Makaila Haifa Gelar Trunk Show Rayakan Ketangguhan Perempuan

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 21:48 WIB 7
Makaila Haifa Gelar Trunk Show Rayakan Ketangguhan Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR atau The UN Refugee Agency menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan panggung apresiasi bagi perempuan pengungsi dari berbagai negara untuk tampil sebagai model sekaligus seniman.

Acara tersebut menampilkan pengungsi wanita dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, bersama satu peraga busana wanita asal India, Revathi Prabaharan. Melalui format trunk show dan pameran karya, kegiatan ini mengangkat pesan bahwa pengalaman pengungsian juga menyimpan ketangguhan, bakat, dan harapan.

Makaila Haifa Angkat Ketangguhan Perempuan

Makaila Haifa memosisikan acara ini sebagai ruang untuk merayakan kekuatan perempuan dalam menghadapi masa sulit. Kolaborasi dengan UNHCR mempertegas pesan kemanusiaan yang ingin dibawa dalam peringatan Hari Perempuan Internasional. Melalui fashion, brand ini berupaya menyampaikan bahwa kisah hidup para pengungsi tidak hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang berkembang.

Founder Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok yang mendorong lahirnya Mishka Project. Ia mengubah sudut pandang terhadap pengungsi perempuan, dari narasi yang kerap dipandang berat menjadi kisah tentang keberanian dan talenta. Pendekatan itu membuat acara ini tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki pesan sosial yang kuat.

Konsep acara dirancang untuk memberi panggung yang setara kepada para peserta. Para perempuan pengungsi tidak sekadar hadir sebagai tamu, tetapi menjadi bagian dari peragaan dan karya seni yang ditampilkan. Dengan cara itu, makna pemberdayaan terasa lebih nyata dan langsung terlihat oleh para undangan.

Mishka Project Tampilkan Mode dan Seni

Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menjadi sorotan utama dalam acara tersebut. Lima perempuan pengungsi tampil sebagai model, sementara satu model tambahan, Revathi Prabaharan, turut ambil bagian dalam peragaan. Komposisi ini memperlihatkan keberagaman latar belakang yang hadir dalam satu panggung yang sama.

Para model berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, serta telah mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa proses beradaptasi di tempat baru dapat berjalan seiring dengan ruang ekspresi diri. Di atas panggung, mereka memperlihatkan koleksi busana dengan percaya diri dan penuh penghayatan.

Selain peragaan busana, acara ini juga menampilkan karya fashion painting dari para pengungsi berbakat. Karya tersebut datang dari peserta asal Sri Lanka dan Afghanistan yang membawa sentuhan personal ke dalam pameran. Unsur seni visual ini memperkaya pengalaman acara, sekaligus memperluas makna fashion sebagai medium ekspresi.

Busana Muslim Jadi Medium Pesan

Sebagai brand hijab dan modest wear lokal, Makaila Haifa menggunakan busana muslim sebagai medium untuk menyuarakan nilai inklusif. Pilihan ini menunjukkan bahwa industri fashion dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kepedulian sosial. Dalam acara tersebut, desain dan pesan kemanusiaan saling melengkapi tanpa kehilangan sisi profesionalnya.

Trunk show bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving juga menegaskan bahwa mode dapat berperan lebih luas dari sekadar tren. Panggung ini menghubungkan karya, identitas, dan pengalaman hidup para perempuan yang tampil. Melalui pendekatan tersebut, penonton diajak melihat fashion sebagai sarana pemberdayaan.

Kehadiran karya dan peragaan dalam satu rangkaian menciptakan pengalaman yang lebih utuh. Setiap busana yang dipresentasikan membawa cerita tentang perjalanan, harapan, dan keberanian. Dengan demikian, acara ini memberi makna baru bagi publik terhadap kolaborasi antara fashion dan isu kemanusiaan.

Apresiasi untuk Perempuan Pengungsi

Acara ini menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi perempuan pengungsi yang kerap luput dari sorotan. Dengan memberi ruang tampil, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang layak diapresiasi. Pesan itu relevan dengan semangat Hari Perempuan Internasional yang menekankan kesetaraan dan keberdayaan.

UNHCR bersama Makaila Haifa menempatkan panggung ini sebagai simbol solidaritas lintas negara. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang budaya memperlihatkan bahwa empati dapat diwujudkan melalui karya. Pada saat yang sama, acara ini membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai peran perempuan dalam situasi rentan.

Melalui Mishka Project, kolaborasi tersebut memberi contoh bahwa fashion dapat menjadi jembatan antara estetika dan kepedulian sosial. Panggung yang dihadirkan bukan hanya menampilkan busana, tetapi juga martabat dan keteguhan para perempuan. Dari sana, pesan utamanya mengemuka, yakni bertahan bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!