Kisah Salad Umma Bangkit Berkat KUR BRI

Lifestyle Clara Monica 25 Mei 2026 21:57 WIB 2
Kisah Salad Umma Bangkit Berkat KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya membuktikan bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan usaha. Perempuan 38 tahun itu bangkit dari keterpurukan setelah pandemi memaksa bisnis jasa rias pengantinnya berhenti total. Dari kondisi serba terbatas, ia merintis usaha kuliner sehat bernama Salad Umma dengan memanfaatkan pelatihan usaha dan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Kini, usahanya berkembang dan mulai dikenal sebagai salah satu UMKM kuliner yang tumbuh dari nol.

Kisah itu berawal ketika seluruh jadwal pernikahan yang ia tangani dibatalkan akibat pandemi. Dana uang muka sudah terlanjur masuk ke vendor dekorasi, tenda, dan bunga, sehingga kerugian tidak dapat dihindarkan. Untuk menutup kewajiban, ia sampai menjual mobil, baju, hingga peralatan make-up yang menjadi modal kerjanya. Situasi tersebut membuatnya harus memulai kembali dari titik paling bawah.

Bangkitnya Salad Umma

Hikma sebelumnya bekerja sebagai make-up artist yang bergantung pada banyaknya agenda pernikahan dan acara. Saat pandemi melanda, seluruh pesanan mendadak hilang dan sumber penghasilannya terhenti. Tekanan ekonomi membuatnya harus mencari peluang baru yang lebih realistis untuk dijalankan. Dari keadaan itu, lahirlah keputusan untuk merintis usaha makanan sehat.

Ia kemudian mengikuti program Kartu Prakerja setelah sempat gagal pada gelombang pertama. Pada kesempatan berikutnya, ia berhasil lolos dan memperoleh voucher pelatihan senilai Rp 1 juta. Awalnya, Hikma memilih kelas make-up dengan harapan industri hiburan segera pulih. Namun, kondisi yang belum membaik membuatnya beralih ke kelas usaha yang lebih praktis dan berpotensi cepat dijalankan.

Pilihan akhirnya jatuh pada salad sayur karena dianggap sederhana dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat itu. Ia menilai usaha tersebut tidak membutuhkan kompor, minyak, maupun gas, sehingga lebih efisien untuk dimulai dari rumah. Konsep makanan sehat juga dinilai selaras dengan tren masyarakat yang mulai peduli pola hidup sehat. Dari pertimbangan itu, ia membangun Salad Umma sebagai usaha baru.

Modal Kecil dari Prakerja

Usaha Salad Umma dimulai dari dapur rumah dengan modal yang sangat terbatas. Hikma mengandalkan bantuan dana Prakerja yang ia terima secara bertahap, yakni Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan. Total dana sekitar Rp 2,4 juta itu digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar. Pembelian dilakukan sedikit demi sedikit agar operasional tetap berjalan tanpa membebani keuangan keluarga.

Peralatan yang dibeli meliputi chopper, blender, aneka kemasan, hingga showcase untuk menjaga kualitas produk. Dengan modal itu, ia mulai menata proses produksi agar lebih rapi dan higienis. Langkah sederhana tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha kecilnya. Meski serba terbatas, ia tetap konsisten menjaga kualitas rasa dan tampilan produk.

Lokasi usaha yang dekat dengan kawasan indekos karyawan membantu Salad Umma menemukan pasar awal. Target konsumen yang membutuhkan makanan praktis dan sehat membuat produknya cepat dikenal. Dari hanya menjual salad sayur, Hikma kemudian menambah varian salad buah setelah menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022. Inovasi itu membuka peluang penjualan yang lebih luas.

Omzet Salad Umma Naik

Perjalanan usaha tidak selalu mulus karena omzet Salad Umma sempat naik turun. Meski sudah membuka pesanan daring dan aktif promosi di media sosial, hasil penjualan belum stabil. Pada hari tertentu, pendapatannya hanya sekitar Rp 15 ribu. Namun pada hari lain, omzet bisa menembus Rp 100 ribu.

Hikma juga sempat mengalami masa sepi pesanan hingga tidak ada transaksi sama sekali. Kondisi itu menunjukkan bahwa usaha mikro sangat rentan terhadap perubahan permintaan pasar. Meski demikian, ia tetap bertahan dengan menjaga kualitas dan terus mencoba menarik pelanggan baru. Ketekunannya menjadi modal penting agar usaha tidak berhenti di tengah jalan.

Titik balik mulai terlihat ketika produknya memperoleh sertifikasi halal. Setelah itu, ia ikut kegiatan bazar yang digelar Jakpreneur sehingga jaringan usahanya bertambah luas. Dari kegiatan tersebut, ia mulai mendapat pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Omzet hariannya pun naik dan sempat mencapai Rp 1 juta per hari.

Dukungan BRI Menguatkan Usaha

Pertumbuhan Salad Umma turut diperkuat oleh pendampingan dan pembiayaan dari KUR BRI. Dukungan itu memberi ruang bagi Hikma untuk memperbesar kapasitas produksi dan memperluas pasar. Dengan akses modal yang lebih baik, ia tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas. Perubahan tersebut membuat usahanya lebih siap menghadapi permintaan dalam skala besar.

Bagi pelaku UMKM, akses pembiayaan sering menjadi tantangan utama saat ingin berkembang. Dalam kasus Hikma, modal dan pelatihan menjadi kombinasi yang saling melengkapi. Pelatihan membantu membangun keterampilan dasar, sedangkan pembiayaan menopang kebutuhan operasional. Sinergi inilah yang membuat Salad Umma lebih stabil dari waktu ke waktu.

Kisah Hikma menjadi contoh bahwa usaha yang lahir dari keterbatasan tetap bisa tumbuh dengan strategi yang tepat. Ketekunan, keberanian beradaptasi, dan dukungan ekosistem pembiayaan menjadi faktor penentu. Dari kehilangan seluruh pesanan wedding, ia justru menemukan peluang baru di sektor kuliner sehat. Kini, Salad Umma berdiri sebagai simbol kebangkitan usaha kecil yang dimulai dari nol.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!