Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 03:35 WIB 6
Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lucy Liu mengungkap pengalaman mengejutkan saat dirinya pernah didiagnosis kanker payudara, padahal hasil itu kemudian terbukti keliru. Kejadian tersebut terjadi pada era 1990-an, ketika akses informasi kesehatan masih terbatas dan ia sepenuhnya mengandalkan penjelasan dokter.

Aktris berusia 57 tahun itu menceritakan bahwa ia menemukan benjolan di payudaranya, lalu menjalani operasi pengangkatan setelah mendapat diagnosis kanker. Pengalaman itu kini ia gunakan untuk mengingatkan publik tentang pentingnya skrining, pencarian informasi, dan keberanian membela diri sendiri.

Lucy Liu dan diagnosis awal

Lucy Liu mengaku datang ke dokter setelah menemukan benjolan di payudaranya. Saat pemeriksaan, dokter meraba benjolan tersebut dan menyebutnya sebagai kanker.

Menurut Liu, saat itu tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram. Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi pada masa ketika informasi kesehatan belum semudah diakses seperti sekarang.

Ia pun tidak memiliki banyak rujukan selain penjelasan dari dokter yang memeriksanya. Dalam situasi itu, ia memilih mempercayai penilaian medis yang diterimanya.

Ketika mendengar diagnosis tersebut, Liu mengaku tidak terlalu memikirkannya. Namun, rasa takut tetap muncul karena pengetahuan yang tersedia saat itu sangat terbatas.

Operasi yang dijalani Lucy Liu

Setelah menerima diagnosis tersebut, Lucy Liu segera menjadwalkan operasi. Tindakan itu dilakukan untuk mengangkat benjolan dari payudaranya.

Keputusan itu diambil karena ia percaya pada hasil pemeriksaan awal. Ia mengira langkah tersebut adalah bagian dari penanganan medis yang diperlukan.

Belakangan, ia mengetahui bahwa benjolan yang diangkat itu bukan kanker. Fakta tersebut membuat pengalamannya menjadi pelajaran besar tentang pentingnya evaluasi medis yang lebih menyeluruh.

Pengalaman itu juga menegaskan bahwa diagnosis awal tidak selalu menjadi akhir dari proses medis. Karena itu, pemeriksaan tambahan seharusnya menjadi bagian penting dalam penanganan kasus serupa.

Pelajaran soal membela diri

Beberapa dekade setelah kejadian itu, Lucy Liu menilai pengalaman tersebut sebagai awal pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri. Ia menyadari bahwa pasien perlu aktif bertanya dan mencari kejelasan atas kondisi kesehatannya.

Liu mengatakan bahwa pada masa itu ia menerima diagnosis yang dianggap resmi tanpa banyak mempertanyakannya. Ia bahkan sempat berpikir bahwa meminta pendapat kedua tidak akan mengubah apa pun.

Menurutnya, pandangan itu lahir dari keyakinan bahwa dokter pasti mengetahui yang terbaik. Namun, pengalaman tersebut kemudian memperlihatkan bahwa kehati-hatian tambahan tetap diperlukan.

Ia juga menilai bahwa pendapat kedua dapat membantu pasien memahami kondisi secara lebih utuh. Langkah itu dapat mencegah keputusan medis yang terburu-buru atau kurang tepat.

Kampanye skrining kanker Lucy Liu

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters. Melalui kampanye itu, ia ingin mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker.

Ia menekankan bahwa skrining bukan sekadar tindakan medis, tetapi juga bentuk informasi dan advokasi. Menurutnya, pemahaman yang benar dapat membantu orang mengambil langkah yang lebih bijak terhadap kesehatan mereka.

Liu juga menyoroti bahwa teknologi kesehatan kini semakin berkembang, tetapi banyak orang tetap menunda pemeriksaan. Sebagian merasa takut mengetahui hasilnya, sementara yang lain terlalu sibuk untuk memprioritaskan skrining.

Melalui pengalamannya, ia berharap orang lain tidak mengabaikan tanda-tanda awal pada tubuh. Ia ingin publik menjadi pendukung terbesar bagi diri sendiri dengan tetap waspada dan proaktif terhadap kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!