Makaila Haifa dan UNHCR Sorot Resiliensi Perempuan Pengungsi

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 09:01 WIB 3
Makaila Haifa dan UNHCR Sorot Resiliensi Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan perempuan pengungsi dari sejumlah negara sebagai model sekaligus seniman, dengan tujuan memberi ruang apresiasi atas daya juang mereka.

Acara tersebut menampilkan perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan dalam sebuah panggung yang memadukan mode dan seni. Melalui ajang ini, narasi tentang pengungsi perempuan diangkat menjadi kisah tentang keberanian, kreativitas, dan ketangguhan.

Resiliensi Perempuan Pengungsi

Makaila Haifa dan UNHCR menghadirkan panggung yang merayakan resiliensi perempuan pengungsi dalam format trunk show dan pameran seni. Program ini menjadi ruang bagi para peserta untuk menunjukkan identitas mereka secara lebih utuh.

Para perempuan pengungsi tampil bukan hanya sebagai peraga busana, tetapi juga sebagai individu dengan pengalaman hidup yang kuat. Pendekatan ini menegaskan bahwa moda pakaian dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan.

Acara tersebut digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2026. Momentum ini dimanfaatkan untuk menyoroti peran perempuan dalam membangun kembali kehidupan setelah melewati masa sulit.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bahwa dunia mode dapat menjadi sarana advokasi sosial. Melalui panggung yang inklusif, perhatian publik diarahkan pada isu pengungsi perempuan yang kerap luput dari sorotan.

Mishka Project di Panggung

Dalam kesempatan itu, Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menampilkan lima perempuan pengungsi. Satu peraga busana perempuan dari India, Revathi Prabaharan, juga turut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut.

Para pengungsi yang tampil berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dan telah mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka memberi warna berbeda pada pertunjukan yang mengusung pesan pemberdayaan.

Trunk show tersebut dirancang untuk memperlihatkan bahwa busana dapat menjadi bagian dari perjalanan pemulihan diri. Setiap penampilan membawa cerita personal yang memperkuat makna acara.

Partisipasi para pengungsi dalam panggung mode ini menjadi bentuk pengakuan atas bakat mereka. Mereka ditempatkan sebagai subjek kreatif, bukan sekadar penerima bantuan.

Narasi Baru Lewat Fashion

Melalui tangan Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, Mishka Project mengubah cara pandang terhadap pengungsi. Sosok yang sering dianggap berada dalam situasi sulit ditampilkan sebagai pribadi yang berdaya dan bertalenta.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa industri fashion dapat membantu membangun narasi yang lebih manusiawi. Dalam konteks ini, pakaian dan presentasi visual menjadi alat untuk menegaskan martabat perempuan.

Makaila Haifa sebagai brand hijab dan modest wear lokal memanfaatkan kolaborasi ini untuk memperluas dampak sosialnya. Kehadiran UNHCR juga memperkuat pesan bahwa isu pengungsi membutuhkan dukungan lintas sektor.

Dengan menempatkan perempuan pengungsi di pusat perhatian, acara ini memberi ruang representasi yang lebih setara. Pesan yang disampaikan bukan hanya soal gaya, tetapi juga tentang keberanian untuk bangkit.

Karya dan Pesan Kemanusiaan

Selain trunk show, acara ini juga menghadirkan pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperluas cakupan ekspresi seni yang ditampilkan dalam perhelatan itu.

Pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh meski dalam kondisi yang tidak mudah. Melalui medium visual, para peserta menyampaikan pandangan dan pengalaman hidup mereka.

Kombinasi mode dan seni menjadikan acara ini lebih dari sekadar pertunjukan busana. Ada pesan kemanusiaan yang kuat mengenai ketahanan, identitas, dan harapan.

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR juga mempertegas pentingnya ruang inklusif bagi perempuan pengungsi. Dari panggung ini, publik diajak melihat bahwa mereka memiliki potensi untuk terus berkembang dan memberi inspirasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!