Mantan PMI Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong di Trenggalek

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 13:41 WIB 3
Mantan PMI Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong di Trenggalek

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari peluang baru. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu kini sukses membangun usaha jajanan tradisional berbahan singkong setelah kembali dari Hongkong pada Mei 2017. Berbekal tekad kuat, ia merintis bisnis dari rumah dengan modal awal hanya Rp700 ribu. Usaha yang diberi nama Qtello Ayu itu kini berkembang menjadi sumber penghasilan keluarga.

Fatimah mengaku memilih berhenti merantau karena merasa pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai orang tua tunggal, ia ingin memiliki usaha yang bisa dijalankan sendiri dan memberi masa depan lebih baik bagi anak-anaknya. Dari keinginan sederhana itu, lahirlah langkah berani untuk memulai usaha kecil dari sisa tabungan. Keputusan tersebut kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan ekonominya.

Bisnis jajanan singkong

Pada akhir 2017, Fatimah mulai memproduksi aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong untuk dipasarkan di sekitar tempat tinggalnya. Produk pertamanya hanya terdiri atas tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan klepon. Nama Qtello Ayu dipilih sebagai perpaduan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan identitas produk sekaligus tampilan yang menarik. Sejak awal, ia ingin jajanan tradisional tampil lebih modern tanpa meninggalkan cita rasa khas.

Dengan modal kecil, Fatimah berusaha mengelola setiap rupiah secara hati-hati agar usaha bisa terus berjalan. Ia menegaskan tidak ingin kembali merantau, sehingga modal Rp700 ribu harus dijadikan pijakan untuk membangun masa depan. Semangat itu membuatnya terus belajar mengolah bahan sederhana menjadi produk yang bernilai jual. Dari dapur rumah, ia mulai merancang usaha yang lebih serius dan berkelanjutan.

Seiring waktu, jumlah varian produknya bertambah menjadi sembilan jenis. Ragam tersebut mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi rasa dan tampilan membuat produknya lebih mudah diterima konsumen dari berbagai kalangan. Dari jajanan rumahan, usahanya perlahan naik kelas menjadi merek lokal yang dikenal luas.

Pemasaran lewat jejaring digital

Untuk menjangkau pembeli, Fatimah memanfaatkan jalur pemasaran sederhana namun efektif. Ia menggunakan WhatsApp, grup alumni, serta media sosial untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan. Selain itu, strategi dari mulut ke mulut juga menjadi andalan karena dinilai lebih dipercaya konsumen. Cara ini membuat pesanan datang dari berbagai daerah tanpa harus membuka toko fisik.

Produk Qtello Ayu dikenal mengandalkan bahan baku sederhana yang dikemas secara kreatif agar terlihat lebih menarik. Tampilan warna-warni menjadi salah satu daya tarik utama yang membedakan produknya dari jajanan tradisional lain. Fatimah menyadari bahwa kemasan dan visual memiliki peran besar dalam menarik minat pembeli. Karena itu, ia terus menjaga kualitas tampilan tanpa mengurangi cita rasa.

Permintaan yang meningkat membuat jangkauan pemasarannya meluas hingga ke luar daerah. Pembeli datang dari Tulungagung, Trenggalek, hingga memesan untuk oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta. Pola pemasaran ini menunjukkan bahwa produk rumahan pun bisa bersaing jika dikelola dengan konsisten. Dari usaha kecil di rumah, pasar yang terbentuk kini jauh lebih luas dari yang dibayangkan sebelumnya.

Produksi dan omzet harian

Untuk memenuhi tingginya permintaan, Fatimah tidak bekerja sendirian. Ia dibantu keluarga dan dua karyawan harian agar produksi tetap berjalan lancar setiap hari. Seluruh proses dilakukan dari rumah, mulai dari pengolahan bahan hingga pengemasan pesanan. Dengan sistem itu, ia tetap bisa menjaga kualitas dan kesegaran produk.

Volume produksi Qtello Ayu kini mencapai sekitar 400 kotak per hari. Dari penjualan tersebut, omzet hariannya rata-rata berada di kisaran Rp1 juta. Pada hari tertentu, pendapatan bisa lebih rendah atau justru menembus Rp2 juta hingga Rp3 juta. Fluktuasi itu tetap menjadi indikator bahwa usahanya berjalan stabil dan terus diminati pasar.

Keberhasilan bisnis ini membuktikan bahwa modal kecil tidak selalu menjadi penghalang untuk tumbuh. Kunci utamanya terletak pada ketekunan, kreativitas, dan konsistensi menjaga kualitas. Fatimah memilih membangun usaha perlahan, tetapi hasilnya mampu menopang ekonomi keluarga. Dari rumah sederhana di Trenggalek, ia berhasil mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Inspirasi bagi pekerja migran

Hasil usaha yang dirintis Fatimah tidak hanya memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga membantu melunasi utang dan membeli mobil operasional. Salah satu anaknya yang sudah berkeluarga bahkan ikut mengembangkan bisnis dengan membuka cabang di Bandung. Capaian itu menunjukkan bahwa usaha rumahan dapat berkembang menjadi bisnis keluarga yang berkelanjutan. Dalam perjalanannya, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang memperkuat usaha tersebut.

Fatimah berharap jangkauan pasarnya terus meluas ke kota-kota lain karena permintaan terhadap produknya masih terbuka lebar. Ia juga berpesan agar siapa pun yang ingin berbisnis siap menghadapi proses yang tidak mudah. Menurutnya, semangat perlu dijaga dengan terus mengingat tujuan awal mendirikan usaha. Pesan itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan lahir dari kesabaran dan ketekunan.

Bagi masyarakat yang penasaran mencicipi jajanan tradisional buatan Fatimah, harga produknya mulai dari Rp8 ribuan per box. Harga tersebut membuatnya cukup terjangkau untuk camilan acara maupun oleh-oleh. Informasi produk dapat ditemukan melalui akun Instagram resmi @qtelloayu_trenggalek. Kisah Fatimah menjadi contoh bahwa mantan PMI juga dapat sukses membangun usaha di kampung halaman.

Catatan: Artikel ini mengisahkan perjalanan wirausaha seorang mantan PMI yang memulai usaha dari rumah, dengan fokus pada aspek ekonomi keluarga, pengembangan produk, dan strategi pemasaran. Kisah tersebut menunjukkan bahwa kerja keras dan inovasi dapat membuka peluang usaha baru di daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!