Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 01:33 WIB 2
Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, dan lingkungan. Sejumlah makanan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker tertentu, terutama jika dikonsumsi berlebihan dan diproses dengan cara yang tidak tepat.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, kebiasaan hidup, dan apa yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, memahami jenis makanan yang berpotensi memicu kanker menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan.

Makanan Pemicu Risiko Kanker

Daging olahan termasuk jenis makanan yang perlu diwaspadai karena melalui proses pengawetan, seperti pengasapan, pengasinan, atau pengalengan. Proses tersebut dapat membentuk senyawa karsinogen yang berbahaya bagi tubuh.

Contoh daging olahan yang umum dikonsumsi antara lain sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog. Kandungan nitrit pada pengawet daging juga dapat membentuk senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik.

Pengasapan daging dapat menghasilkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon atau PAH, yaitu zat yang berpotensi memicu kanker. Sebuah ulasan pada 2019 menyebutkan bahwa daging merah atau olahan dapat meningkatkan risiko kanker lambung.

Meski begitu, para peneliti masih memerlukan studi lanjutan untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara lebih rinci. Karena itu, konsumsi daging olahan sebaiknya dibatasi, terutama bila dikonsumsi dalam pola makan harian.

Risiko Dari Proses Memasak

Makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat membentuk akrilamida, terutama pada bahan bertepung. Senyawa ini kerap muncul saat makanan diproses melalui penggorengan, pemanggangan, atau pembakaran.

Kentang goreng dan keripik kentang adalah contoh makanan yang dapat mengandung akrilamida. Dalam penelitian pada hewan, zat ini terbukti bersifat karsinogenik dan dapat merusak DNA.

Studi tahun 2020 juga menunjukkan bahwa akrilamida dapat memicu apoptosis atau kematian sel. Selain itu, konsumsi makanan gorengan berlebihan berkaitan dengan obesitas dan diabetes tipe 2.

Kedua kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan stres oksidatif, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kanker. Oleh karena itu, cara memasak perlu diperhatikan agar paparan senyawa berbahaya bisa ditekan.

Bahaya Makanan Terlalu Matang

Memasak makanan terlalu lama, terutama daging, dapat menghasilkan zat karsinogenik yang tidak diinginkan. Pada suhu tinggi, daging dapat membentuk PAH dan heterocyclic amines atau HCA.

Kedua senyawa tersebut diketahui dapat mengubah DNA sel tubuh dan meningkatkan peluang munculnya kanker. Risiko serupa juga dapat terjadi ketika makanan bertepung dimasak terlalu lama.

Food and Drug Administration atau FDA menyebutkan bahwa kentang dan bahan bertepung lain yang dipanaskan berlebihan berisiko membentuk lebih banyak akrilamida. Kondisi ini membuat teknik memasak menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas makanan.

Untuk menekan risiko, masyarakat disarankan memilih metode memasak yang lebih aman, seperti merebus perlahan, menggunakan panci presto, atau memasak dengan suhu lebih rendah. Slow cooker juga dapat menjadi pilihan karena membantu mengurangi pembentukan zat berbahaya.

Pilihan Gula Dan Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan tidak selalu langsung memicu kanker, tetapi dapat meningkatkan faktor risiko secara tidak langsung. Jenis makanan ini antara lain roti putih, nasi putih, dan sereal manis.

Konsumsi gula dan pati yang tinggi dapat meningkatkan peluang terjadinya obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut berkaitan dengan peradangan dan stres oksidatif yang berpotensi memperbesar risiko kanker.

Sebuah tinjauan pada 2019 menyebutkan bahwa diabetes tipe 2 berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Karena itu, mengganti karbohidrat olahan dengan bahan yang lebih tinggi serat menjadi langkah yang lebih bijak.

Di sisi lain, alkohol juga perlu dibatasi karena tubuh memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik. Tinjauan tahun 2017 menjelaskan bahwa asetaldehida dapat merusak DNA, meningkatkan stres oksidatif, dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!