Kisah UliMus, Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 18:34 WIB 6
Kisah UliMus, Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Romauli Sri Astuti Sitoris, perempuan berusia 40 tahun, membangun usaha bawang goreng crispy bernama UliMus pada 2022. Usaha ini lahir dari kebutuhan sederhana di rumah, ketika anaknya tidak menyukai bawang goreng sebagai pelengkap makanan. Dari situ, ia melihat peluang untuk mengolah bawang goreng menjadi camilan yang lebih menarik dan bernilai jual.

Inovasi tersebut kemudian terbukti memberi dampak nyata saat sang anak menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Parung pada awal 2020. Setiap kali berkunjung, Uli membawa stok bawang goreng rasa barbecue dan balado, lalu menitipkannya kepada anaknya untuk dijual. Cara sederhana itu justru membuka jalan rezeki dan membuat produknya dikenal lebih luas.

Bawang goreng crispy UliMus

Uli, sapaan akrabnya, mulai menyadari bahwa produk buatannya punya potensi bisnis yang menjanjikan. Ia melihat teman-teman anaknya ikut menyukai bawang goreng buatannya, lalu membeli produk tersebut. Dari situ, ia semakin percaya bahwa inovasi sederhana bisa menjadi sumber penghasilan keluarga.

Setiap jadwal kunjungan ke pesantren, Uli membawa lebih banyak stok untuk dititipkan. Produk yang awalnya hanya dicoba-coba di rumah mulai berputar sebagai barang jualan. Kebiasaan itu membuatnya memahami bahwa permintaan pasar bisa tumbuh dari konsistensi kecil yang dilakukan terus-menerus.

Ia mengaku merasa bersyukur karena usaha tersebut memberi hasil langsung bagi keluarga. Saat mengunjungi anaknya, ia tidak hanya bersilaturahmi tetapi juga memperoleh cuan dari penjualan produk. Pengalaman itu menjadi dorongan awal bagi Uli untuk lebih serius menekuni usaha bawang goreng crispy.

Nama UliMus dipilih dari gabungan nama Uli dan sang suami, Mustofa. Identitas itu menegaskan bahwa usaha tersebut dibangun sebagai kerja bersama keluarga. Dari awalnya sekadar pelengkap makanan, produk ini berubah menjadi camilan yang punya ciri khas tersendiri.

Modal kecil jadi peluang

Langkah Uli untuk berbisnis tidak lahir dalam kondisi ideal, karena usaha sang suami sempat terdampak pandemi. Pada 2020, usaha suaminya bangkrut dan keluarga perlu mencari sumber pemasukan baru. Dalam situasi itu, sang suami menyarankan agar Uli menjual bawang goreng yang memang disukai banyak orang.

Saran tersebut kemudian diikuti dengan keputusan untuk mulai berjualan secara serius dari rumah. Uli mengolah produknya dalam skala kecil sambil menyesuaikan kebutuhan pasar. Pilihan itu menjadi titik awal perjalanan UliMus sebagai UMKM rumahan yang terus berkembang.

Modal awal usaha ini pun sangat terbatas, yakni kurang dari Rp 500 ribu. Meski demikian, keterbatasan dana tidak menghalangi Uli untuk bereksperimen dan menjaga kualitas produk. Ia membuktikan bahwa usaha kecil tetap bisa bertahan selama dijalankan dengan tekun dan konsisten.

Perlahan, produksi bawang goreng crispy UliMus meningkat seiring bertambahnya permintaan. Produk yang bisa dinikmati sebagai camilan maupun taburan makanan menjadi daya tarik utama. Fleksibilitas itu membuat usahanya memiliki pasar yang lebih luas dibanding bawang goreng biasa.

Dukungan keluarga menguatkan

Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam perkembangan UliMus. Suami Uli tidak hanya memberi ide, tetapi juga mendukung keputusan untuk menjadikan usaha bawang goreng sebagai sumber penghasilan utama. Dalam kondisi ekonomi yang menantang, kerja sama keluarga menjadi modal sosial yang sangat berharga.

Uli juga melibatkan anaknya dalam proses penjualan di pesantren. Cara tersebut membuat produk lebih mudah dikenal oleh lingkungan sekitar, sekaligus mengajarkan nilai kemandirian kepada anak. Dari sini terlihat bahwa usaha rumahan dapat memberi manfaat ekonomi sekaligus pendidikan keluarga.

Kehadiran produk dengan rasa barbecue dan balado menambah variasi yang disukai konsumen. Inovasi rasa membuat bawang goreng tidak lagi dipandang sebagai bahan pelengkap semata. Dengan pendekatan ini, Uli berhasil memberi nilai tambah pada produk sederhana yang akrab di dapur masyarakat.

Pada 2022, usaha tersebut resmi memiliki legalitas dengan nama UliMus. Legalitas ini menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi usaha di tengah persaingan UMKM. Status resmi juga memberi peluang lebih besar untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Rumah BUMN BRI

Perjalanan UliMus turut berkaitan dengan pembinaan dari Rumah BUMN BRI. Pendampingan seperti ini penting bagi pelaku UMKM agar usaha kecil dapat naik kelas. Dengan dukungan yang tepat, produk rumahan berpeluang berkembang menjadi bisnis yang lebih terstruktur.

UMKM binaan umumnya membutuhkan akses pada pengetahuan usaha, pemasaran, dan penguatan legalitas. Dalam kasus UliMus, pembinaan menjadi penopang agar produksi dan penjualan dapat berjalan lebih stabil. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem pendukung sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan usaha kecil.

Kisah Uli memberikan gambaran bahwa peluang bisnis tidak selalu lahir dari modal besar. Ide sederhana, ketekunan, dan keberanian mencoba sering kali menjadi faktor yang paling menentukan. Dari rumah, ia membuktikan bahwa produk lokal dapat tumbuh menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi nyata.

UliMus kini menjadi contoh bagaimana kebutuhan keluarga dapat berubah menjadi peluang usaha yang berkelanjutan. Dari bawang goreng untuk anak yang tidak suka bawang goreng, lahirlah produk yang disukai banyak orang. Perjalanan itu mempertegas bahwa inovasi kecil dapat membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!