Lucy Liu membagikan pengalaman pribadinya saat menjalani operasi pengangkatan benjolan di payudara setelah diduga sebagai kanker. Aktris Hollywood berusia 57 tahun itu mengaku keputusan tersebut diambil pada era 1990-an, ketika akses informasi kesehatan masih terbatas dan ia sepenuhnya mengandalkan penjelasan dokter.
Namun, diagnosis itu kemudian terbukti keliru setelah benjolan yang diangkat ternyata bukan kanker. Pengalaman tersebut kini kembali ia soroti sebagai pengingat pentingnya skrining, pendapat kedua, dan keberanian untuk membela diri sendiri dalam urusan kesehatan.
Pengalaman Lucy Liu
Dalam wawancara bersama PEOPLE, Lucy Liu mengungkapkan bahwa ia pertama kali memeriksakan benjolan di payudara pada 1990-an. Saat itu, dokter meraba benjolan tersebut dan menyatakan bahwa kondisi itu adalah kanker.
Ia menyebut, tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram yang dilakukan sebelum keputusan medis diambil. Di tengah keterbatasan informasi, Lucy memilih mempercayai diagnosis yang diterimanya.
Aktris pemeran The Devil Wears Prada 2 itu kemudian segera menjadwalkan operasi untuk mengangkat benjolan tersebut. Belakangan, hasilnya justru menunjukkan bahwa benjolan itu bukan kanker.
Lucy mengakui pengalaman itu terasa menakutkan karena pada masa tersebut internet belum menjadi sumber informasi yang mudah diakses. Situasi itu membuat banyak orang, termasuk dirinya, bergantung penuh pada penilaian dokter.
Pelajaran dari Diagnosis
Beberapa dekade setelah kejadian itu, Lucy Liu mulai merenungkan kembali apa yang dialaminya. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi awal dari pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri dalam proses perawatan kesehatan.
Menurut Lucy, saat itu ia menerima diagnosis yang dianggap resmi tanpa banyak mempertanyakannya. Ia bahkan tidak terpikir untuk mencari pendapat kedua, meski ada teman yang menyarankan langkah tersebut.
Ia mengaku sempat berpikir bahwa dokter pasti mengetahui apa yang mereka bicarakan. Sikap itu, menurutnya, sangat umum terjadi ketika pasien merasa tidak memiliki cukup pengetahuan untuk menilai kondisi sendiri.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi refleksi penting bagi Lucy mengenai hubungan antara pasien dan tenaga medis. Ia menyadari bahwa kepercayaan tetap perlu diimbangi dengan rasa ingin tahu dan keberanian bertanya.
Kampanye Kesadaran Kanker
Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters. Melalui inisiatif tersebut, ia ingin mendorong masyarakat untuk lebih memahami pentingnya skrining kanker dan deteksi dini.
Lucy menegaskan bahwa advokasi kesehatan bukan sekadar memperbaiki keadaan setelah masalah muncul. Menurutnya, yang lebih penting adalah memahami apa itu skrining dan bagaimana informasi yang tepat dapat membantu menyelamatkan hidup.
Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti perilaku proaktif dari masyarakat. Banyak orang tetap menunda pemeriksaan karena tidak ingin mengetahui ada sesuatu yang salah atau merasa terlalu sibuk.
Melalui platform publik yang dimilikinya, Lucy berharap pesan soal kesadaran kesehatan dapat menjangkau lebih banyak orang. Ia ingin masyarakat menjadikan pemeriksaan medis sebagai langkah penting, bukan sesuatu yang ditunda tanpa alasan jelas.
Pentingnya Pendapat Kedua
Kasus yang dialami Lucy Liu kembali menegaskan pentingnya mencari pendapat kedua ketika menghadapi diagnosis serius. Langkah tersebut dapat membantu pasien memperoleh gambaran yang lebih akurat sebelum mengambil keputusan medis besar.
Dalam banyak kasus, pemeriksaan tambahan seperti ultrasound, mammogram, atau tes lain dapat memberikan informasi yang lebih lengkap. Karena itu, pasien dianjurkan untuk aktif bertanya dan memahami setiap opsi yang diberikan dokter.
Deteksi dini juga memiliki peran besar dalam penanganan kanker, terutama pada tahap awal ketika peluang pemulihan biasanya lebih baik. Kesadaran untuk melakukan skrining secara rutin dapat menjadi pembeda dalam penanganan penyakit.
Pengalaman Lucy menjadi pengingat bahwa kesehatan membutuhkan keterlibatan aktif dari pasien. Dengan informasi yang tepat dan sikap kritis, masyarakat dapat lebih siap menghadapi risiko medis yang mungkin muncul.
