Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen tekstil dan garmen terbesar di dunia. Namun, sektor ini menghadapi ketidakpastian yang meluas, mulai dari dinamika pasar hingga dampak lingkungan yang semakin nyata. Sejauh Mata Memandang (SMM) bekerja sama dengan Ekspedisi Indonesia Baru menggelar pemutaran film dokumenter Menolak Punah untuk menyorot krisis sandang dan dampak limbah fesyen.
Dandhy Laksono, sutradara film, menyebut karya ini sebagai sekuel Plastic Island yang mengurai bagaimana impor kapas memengaruhi kesejahteraan penenun lokal, limbah industri, dan paparan mikroplastik. Penayangan ini menghadirkan sudut pandang ahli seperti Lynda Ibrahim untuk memperkaya diskusi. Film ini dihadirkan agar isu yang selama ini terabaikan dapat dibicarakan secara luas.
Krisis Sandang dan Sampah Fesyen
Film Menolak Punah menyoroti kenyataan bahwa Indonesia masih mengimpor 99% kebutuhan kapasnya. Ketergantungan ini berdampak pada keseimbangan penenun lokal dan ketahanan rantai pasok fesyen nasional. Dandhy Laksono menekankan bahwa risetnya mengaitkan krisis sandang dengan limbah tekstil dan paparan mikroplastik dari pakaian sintetis.
Kapas dipandang sebagai simbol nasional yang tercantum dalam lambang Garuda Pancasila pada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Film ini menyoroti impor kapas sebagai tantangan bagi penenun lokal dan dampak lingkungan akibat limbah. Hasil riset menunjukkan masalah ini meluas hingga paparan mikroplastik pada tubuh melalui pakaian sintetis.
Karya ini dibuat untuk membangkitkan perbincangan publik tentang krisis sandang yang selama ini terabaikan. Penayangan ini diadakan untuk mendorong diskusi kebijakan yang lebih ramah lingkungan di industri fesyen. Para ahli, termasuk Lynda Ibrahim, turut mengemukakan pandangan untuk memperluas wacana tersebut.
Pengamat Fashion, Lynda Ibrahim, menilai bahwa salah satu penyebab utama tumpukan sampah fesyen adalah perilaku overconsumption di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa permintaan tinggi terhadap produk pakaian berbahan kurang ramah lingkungan memicu produksi yang tetap meningkat. Kebiasaan membeli pakaian untuk sekali pakai kemudian dibuang menjadi kontributor besar sampah fesyen di Indonesia.
Chitra Subyakto membagikan tiga kebiasaan baik untuk mengurangi sampah fesyen. Pertama, memilih produk yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan. Kedua, memperpanjang usia pakaian melalui perawatan dan perbaikan, ketiga, membatasi pembelian dengan fokus pada kebutuhan.
Terlihat bahwa kolaborasi antara SMM dan Ekspedisi Indonesia Baru dinilai sebagai langkah awal menuju industri fesyen yang lebih bertanggung jawab. Karya ini diharapkan memicu kolaborasi lintas sektor untuk menekan impor kapas dan mengelola limbah. Para pemangku kepentingan diundang untuk mengambil pelajaran dari film ini dalam kebijakan dan praktik sehari-hari.
