berbicara dengan sang ibu beberapa hari sebelum berpulang. Dalam percakapan yang berlangsung di rumah, ia sempat melihat kemiripan wajah ibunya dengan almarhumah saudara perempuan Gusmawati yang lebih dulu meninggal sekitar dua bulan sebelumnya.

Firasat Nanda Nuril

Nanda mengenang hubungan dekat antara ibunya dan sang tante yang disebut seperti anak kembar. Keduanya, kata dia, sangat akrab dan sulit dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan itulah yang kemudian membuat Nanda teringat pada sosok almarhumah saat melihat perubahan pada wajah Gusmawati.

Ia sempat bergurau kepada ibundanya bahwa wajahnya mirip dengan Manin, nama panggilan almarhumah saudaranya. Gusmawati pun menanggapi dengan melihat bayangan dirinya sendiri di cermin. Bagi Nanda, obrolan itu meninggalkan kesan kuat yang kini terasa seperti firasat.

Dalam hati, Nanda sempat bertanya apakah ibunya akan menyusul sang kakak yang lebih dulu wafat. Ia mengaku hanya memendam pikiran itu tanpa mengucapkannya secara langsung. Beberapa waktu kemudian, firasat tersebut benar-benar terjadi.

Pengalaman itu membuat Nanda kembali mengingat kedekatan emosional yang selama ini mengikat keluarga mereka. Ia menilai firasat hadir di tengah obrolan yang tampak biasa, namun ternyata menyimpan makna besar. Momen tersebut kini menjadi bagian yang paling membekas sebelum kepergian sang ibu.

Kondisi Kesehatan Gusmawati

Menurut Nanda, Gusmawati dikenal sebagai sosok yang kuat dan jarang mengeluhkan sakit. Bahkan ketika mengalami gangguan kesehatan, ibundanya tetap berusaha terlihat tegar di hadapan keluarga. Sikap itu membuat keluarga tidak menyangka kondisi Gusmawati akan memburuk begitu cepat.

Sebelumnya, Gusmawati didiagnosis mengalami lumpuh pita suara sebelah. Kondisi itu sempat memengaruhi kemampuannya berbicara dan makan. Namun, keluhan tersebut belum dianggap sebagai tanda keadaan yang mengancam nyawa.

Nanda juga menyebut ibunya sempat mengeluhkan nafsu makan yang menurun kepada dokter. Dokter kemudian menyarankan agar makanan diberikan sedikit demi sedikit dengan jeda beberapa jam. Arahan itu dijalankan keluarga, meski kondisi Gusmawati terus melemah.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga tetap berupaya mendampingi Gusmawati dengan penuh perhatian. Mereka berharap perawatan sederhana di rumah bisa membantu menjaga stabilitas kesehatannya. Namun, keadaan justru berkembang lebih serius dari yang diperkirakan.

Detik detik Kepergian

Nanda mengatakan kondisi ibundanya menurun setelah tersedak air putih. Peristiwa itu menjadi titik awal situasi darurat yang dialami keluarga. Sejak saat itu, Gusmawati tampak semakin lemah dan tidak lagi mampu bertahan dengan baik.

Saat kejadian, Nanda mengaku sempat panik karena sebelumnya telah berjanji kepada Fedi untuk membawa sang ibu melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Ia lalu berusaha memindahkan tubuh ibunya ke sofa seorang diri. Dalam kondisi yang emosional, ia meminta kekuatan kepada Tuhan agar mampu menolong sang ibu.

Gusmawati akhirnya mengembuskan napas terakhir di kursi sebelum sempat mendapat pertolongan lebih lanjut. Nanda kemudian berhasil memindahkan tubuh ibunya ke sofa dengan sekuat tenaga. Tidak lama setelah itu, Fedi Nuril tiba di rumah.

Menurut Nanda, Fedi langsung memahami situasi ketika masuk ke rumah tanpa banyak bertanya. Ia bahkan tidak sempat melepas sepatu karena fokus melihat kondisi sang ibu. Kejadian itu berlangsung cepat dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.

Azan Asar yang Menyisakan Duka

Nanda menyebut dokter datang untuk memastikan kondisi Gusmawati Nuril setelah kejadian tersebut. Pemeriksaan itu dilakukan bertepatan dengan waktu azan Asar. Dari hasil pemeriksaan, dokter memastikan bahwa Gusmawati telah meninggal dunia.

Ia mengingat jelas momen saat napas terakhir sang ibu terlepas. Waktu itu, menurut catatannya, keputusan resmi dokter tertulis pada pukul 15.53. Suasana rumah pun langsung berubah menjadi penuh tangis dan kesedihan.

Setelah mendapat kepastian, Nanda dan Fedi akhirnya tak kuasa menahan air mata. Keduanya saling berpelukan dan menangis atas kepergian ibunda tercinta. Momen itu menjadi titik puncak kesedihan yang mereka alami pada hari tersebut.

Kepergian Gusmawati meninggalkan duka bagi keluarga, terutama karena datang setelah rangkaian kondisi kesehatan yang menurun. Meski begitu, kisah terakhirnya juga memperlihatkan ketegaran seorang ibu yang tetap berusaha kuat hingga akhir hayat. Bagi Nanda dan Fedi, kenangan itu akan selalu melekat sepanjang hidup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!