Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen di dalam tubuh akan menurun, sehingga banyak orang mulai mencari cara untuk menjaganya. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi wanita usia 25 tahun ke atas, karena kolagen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, kelembapan, sendi, dan tulang.
Dokter spesialis yang ditemui dalam acara peluncuran produk kesehatan di Jakarta Selatan menegaskan bahwa manfaat kolagen tidak berhenti pada tampilan kulit. Selain membantu regenerasi kulit, kolagen juga mendukung gaya hidup aktif karena berhubungan erat dengan kesehatan sendi dan ketahanan tubuh saat berolahraga.
Kolagen untuk kulit sehat
Kolagen merupakan protein penting yang menyusun jaringan tubuh, termasuk kulit, tulang, dan sendi. Saat produksinya menurun, kulit dapat kehilangan kekenyalan dan tampak lebih mudah menunjukkan tanda penuaan. Karena itu, banyak orang mulai memberi perhatian lebih pada asupan kolagen sejak usia dewasa awal.
Menurut dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, kolagen membantu menjaga tubuh tetap kuat untuk bergerak aktif. Dengan sendi dan tulang yang terjaga, olahraga rutin akan terasa lebih nyaman dilakukan. Hal ini penting bagi mereka yang ingin mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Manfaat kolagen juga kerap dikaitkan dengan kulit yang tampak lebih terhidrasi dan elastis. Meski demikian, hasilnya tetap dipengaruhi oleh kondisi tubuh masing-masing serta pola hidup sehari-hari. Karena itu, konsumsi kolagen sebaiknya tidak dipandang sebagai solusi tunggal.
Vitamin C bantu produksi kolagen
Produksi kolagen dalam tubuh dapat didukung oleh asupan vitamin C yang cukup. Vitamin ini berperan sebagai pendukung pembentukan kolagen sekaligus membantu penyerapannya di dalam tubuh. Dengan demikian, kebutuhan kolagen tidak hanya bergantung pada suplemen, tetapi juga pada kecukupan nutrisi harian.
Spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika menjelaskan bahwa vitamin C bisa diperoleh dari makanan sehari-hari. Namun, dalam kondisi aktivitas yang padat, kebutuhan harian kadang lebih sulit terpenuhi hanya dari pola makan. Suplemen vitamin C tambahan dapat menjadi pilihan karena kandungannya terukur dengan baik.
Bagi masyarakat perkotaan yang memiliki ritme hidup cepat, pemenuhan vitamin dari makanan sering kali tidak konsisten. Karena itu, suplementasi kerap dianggap lebih praktis untuk menjaga asupan tetap stabil. Meski begitu, pemilihan produk tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Cara konsumsi yang tepat
Tidak ada waktu khusus yang wajib diikuti untuk mengonsumsi suplemen kolagen maupun vitamin C. Keduanya dapat diminum sesuai aktivitas harian dan kenyamanan masing-masing orang. Yang terpenting adalah konsistensi agar asupan tetap terjaga.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal, konsumsi suplemen perlu diimbangi dengan pola hidup sehat. Tidur yang cukup, olahraga rutin, dan manajemen stres yang baik menjadi bagian penting dalam mendukung regenerasi tubuh. Kombinasi ini membantu proses pembentukan kolagen berjalan lebih baik.
Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi menilai bahwa tiga kebiasaan tersebut memiliki peran besar dalam menjaga tubuh tetap pulih dan bugar. Saat kualitas tidur baik, tubuh memiliki waktu memadai untuk memperbaiki jaringan. Kondisi ini turut mendukung produksi kolagen secara alami.
Tanda tubuh kekurangan kolagen
Kekurangan kolagen sering kali tidak langsung terlihat secara jelas pada tahap awal. Namun, ketika tubuh mulai sering merasa nyeri atau lebih mudah cedera, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda. Gejala ini perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang aktif bergerak.
Selain nyeri dan cedera ringan, tanda lain yang dapat muncul adalah stretch mark pada kulit. Kondisi ini umumnya terlihat sebagai garis-garis pada kulit yang tampak pecah-pecah, dan sering dialami ibu hamil maupun orang dengan kenaikan berat badan. Munculnya stretch mark berkaitan dengan menurunnya elastisitas kulit.
Menjaga ketebalan kolagen pada kulit dapat membantu mengurangi risiko terbentuknya stretch mark. Namun, jika stretch mark sudah terlanjur muncul, konsumsi makanan atau suplemen kolagen saja tidak cukup untuk menghilangkannya. Dalam kondisi tersebut, tindakan medis seperti laser oleh dokter profesional dapat menjadi opsi perawatan.
