Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet Rp5 Juta dari We.Eats

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 02:18 WIB 3
Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet Rp5 Juta dari We.Eats

Mahasiswi asal Palangka Raya, Windy Maulidya, berhasil mengubah tugas kuliah menjadi peluang usaha yang menghasilkan. Melalui bisnis kuliner kekinian bernama We.Eats, perempuan berusia 23 tahun itu membangun usaha sejak September 2023 dan kini menikmati omzet bersih hingga Rp5 juta per bulan.

Windy memulai langkahnya saat menempuh kuliah di jurusan bisnis, yang membuatnya melihat peluang untuk merintis usaha sambil belajar. Berbekal kegemaran memasak, promosi media sosial, dan strategi penjualan bertahap, ia mengembangkan We.Eats dari sistem pre-order kecil hingga bisa dipesan setiap hari.

Bisnis kuliner dari tugas kuliah

Windy Maulidya menilai tugas-tugas kuliah yang ia jalani sangat relevan dengan keinginannya membangun usaha. Dari sana, muncul ide untuk merintis bisnis kuliner yang dapat dijalankan tanpa meninggalkan aktivitas akademik. Ia mulai memikirkan konsep usaha itu sejak September 2023. Keputusan tersebut kemudian menjadi titik awal lahirnya We.Eats.

Kecintaannya pada dunia masak memperkuat keyakinan Windy untuk menekuni usaha di bidang kuliner. Ia melihat bisnis makanan sebagai peluang yang dekat dengan minat pribadi dan kebutuhan pasar. Dengan pendekatan itu, ia lebih mudah menyusun menu dan strategi penjualan. Langkah awal tersebut membuat usahanya terasa lebih terarah.

Windy memulai bisnis dari lingkar pertemanan terdekat, dengan sistem pre-order yang sederhana. Cara itu membantunya menguji respons pasar tanpa perlu menanggung risiko besar di awal. Seiring waktu, pesanan mulai berdatangan secara rutin melalui promosi digital. Dari situ, We.Eats berkembang menjadi usaha yang lebih dikenal pelanggan.

Strategi promosi di media sosial

Pada tahap awal, Windy hanya membuka penjualan melalui sistem pre-order untuk teman-teman dekat. Metode tersebut membuat dirinya bisa mengatur produksi sesuai jumlah pesanan yang masuk. Ia juga dapat menjaga kualitas makanan tetap konsisten. Strategi ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha.

Promosi melalui media sosial kemudian memperluas jangkauan We.Eats secara signifikan. Pesanan yang semula datang dari orang terdekat mulai bertambah karena konten dan informasi produk mudah diakses. Windy menyebut usaha itu kini bisa dipesan setiap hari. Layanannya juga tersedia melalui GoFood dan Instagram.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pemasaran digital dapat menjadi penggerak utama usaha kecil. Dengan modal promosi yang relatif ringan, pelaku usaha dapat menjangkau konsumen lebih luas. Windy memanfaatkan kanal online untuk menjaga arus pesanan tetap stabil. Cara ini membantu bisnisnya bertahan di tengah persaingan kuliner yang ketat.

Modal kecil, hasil bertahap

Dalam memulai usaha, Windy hanya membutuhkan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Dana itu digunakan untuk membeli bahan baku harian di pasar agar produksi tetap berjalan. Adapun peralatan masak yang dipakai berasal dari dapur yang sudah ada. Skema ini membuat modal awalnya tetap terjangkau.

Ia tidak langsung membeli perlengkapan baru secara besar-besaran, melainkan mengembangkan usaha secara bertahap. Menurut Windy, pertumbuhan We.Eats terjadi selangkah demi selangkah melalui pembelian bahan, peralatan, dan fasilitas tambahan. Pola tersebut membuat arus keuangan usaha lebih terkendali. Dengan begitu, bisnis bisa tumbuh tanpa tekanan berlebihan.

Untuk memberi gambaran, berikut ringkasan perkembangan usaha yang ia jalankan.

AspekKeterangan
Nama usahaWe.Eats
Mulai usahaSeptember 2023
Modal awalRp1 juta-Rp3 juta
Omzet bersihHingga Rp5 juta per bulan

Tantangan dan peluang usaha

Seiring meningkatnya pesanan, Windy mulai menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini ia hanya dibantu satu karyawan untuk memasak dan menyiapkan produk. Kondisi itu membuatnya sesekali kewalahan ketika pesanan datang dalam jumlah besar. Ia pun harus menjaga ritme produksi agar layanan tetap tepat waktu.

Ketika pesanan di pesan langsung dan GoFood terlalu banyak, Windy terpaksa membatasi jumlah order yang masuk. Bahkan, layanan di platform tertentu bisa dimatikan sementara agar proses produksi tetap terkontrol. Langkah tersebut diambil demi menjaga pelanggan yang sudah memesan tidak menunggu terlalu lama. Bagi Windy, ketepatan waktu menjadi bagian penting dari kepuasan konsumen.

Meski menghadapi keterbatasan, We.Eats tetap menunjukkan potensi yang menjanjikan. Windy membuktikan bahwa usaha kecil dapat berkembang jika dijalankan dengan disiplin dan strategi yang tepat. Modal yang tidak besar bukan penghalang untuk memulai bisnis. Dari tugas kuliah, ia kini mampu membangun sumber penghasilan yang nyata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!