Kisah Salad Umma Bangkit Berkat KUR BRI

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 19:15 WIB 7
Kisah Salad Umma Bangkit Berkat KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan berusia 38 tahun asal Jakarta, bangkit dari keterpurukan usai usaha jasa rias wajahnya kolaps akibat pandemi. Ia kemudian merintis Salad Umma, usaha kuliner sehat yang tumbuh dari modal terbatas, pelatihan usaha, dan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Perjalanan itu dimulai setelah seluruh jadwal pernikahan yang menjadi sumber penghasilan utamanya dibatalkan massal pada akhir 2020. Dari kondisi nyaris tanpa modal, ia membangun usaha dari dapur rumah, memanfaatkan Kartu Prakerja, hingga akhirnya mampu mencatat omzet harian yang sempat menembus Rp1 juta.

Salad Umma dari Nol

Hikma semula berprofesi sebagai makeup artist yang banyak menangani acara pernikahan. Namun, pandemi membuat seluruh pesanan wedding dibatalkan, sementara uang muka kepada vendor sudah telanjur keluar. Situasi itu memaksanya menjual mobil, pakaian, dan perlengkapan rias untuk menutup kewajiban ganti rugi. Kondisi tersebut menjadi titik terendah yang membuatnya harus memulai kembali dari awal.

Dalam keterangannya, Hikma mengaku saat itu sudah pasrah karena semua pesanan berhenti total. Ia harus menghadapi beban utang yang muncul dari pembayaran di muka untuk dekorasi, tenda, dan bunga. Aset yang dimiliki pun dilepas satu per satu agar masalah keuangan tidak semakin membesar. Dari pengalaman itulah ia mulai mencari jalan baru untuk bertahan hidup.

Keadaan ekonomi yang menekan mendorongnya mengikuti program Kartu Prakerja. Pada kesempatan pertama ia belum berhasil, tetapi kemudian lolos di gelombang berikutnya dan memperoleh voucher pelatihan senilai Rp1 juta. Awalnya, ia memilih kelas makeup karena berharap industri pernikahan segera pulih. Namun, ketika kondisi belum membaik, ia beralih mencari bidang usaha yang lebih praktis dan relevan.

Pilihannya jatuh pada salad sayur karena dinilai sederhana, tidak memerlukan kompor, minyak, maupun gas. Ia melihat tren masyarakat yang mulai peduli pada pola hidup sehat sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Dari pertimbangan itu, ia memutuskan membangun merek Salad Umma. Usaha tersebut kemudian menjadi pijakan baru setelah bisnis lamanya berhenti total.

Modal Kecil dan Pelatihan

Hikma memulai usaha dari dapur rumah dengan modal yang datang bertahap melalui manfaat Kartu Prakerja. Total dana yang ia terima mencapai Rp2,4 juta selama empat bulan, lalu digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar. Peralatan seperti chopper, blender, kemasan, dan showcase dibeli sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan. Cara itu membuat usahanya tetap berjalan meski modal awal sangat terbatas.

Strategi bertahap tersebut membantu Hikma menjaga arus kas agar tidak terlalu berat di awal. Ia tidak langsung membelanjakan seluruh modal untuk kebutuhan besar, melainkan memprioritaskan alat yang paling mendesak. Langkah itu juga membuat operasional dapur tetap efisien. Dari sisi perencanaan, pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan dana usaha secara disiplin.

Lokasi usaha yang berada dekat kawasan indekost karyawan dan karyawati ikut mendukung penjualan Salad Umma. Target pasar yang dekat dengan aktivitas harian membuat produk mudah dikenali dan dibeli. Pada tahap awal, menu utamanya adalah salad sayur. Setelah mendapat pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022, ia mulai mengembangkan salad buah sebagai variasi produk.

Perubahan menu menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap permintaan pasar. Hikma membaca kebutuhan konsumen yang menginginkan pilihan sehat namun tetap praktis. Inovasi tersebut memperluas segmen pelanggan dan menambah peluang penjualan. Dari usaha rumahan, Salad Umma pun mulai memiliki identitas produk yang lebih jelas.

Omzet Turun Naik

Meski sudah memanfaatkan pesanan online dan promosi media sosial, perjalanan usaha Hikma tidak selalu mulus. Omzet Salad Umma kerap naik turun mengikuti jumlah pesanan yang masuk. Pada hari tertentu, pendapatannya hanya sekitar Rp15 ribu. Di hari lain, omzet bisa naik menjadi Rp100 ribu.

Situasi terberat terjadi saat tidak ada pesanan sama sekali. Kondisi itu membuatnya harus terus menjaga semangat dan mencari cara agar produk tetap dikenal. Ia memahami bahwa usaha kecil sangat dipengaruhi konsistensi promosi dan kepercayaan pelanggan. Karena itu, keberlanjutan bisnis menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Untuk bertahan, Hikma mengandalkan promosi digital dan layanan yang cepat kepada pelanggan. Ia juga terus berupaya menjaga kualitas bahan baku agar produk tetap diminati. Di tengah persaingan kuliner sehat yang semakin ramai, kepercayaan konsumen menjadi modal penting. Tanpa itu, usaha rumahan sulit berkembang lebih jauh.

Kisahnya memperlihatkan bahwa usaha kecil membutuhkan ketekunan, pengelolaan dana, dan kemampuan beradaptasi. Hikma tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun kebiasaan baru bagi konsumennya yang ingin hidup lebih sehat. Pola usaha seperti ini menunjukkan bahwa peluang bisa lahir dari keterbatasan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mencoba ulang dengan strategi yang lebih tepat.

Berkat Sertifikasi Halal

Pertumbuhan Salad Umma mulai terlihat lebih kuat setelah produknya memperoleh sertifikasi halal. Status tersebut meningkatkan kepercayaan pembeli, terutama untuk konsumen yang memperhatikan aspek keamanan dan kepatuhan produk. Selain itu, Hikma juga aktif mengikuti kegiatan bazar yang difasilitasi Jakpreneur. Dari sana, jejaring usahanya semakin luas.

Partisipasi dalam bazar memberi akses baru terhadap pelanggan yang sebelumnya belum mengenal produknya. Ia mulai menerima pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Saluran penjualan yang lebih beragam membuat pendapatan usaha ikut terdorong naik. Pengalaman itu menunjukkan pentingnya akses pasar bagi pelaku usaha mikro.

Seiring bertambahnya pesanan, omzet harian Salad Umma meningkat signifikan dan bisa mencapai Rp1 juta per hari. Pencapaian tersebut menandai perubahan besar dari masa-masa awal ketika pendapatannya sangat kecil. Dukungan pembiayaan, pelatihan, dan akses jejaring terbukti membantu usaha naik kelas. Dalam konteks ini, pendampingan menjadi faktor penting selain modal usaha.

Kisah Hikma menjadi contoh bahwa pemulihan ekonomi pelaku usaha kecil membutuhkan kombinasi ketekunan dan dukungan ekosistem. KUR BRI hadir sebagai salah satu instrumen yang membantu pengusaha seperti dirinya memperkuat operasional. Dengan manajemen yang rapi dan produk yang relevan, bisnis rumahan dapat tumbuh menjadi usaha yang lebih stabil. Salad Umma kini berdiri sebagai bukti bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!