Makaila Haifa dan UNHCR Angkat Perempuan Pengungsi Lewat Fashion

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 19:50 WIB 2
Makaila Haifa dan UNHCR Angkat Perempuan Pengungsi Lewat Fashion

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menempatkan perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan sebagai model sekaligus seniman dalam sebuah panggung apresiasi. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang berat dapat bertransformasi menjadi karya dan daya juang.

Melalui trunk show bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving – Mishka Project by Makaila Haifa, para peserta tampil membawa narasi ketangguhan. Lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana dari India, Revathi Prabaharan, tampil membawakan koleksi yang dikurasi secara khusus. Pameran karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan turut melengkapi rangkaian acara.

Kolaborasi Fashion dan Kemanusiaan

Makaila Haifa dan UNHCR menghadirkan kolaborasi yang memadukan fashion dengan pesan kemanusiaan. Acara ini dirancang untuk memberi ruang bagi perempuan pengungsi agar tampil di depan publik dengan identitas dan karya mereka sendiri. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa mode dapat menjadi medium advokasi yang kuat.

Kehadiran Mishka Project menambah dimensi artistik dalam acara ini. Inisiatif tersebut mengangkat pengalaman para pengungsi perempuan yang kerap dipandang dari sisi kerentanan, lalu menempatkannya sebagai sumber kekuatan. Dengan cara ini, panggung fashion berubah menjadi ruang representasi yang lebih inklusif.

Kolaborasi itu juga memperlihatkan peran brand lokal dalam membawa isu global ke ruang yang lebih dekat dengan masyarakat. Makaila Haifa memanfaatkan identitasnya sebagai label hijab dan modest wear untuk menyampaikan pesan pemberdayaan. Langkah tersebut memperkuat hubungan antara industri fashion dan kepedulian sosial.

Panggung Bagi Perempuan Pengungsi

Dalam trunk show ini, para perempuan pengungsi dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan tampil sebagai model utama. Mereka memperagakan busana dengan percaya diri, sambil membawa kisah perjalanan hidup masing-masing. Penampilan itu menunjukkan bahwa pengalaman pengungsian tidak menghapus potensi untuk berkarya.

Selain tampil di atas panggung, sebagian peserta juga menampilkan ekspresi seni melalui karya visual. Pameran fashion painting memberi kesempatan bagi mereka untuk memperlihatkan bakat di luar peran sebagai model. Kehadiran karya tersebut memperkaya pengalaman penonton sekaligus memperluas makna dari pertunjukan fashion.

Partisipasi perempuan dari berbagai negara menjadikan acara ini lebih beragam dan penuh perspektif. Penyelenggara ingin menghadirkan gambaran bahwa perempuan pengungsi memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam ruang kreatif. Pesan tersebut menguatkan semangat solidaritas lintas latar belakang.

Makna Resiliensi Dalam Busana

Judul Women’s Resilience: From Surviving to Thriving dipilih untuk menekankan proses bangkit dari situasi sulit. Tema itu menyoroti kemampuan perempuan untuk bertahan, lalu berkembang melalui dukungan dan kesempatan yang tepat. Dalam konteks acara ini, busana menjadi simbol perjalanan menuju pemulihan dan kemandirian.

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, disebut mengubah narasi pengungsi yang sering dianggap serba terbatas menjadi sosok yang berdaya. Melalui Mishka Project, ia mendorong pendekatan yang lebih manusiawi terhadap para pengungsi perempuan. Upaya tersebut menempatkan kreativitas sebagai jalan untuk membangun kepercayaan diri.

Pesan resiliensi yang dibawa acara ini terasa relevan dengan momentum Hari Perempuan Internasional. Perempuan tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pembawa karya dan gagasan. Narasi ini memberi sudut pandang baru tentang pemberdayaan yang berbasis penghormatan terhadap martabat.

Dampak dan Harapan Ke Depan

Acara ini diharapkan membuka ruang yang lebih luas bagi kolaborasi antara industri kreatif dan lembaga kemanusiaan. Kehadiran publik dalam kegiatan semacam ini dapat memperbesar perhatian terhadap isu pengungsi perempuan. Selain itu, inisiatif tersebut juga mendorong terciptanya ekosistem yang lebih inklusif di dunia fashion.

Bagi para peserta, kesempatan tampil di panggung menjadi pengalaman yang bermakna. Mereka tidak hanya memperlihatkan busana, tetapi juga memperkenalkan identitas, bakat, dan keteguhan hati. Pengalaman itu berpotensi menjadi modal penting untuk membangun masa depan yang lebih stabil.

Dengan menggabungkan fashion, seni, dan pesan kemanusiaan, Makaila Haifa serta UNHCR menunjukkan bahwa perayaan Hari Perempuan Internasional dapat dikemas secara lebih substansial. Acara ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dapat diwujudkan melalui ruang ekspresi yang nyata. Dari panggung tersebut, harapan baru bagi para pengungsi perempuan pun ikut tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!