Kisah UliMus, Usaha Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 02:16 WIB 4
Kisah UliMus, Usaha Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Peluang usaha sering kali lahir dari kebutuhan sederhana di rumah, dan hal itu dialami Romauli Sri Astuti Sitoris, 40 tahun, saat mendirikan UliMus pada 2022. Berawal dari sang anak yang tidak menyukai bawang goreng, ia kemudian mengolah bahan tersebut menjadi camilan crispy yang lebih menarik dan bernilai jual.

Inovasi itu awalnya dibuat untuk bekal anaknya yang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Parung pada awal 2020. Siapa sangka, kebiasaan membawa bawang goreng rasa barbeque dan balado ke pesantren justru membuka peluang rezeki baru bagi pelaku usaha asal Sumatera tersebut.

Awal Usaha Bawang Goreng

Uli, sapaan akrab Romauli, mulai menyadari potensi bisnis dari produk buatannya ketika anaknya menyukai olahan bawang goreng tersebut. Setiap kali berkunjung ke pesantren, ia membawa stok lebih banyak untuk dititipkan kepada anaknya. Produk itu kemudian ikut dijual kepada teman-teman sang anak yang tertarik mencoba. Dari situ, permintaan mulai terlihat dan memberikan sinyal positif bagi usaha rumahan itu.

“Alhamdulillah anak jadi suka. Tiap bulan saya ke pesantren bawa bawang goreng rasa barbeque, rasa balado,” ujar Uli. Ia menambahkan, teman-teman anaknya juga ikut membeli karena menyukai rasa dan teksturnya. Kondisi tersebut membuatnya semakin yakin bahwa produknya memiliki pasar.

Kesempatan bertemu langsung dengan calon pembeli di pesantren menjadi titik awal berkembangnya UliMus. Setiap kunjungan bulanan, ia membawa stok yang lebih banyak untuk mengantisipasi tingginya minat. Dari aktivitas sederhana itu, usaha yang awalnya hanya untuk keluarga mulai menghasilkan cuan. Uli kemudian melihat bahwa bawang goreng tidak hanya cocok sebagai pelengkap makanan, tetapi juga bisa menjadi camilan.

Dukungan Keluarga dan Modal

Langkah Uli menekuni usaha bawang goreng secara serius mendapat dukungan dari suaminya. Saat itu, usaha sang suami terdampak pandemi dan mengalami kebangkrutan. Untuk membantu menopang kebutuhan ekonomi keluarga, sang suami menyarankan agar Uli menjual bawang goreng. Saran tersebut kemudian menjadi keputusan penting bagi perjalanan usahanya.

Modal awal yang dimiliki Uli sangat terbatas, yakni kurang dari Rp500 ribu. Meski demikian, ia memilih untuk memulai lebih dulu daripada menunggu kondisi ideal. Ketekunan dalam memproduksi dan memasarkan produk membuat usahanya perlahan berkembang. Dari usaha kecil di rumah, ia mulai melihat peluang untuk tumbuh lebih besar.

Pada 2022, usaha itu akhirnya resmi memiliki legalitas dengan nama UliMus. Nama tersebut merupakan gabungan dari nama Uli dan suaminya, Mustofa. Legalitas ini menjadi langkah penting karena memberi kepercayaan lebih kepada konsumen. Selain itu, status resmi membantu usaha rumahan itu masuk ke jalur pengembangan yang lebih profesional.

Produk dan Keunikan UliMus

UliMus menawarkan bawang goreng crispy yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai camilan dan taburan makanan. Keunikan inilah yang membedakannya dari produk bawang goreng biasa di pasaran. Rasa yang variatif, seperti barbeque dan balado, membuat produknya lebih mudah diterima berbagai kalangan. Konsep tersebut juga memberi nilai tambah pada produk sederhana yang diolah dari rumah.

Inovasi rasa menjadi strategi penting agar produk tidak hanya bergantung pada satu pasar. Uli memanfaatkan preferensi keluarga dan anak-anak pesantren sebagai bahan uji pasar awal. Dari respons positif itu, ia terus menyempurnakan produk agar lebih menarik. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi kecil dapat menjadi pintu masuk bisnis yang menjanjikan.

Meski berawal dari skala rumah tangga, UliMus mampu membangun identitas produk yang jelas. Pengemasan, rasa, dan cerita di balik produk menjadi kekuatan utama dalam pemasaran. Konsumen tidak hanya membeli bawang goreng, tetapi juga membeli nilai kreativitas dan ketekunan. Hal itu membuat usaha ini memiliki daya saing di segmen kuliner rumahan.

Peran Binaan Rumah BUMN

Perkembangan UliMus tidak lepas dari dukungan pembinaan UMKM, termasuk melalui Rumah BUMN BRI. Pendampingan seperti ini biasanya membantu pelaku usaha kecil memahami penguatan bisnis, pemasaran, dan legalitas. Bagi pelaku UMKM, akses pembinaan menjadi faktor penting untuk naik kelas. Dukungan tersebut juga membuka peluang agar usaha lebih siap menghadapi persaingan.

Dalam tahap awal, banyak pelaku usaha menghadapi kendala modal, produksi, dan pemasaran. Uli mengalami hal serupa, tetapi memilih untuk terus bertahan dan menyesuaikan strategi. Langkah sederhana seperti memanfaatkan momen kunjungan ke pesantren terbukti efektif. Cara itu menunjukkan pentingnya kreativitas dalam membaca peluang pasar.

Kisah UliMus memperlihatkan bahwa usaha rumahan dapat berkembang ketika dikelola dengan konsisten dan berorientasi pada kebutuhan konsumen. Dari modal kecil, produk sederhana, hingga legalitas usaha, semua dijalani bertahap. Pengalaman ini menjadi contoh bahwa peluang bisnis bisa muncul dari lingkungan terdekat. Dengan ketekunan, produk dapur pun dapat berubah menjadi sumber penghasilan keluarga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!