Kisah Salad Umma Bangkit Berkat KUR BRI

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 23:51 WIB 6
Kisah Salad Umma Bangkit Berkat KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Jakarta, berhasil bangkit dari keterpurukan setelah pandemi memukul usahanya sebagai perias wajah. Ia kemudian memulai lagi dari nol dengan merintis usaha kuliner sehat bernama Salad Umma, yang kini berkembang berkat pendampingan dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Kisah ini menunjukkan bagaimana dukungan pelatihan, modal usaha, dan ketekunan dapat mengubah usaha kecil menjadi bisnis yang naik kelas. Dari kehilangan seluruh pesanan wedding hingga meraih omzet harian yang stabil, perjalanan Hikma menjadi contoh nyata ketahanan pelaku UMKM di tengah tekanan ekonomi.

Kisah Salad Umma

Hikma sebelumnya bekerja sebagai makeup artist yang banyak menangani acara pernikahan. Ketika pandemi datang, seluruh jadwal acara dibatalkan secara mendadak dan usahanya terhenti total. Kondisi itu memaksanya menjual mobil, baju, dan alat rias untuk menutup kewajiban ganti rugi kepada vendor. Ia mengaku sempat pasrah karena seluruh pesanan yang sudah dibangun bertahun-tahun lenyap dalam waktu singkat.

Tekanan ekonomi membuatnya mencari jalan baru untuk bertahan hidup. Hikma kemudian mencoba mengikuti program Kartu Prakerja setelah gagal pada gelombang pertama. Dari program itu, ia memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp1 juta yang menjadi titik awal perubahan. Ia sempat memilih kelas makeup, tetapi situasi pasar yang belum pulih membuatnya mempertimbangkan usaha lain yang lebih praktis.

Pilihannya akhirnya jatuh pada salad sayur karena dinilai sederhana dan relevan dengan kebutuhan konsumen yang ingin hidup sehat. Menurut Hikma, usaha tersebut tidak membutuhkan kompor, minyak, atau gas sehingga lebih efisien untuk dijalankan dari rumah. Dari dapur rumah, ia mulai menyusun konsep bisnis kecil yang bisa dimulai dengan modal terbatas. Langkah itu menjadi fondasi lahirnya Salad Umma.

Modal Prakerja Berbuah Usaha

Hikma memanfaatkan dana Kartu Prakerja secara bertahap untuk membangun usaha dari nol. Ia menerima total modal sekitar Rp2,4 juta selama empat bulan dan menggunakannya untuk membeli bahan baku serta peralatan sederhana. Beberapa perlengkapan yang dibeli antara lain chopper, blender, kemasan, dan showcase. Pengelolaan modal yang cermat membuat usaha kecilnya bisa berjalan tanpa beban biaya besar di awal.

Lokasi usaha yang berada dekat kawasan indekost karyawan memberi peluang pasar tersendiri. Dari situ, Salad Umma mulai dikenal sebagai pilihan makanan sehat yang praktis dan terjangkau. Permintaan awal datang dari penjualan salad sayur, lalu berkembang setelah Hikma menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022. Dari pesanan itu, ia mulai menghadirkan salad buah sebagai variasi produk.

Perkembangan usaha tidak terjadi secara instan, karena Hikma tetap menghadapi naik turun penjualan. Ia sudah memanfaatkan pesanan online dan promosi media sosial, tetapi omzet harian masih sangat fluktuatif. Pada hari tertentu, pendapatannya hanya Rp15 ribu, sedangkan pada hari lain bisa mencapai Rp100 ribu. Ada pula masa ketika tidak ada pesanan sama sekali, sehingga ia harus terus menjaga konsistensi usaha.

Dukungan BRI Menguatkan

Titik balik usaha Salad Umma datang saat Hikma memperoleh pendampingan dan akses pembiayaan dari KUR BRI. Dukungan tersebut membantunya memperkuat kapasitas usaha dan mengelola kebutuhan operasional dengan lebih baik. Selain modal, ia juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Kehadiran pembiayaan perbankan menjadi penting karena usaha kecil seperti miliknya membutuhkan dorongan yang terukur.

Perubahan positif juga terlihat setelah produk Salad Umma memperoleh sertifikasi halal. Pengakuan tersebut meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas. Hikma kemudian aktif mengikuti kegiatan bazar yang difasilitasi Jakpreneur. Dari aktivitas itu, jejaring usahanya mulai bertambah dan pesanan dari berbagai pihak pun mulai berdatangan.

Jejaring baru tersebut membawa Salad Umma masuk ke pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Permintaan yang terus bertambah membuat omzet hariannya meningkat signifikan. Dalam kondisi terbaik, pendapatan usaha itu bisa mencapai Rp1 juta per hari. Pencapaian ini menunjukkan bahwa dukungan kelembagaan dapat mempercepat pertumbuhan UMKM.

Pelajaran Untuk UMKM

Kisah Hikma memperlihatkan bahwa pelaku usaha perlu lincah membaca peluang saat kondisi berubah drastis. Ketika pasar pernikahan terpuruk, ia berani beralih ke usaha kuliner sehat yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan modal, proses produksi, dan potensi permintaan. Sikap adaptif inilah yang membuatnya mampu bertahan di tengah tekanan.

Pengalaman Salad Umma juga menegaskan pentingnya pelatihan dan pembiayaan yang tepat sasaran. Bantuan modal tanpa pengelolaan yang disiplin tidak selalu menghasilkan pertumbuhan usaha. Namun, ketika dikombinasikan dengan keterampilan, produk yang sesuai pasar, dan promosi yang konsisten, peluang naik kelas menjadi lebih besar. Hikma memanfaatkan seluruh elemen itu secara bertahap hingga usahanya berkembang.

Bagi banyak pelaku UMKM, perjalanan Hikma menjadi pengingat bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir. Dengan kemauan belajar, keberanian memulai lagi, dan dukungan ekosistem yang tepat, usaha kecil dapat tumbuh menjadi bisnis yang lebih mapan. Salad Umma kini bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga simbol kebangkitan setelah keterpurukan. Dari dapur rumah, usaha itu tumbuh menjadi contoh sukses UMKM kuliner sehat di Jakarta.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!