Mahasiswi Palangka Raya Raih Omzet dari Usaha Kuliner We.Eats

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 15:03 WIB 3
Mahasiswi Palangka Raya Raih Omzet dari Usaha Kuliner We.Eats

Seorang mahasiswi asal Palangka Raya, Windy Maulidya, berhasil mengembangkan usaha kuliner kekinian bernama We.Eats sejak 2023. Bisnis yang berawal dari tugas kuliah itu kini tumbuh menjadi sumber pundi-pundi rupiah, dengan omzet bersih mencapai Rp5 juta per bulan.

Windy memulai usahanya dari minat pada dunia bisnis dan hobi memasak, lalu membangun penjualan secara bertahap melalui sistem pre-order dan promosi media sosial. Dengan modal awal hanya Rp1 juta hingga Rp3 juta, ia kini melayani pesanan harian melalui GoFood dan Instagram.

Awal Usaha Kuliner Windy

Windy mengaku ide membangun usaha muncul pada September 2023, saat ia masih menempuh pendidikan di jurusan bisnis. Berbagai tugas kuliah yang berkaitan dengan dunia usaha membuatnya merasa lebih percaya diri untuk mulai berjualan.

Minatnya pada memasak ikut memperkuat keputusan itu, karena ia melihat peluang besar di sektor makanan kekinian. Dari sana, ia mulai menyusun konsep bisnis yang sederhana namun tetap menarik bagi pelanggan muda.

Pada tahap awal, Windy memilih sistem pre-order agar risiko bisa ditekan dan permintaan lebih mudah dipantau. Langkah itu juga membantunya memahami pola pembelian dari teman-teman terdekat yang menjadi pelanggan pertama.

Seiring waktu, promosi lewat media sosial membuat pesanan terus bertambah, hingga We.Eats mulai dikenal lebih luas. Dari yang semula hanya open PO, bisnis tersebut kini menerima pesanan setiap hari.

Modal Kecil Usaha Kuliner

Untuk memulai usaha, Windy hanya membutuhkan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Dana itu digunakan untuk membeli bahan baku harian di pasar dan menjaga kualitas produk tetap konsisten.

Sementara itu, peralatan masak yang dipakai sebagian besar sudah tersedia di dapur rumah. Kondisi tersebut membuat biaya awal lebih efisien dan memudahkan Windy menekan pengeluaran.

Ia menjalankan bisnis dengan pendekatan bertahap, mulai dari membeli bahan baku, lalu menambah peralatan dan fasilitas pendukung. Menurutnya, perkembangan usaha yang pelan tetapi stabil jauh lebih realistis untuk dijalankan mahasiswa.

Strategi ini juga membuat We.Eats tetap bisa bertahan tanpa beban operasional yang terlalu besar. Dengan perencanaan yang rapi, Windy mampu menjaga arus kas usaha tetap sehat.

Pemasaran Kuliner Lewat Digital

Sejak awal, media sosial menjadi saluran utama bagi Windy untuk memperkenalkan produk We.Eats. Ia memanfaatkan Instagram untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas dan membangun interaksi langsung.

Selain itu, layanan pesan antar seperti GoFood juga memperluas akses konsumen terhadap produknya. Kehadiran platform digital membuat usahanya lebih mudah ditemukan dan dipesan kapan saja.

Windy menilai promosi digital sangat penting karena tren kuliner kekinian bergerak cepat. Tanpa pemasaran yang konsisten, produk mudah tenggelam di tengah banyaknya pilihan serupa.

Meski begitu, ia tetap mengandalkan kedekatan dengan pelanggan sebagai kekuatan utama bisnisnya. Respons cepat di pesan langsung dan layanan yang ramah menjadi nilai tambah yang menjaga loyalitas pembeli.

Tantangan Usaha Kuliner Harian

Di balik pertumbuhan usahanya, Windy masih menghadapi kendala keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini, ia hanya dibantu satu karyawan untuk memasak dan menyiapkan produk.

Kondisi tersebut membuatnya kerap kewalahan ketika pesanan masuk dalam jumlah besar. Untuk menjaga kualitas layanan, ia terpaksa membatasi jumlah order pada waktu-waktu tertentu.

Windy bahkan sesekali menonaktifkan pesanan di GoFood saat permintaan dari pesan langsung terlalu tinggi. Langkah itu diambil agar pesanan yang sudah masuk tetap bisa diproses tepat waktu.

Meski menghadapi tantangan, ia terus berupaya menjaga ritme usaha agar tetap stabil. Bagi Windy, konsistensi layanan dan kepuasan pelanggan menjadi kunci utama keberlanjutan We.Eats.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!