Luhut: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Tangguh

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 17:34 WIB 4
Luhut: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Tangguh

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat meski sedang menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menyampaikan pandangan itu dalam acara ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

Luhut juga menyoroti kondisi fiskal yang tetap terjaga, dengan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Maret 2026 sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi nasional masih mampu bertahan di tengah gejolak global.

Ekonomi Indonesia Masih Tangguh

Luhut menegaskan bahwa tekanan yang datang dari luar negeri tidak otomatis melemahkan daya tahan ekonomi nasional. Ia menilai situasi saat ini memang menantang, namun tidak cukup untuk menggoyahkan fondasi perekonomian Indonesia. Menurut dia, stabilitas yang terjaga menunjukkan kerja tim ekonomi pemerintah berjalan baik. Ia menyebut defisit fiskal yang rendah sebagai salah satu indikator penting dari ketahanan tersebut.

Dalam forum itu, Luhut menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia masih berada di jalur yang tepat. Ia mengaku optimistis karena sejumlah indikator makro menunjukkan kondisi yang relatif terkendali. Pelemahan rupiah dan tekanan pada pasar saham disebut sebagai bagian dari dinamika pasar, bukan tanda keruntuhan ekonomi. Hal itu, menurut dia, perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Luhut menambahkan bahwa pengalaman menghadapi tekanan serupa telah membentuk ketahanan ekonomi Indonesia. Ia menilai pemerintah selama ini tidak pernah gagal memenuhi tanggung jawab keuangannya. Karena itu, ia meminta publik dan investor tetap melihat prospek Indonesia secara rasional. Baginya, kepercayaan terhadap kapasitas fiskal menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas.

Fiskal Tetap Menjadi Penopang

Luhut menyoroti defisit APBN yang berada pada level rendah sebagai sinyal positif bagi pasar. Per 31 Maret 2026, defisit tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB. Ia menyebut angka tersebut masih dalam batas yang aman untuk menopang kebutuhan belanja negara. Kondisi itu juga dinilai membantu pemerintah menjaga ruang fiskal tetap sehat.

Menurut Luhut, pengelolaan fiskal yang hati-hati menjadi salah satu alasan ekonomi Indonesia tetap kuat. Ia menilai disiplin anggaran penting untuk mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global. Dalam pandangannya, pasar akan lebih tenang ketika melihat pemerintah mampu menjaga defisit tetap rendah. Karena itu, kinerja fiskal disebut sebagai fondasi utama dalam menghadapi tekanan eksternal.

Ia juga menekankan bahwa penguatan fiskal perlu diiringi konsistensi kebijakan ekonomi. Tanpa itu, kepercayaan pasar bisa mudah terganggu oleh sentimen jangka pendek. Luhut menyebut strategi pemerintah harus mampu menahan dampak volatilitas nilai tukar dan arus modal keluar. Dengan begitu, ekonomi nasional dapat tetap bergerak meski kondisi global masih bergejolak.

Ajakan Investasi Indonesia

Luhut mengungkapkan bahwa dirinya sempat berbicara dengan sejumlah investor besar di Singapura. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan bahwa Indonesia tidak pernah gagal memenuhi tanggung jawab keuangannya. Ia juga menegaskan bahwa negara masih memiliki kemampuan untuk bangkit dari tekanan. Pesan itu, menurut dia, penting agar investor melihat Indonesia secara lebih percaya diri.

Ia menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan modal di Indonesia. Meski mengakui ada tekanan ekonomi, Luhut menolak pandangan bahwa kondisi tersebut akan membuat Indonesia runtuh. Ia meyakini pemulihan tetap mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Keyakinan itu ia dasarkan pada sejarah ketahanan ekonomi nasional.

Dalam pandangannya, investor perlu melihat peluang jangka panjang, bukan hanya gejolak sesaat di pasar. Luhut menyebut Indonesia memiliki kapasitas untuk pulih dan kembali tumbuh. Ia menegaskan bahwa fundamental yang kuat akan membantu negara melewati masa sulit. Karena itu, ia mendorong investor untuk tidak ragu membaca prospek Indonesia secara lebih optimistis.

Permintaan Domestik Jadi Pendorong

Luhut percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan ditopang oleh permintaan domestik yang terus meningkat. Ia menilai kekuatan konsumsi dalam negeri menjadi salah satu motor utama pemulihan. Dalam situasi global yang belum stabil, dukungan dari pasar domestik dinilai semakin penting. Faktor ini disebut dapat menjaga laju ekonomi tetap positif.

Salah satu program yang diyakini bisa mendorong permintaan domestik adalah makan bergizi gratis (MBG). Luhut menyebut program tersebut sebagai proyek yang sangat baik karena memiliki dampak luas. Menurut dia, kebijakan yang menyentuh masyarakat secara langsung dapat memberi efek ekonomi berantai. Dampak itu tidak hanya terasa pada sektor sosial, tetapi juga pada aktivitas ekonomi.

Meski demikian, Luhut menilai pelaksanaan program tetap perlu dievaluasi secara berkala. Ia menekankan bahwa kualitas implementasi menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar optimal. Dengan pelaksanaan yang tepat, program tersebut dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Luhut pun tetap yakin Indonesia bisa bangkit kembali melalui kombinasi fiskal yang sehat dan permintaan domestik yang kuat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!