Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 08:21 WIB 4
Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Aktris Hollywood Lucy Liu mengungkap pengalaman pribadi yang mengejutkan, setelah sempat didiagnosis kanker payudara secara keliru pada 1990-an. Dalam wawancara dengan PEOPLE, bintang berusia 57 tahun itu menceritakan bagaimana ia menemukan benjolan di payudaranya dan langsung menjalani tindakan medis. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting tentang pentingnya deteksi dini dan keberanian untuk meminta pendapat kedua. Kini, ia menggunakan pengaruhnya untuk mendorong kesadaran publik terhadap skrining kanker.

Lucy Liu menjelaskan bahwa saat itu informasi kesehatan belum semudah diakses seperti sekarang, sehingga ia sepenuhnya mengandalkan penilaian dokter. Ia mengaku dokter hanya meraba benjolan tersebut, lalu menyatakan bahwa itu adalah kanker tanpa pemeriksaan lanjutan. Tidak ada ultrasound atau mammogram yang dilakukan sebelum keputusan medis diambil. Setelah itu, ia menjalani operasi untuk mengangkat benjolan tersebut, sebelum akhirnya mengetahui bahwa hasil diagnosis itu tidak tepat.

Pengalaman Kanker Lucy Liu

Lucy Liu mengingat kembali momen ketika dirinya mendapati benjolan di payudara dan memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter. Pada masa itu, ia menilai langkah tersebut sebagai keputusan paling masuk akal karena informasi kesehatan masih terbatas. Ia pun menerima penjelasan dokter tanpa banyak pertanyaan tambahan. Sikap itu membuatnya bergerak cepat untuk menjalani operasi.

Namun, keputusan medis yang diambil saat itu ternyata tidak didasarkan pada pemeriksaan penunjang yang memadai. Menurut pengakuannya, tidak ada tes lanjutan seperti ultrasound atau mammogram sebelum diagnosis disampaikan. Kondisi itu menunjukkan bagaimana keterbatasan akses informasi bisa memengaruhi keputusan pasien. Ia kemudian menyadari bahwa keyakinan penuh pada diagnosis awal tidak selalu cukup.

Beberapa dekade setelah peristiwa itu, Lucy Liu menilai pengalaman tersebut sebagai awal dari pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri dalam dunia medis. Ia mengaku sempat menerima diagnosis itu sebagai kebenaran mutlak karena menganggap dokter pasti mengetahui yang terbaik. Meski teman dekatnya menyarankan untuk mencari pendapat kedua, ia kala itu belum merasa perlu melakukannya. Bagi Lucy, kejadian itu menjadi pengingat bahwa pasien juga perlu aktif dalam proses kesehatan.

Belajar Minta Pendapat Kedua

Lucy Liu menuturkan bahwa pada masa tersebut ia belum terbiasa mempertanyakan keputusan medis yang diterimanya. Ia merasa dokter sudah memiliki otoritas penuh atas kondisi kesehatannya. Karena itu, ia tidak mencari verifikasi tambahan atas diagnosis yang diberikan. Keputusan itu kini ia lihat sebagai hal yang wajar pada masa ketika literasi kesehatan belum berkembang seperti sekarang.

Ia juga menyoroti betapa pentingnya keberanian untuk bertanya dan meminta klarifikasi, terutama ketika berhadapan dengan hasil pemeriksaan yang serius. Menurutnya, pasien perlu memahami bahwa pendapat kedua dapat membantu memastikan diagnosis lebih akurat. Langkah itu bukan bentuk ketidakpercayaan, melainkan bagian dari perlindungan diri. Dalam kasusnya, pendapat kedua mungkin bisa mengubah arah tindakan medis yang diambil.

Pengalaman itu membuat Lucy lebih peka terhadap pentingnya komunikasi antara pasien dan tenaga medis. Ia menilai bahwa keputusan kesehatan seharusnya tidak hanya bertumpu pada satu penilaian singkat. Pemeriksaan tambahan dapat memberi gambaran yang lebih jelas sebelum tindakan besar dilakukan. Dari situ, ia belajar bahwa informasi adalah bagian penting dari keselamatan pasien.

Skrining Kanker Jadi Sorotan

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang skrining kanker. Melalui kampanye itu, ia ingin mendorong orang agar lebih peduli terhadap pemeriksaan dini. Ia menilai skrining bukan sekadar prosedur medis, tetapi langkah penting untuk mengenali potensi penyakit sejak awal. Menurutnya, semakin cepat seseorang memeriksa diri, semakin besar peluang untuk mengambil tindakan tepat.

Lucy menekankan bahwa edukasi kesehatan harus mudah dipahami agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan. Ia menyebut banyak orang enggan menjalani skrining karena takut mengetahui hasilnya atau terlalu sibuk dengan aktivitas harian. Padahal, keterlambatan pemeriksaan dapat membuat risiko semakin besar. Karena itu, ia mendorong publik untuk lebih proaktif terhadap kondisi tubuh sendiri.

Dalam pesannya, Lucy ingin orang memahami bahwa advokasi diri adalah bagian dari menjaga kesehatan. Ia menilai setiap orang berhak memperoleh informasi yang jelas dan akurat sebelum mengambil keputusan medis. Pengalaman pribadinya menjadi contoh bahwa rasa waspada bisa menyelamatkan seseorang dari kesimpulan yang keliru. Bagi Lucy, pengetahuan dan keberanian bertanya adalah dua kunci utama dalam menghadapi isu kesehatan.

Pesan untuk Deteksi Dini

Lucy Liu menegaskan bahwa penting bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kecil pada tubuh. Benjolan, nyeri, atau gejala lain perlu diperiksa sejak awal agar tidak menimbulkan risiko lebih besar. Ia juga mengingatkan bahwa pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan masalah kesehatan pada tahap lebih awal. Dengan begitu, peluang penanganan yang efektif menjadi lebih terbuka.

Menurutnya, kemajuan teknologi kesehatan saat ini seharusnya memudahkan orang untuk mencari informasi yang benar. Namun, kemudahan itu tetap perlu diimbangi dengan kesadaran untuk bertindak. Banyak orang mengetahui pentingnya pemeriksaan, tetapi tetap menunda karena berbagai alasan. Lucy menilai kebiasaan menunda inilah yang perlu diubah melalui edukasi dan kesadaran publik.

Pengalaman Lucy Liu menjadi pengingat bahwa diagnosis medis harus disertai pemeriksaan yang menyeluruh dan komunikasi yang jelas. Ia berharap kisahnya bisa membantu orang lain lebih percaya diri untuk bertanya, memeriksa, dan mencari pendapat tambahan. Dalam pandangannya, deteksi dini bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga soal keberanian melindungi diri sendiri. Pesan itu kini menjadi inti dari upayanya mengkampanyekan pentingnya skrining kanker.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!