Kisah Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 07:03 WIB 2
Kisah Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura tercium kuat dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di kawasan Mayestik yang ramai, kehadiran Sate Ayam Barokah Mayestik menarik perhatian pejalan kaki dan pelanggan yang melintas. Di balik peluang itu, ada perjalanan panjang Mochamad Haidir, pedagang sate berusia 30 tahun, yang membangun usaha dari bawah sejak 2013.

Haidir memulai usahanya dengan gerobak sate keliling dan sempat merasakan kerasnya berjualan di trotoar. Ia pernah dikejar aparat hingga diusir sesama pedagang, namun tetap bertahan karena melihat potensi besar di kawasan perkantoran tersebut. Kini, usaha kecil yang ia rintis perlahan naik kelas setelah mendapat tempat yang lebih strategis.

Perjalanan Sate Ayam Barokah

Haidir mengawali usaha dengan modal keberanian dan ketekunan. Pada awalnya, ia berjualan menggunakan gerobak keliling dan menyusuri area yang ramai pengunjung. Dari situ, ia belajar membaca pasar dan memahami selera pembeli.

Berjualan di trotoar bukan perkara mudah karena ia kerap berhadapan dengan penertiban. Selain itu, persaingan antarpedagang juga membuat suasana usaha tidak selalu nyaman. Meski demikian, Haidir memilih tetap bertahan dan mencari cara agar dagangannya dikenal.

Nama Sate Ayam Barokah Mayestik kemudian mulai akrab di telinga pelanggan. Cita rasa sate ayam dan kambing khas Madura menjadi daya tarik utama yang membuat pembeli datang kembali. Perlahan, pelanggan dari kawasan sekitar mulai menjadikan lapaknya sebagai tujuan makan sore.

Lokasi di Mayestik memberi keuntungan tersendiri karena dikelilingi kantor dan aktivitas perdagangan. Haidir melihat kawasan itu memiliki arus pengunjung yang stabil dan berpotensi untuk menopang bisnis kuliner. Keyakinan itu menjadi dasar bagi langkahnya untuk terus bertahan di titik tersebut.

Ujian Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi masa paling berat bagi usaha Haidir. Penjualan merosot tajam karena mobilitas masyarakat menurun dan banyak orang mengurangi makan di luar. Kondisi itu membuatnya sempat stres dan berpikir untuk menyerah.

Ia bahkan pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain. Haidir mengaku ingin mengakhiri usaha dan bersedia melepas lapak tersebut jika ada yang membayar. Namun, tawaran yang masuk jauh di bawah harapannya.

Saat itu, lapaknya sempat ditawar Rp50 juta, padahal harga yang ia minta mencapai Rp150 juta. Selisih yang besar membuat transaksi tidak terjadi. Keputusan itu ternyata menyelamatkan peluang usaha yang kelak justru berkembang lebih besar.

Pengalaman tersebut mengajarkan Haidir bahwa bisnis kuliner membutuhkan ketahanan mental. Ia menyadari bahwa kondisi sulit tidak selalu berlangsung selamanya. Bertahan pada momen yang tepat bisa menjadi pembeda antara menyerah dan tumbuh.

Ruko Baru Sate Ayam Barokah

Titik balik datang ketika sebuah ruko kosong di depan lokasi jualannya ditawarkan untuk disewa. Momentum itu muncul setelah ia cukup lama mengelola lapak di area yang sama. Haidir melihat kesempatan tersebut sebagai langkah penting untuk memperkuat bisnisnya.

Ia lalu memutuskan pindah ke ruko yang lebih strategis. Keputusan itu diambil agar usaha lebih mudah terlihat dan memberi kenyamanan bagi pelanggan. Dengan tempat yang lebih layak, citra usahanya juga ikut terangkat.

Pindah ke ruko membuat aktivitas jualan terlihat lebih tertata. Pelanggan dapat menikmati sate dalam suasana yang lebih nyaman dibandingkan saat masih mengandalkan lapak sederhana. Hal itu menjadi nilai tambah yang sulit didapat jika tetap bertahan di gerobak keliling.

Bagi Haidir, perpindahan tempat bukan sekadar soal lokasi, melainkan juga keberanian mengambil keputusan. Ia memanfaatkan peluang yang datang pada saat yang tepat. Dari sana, usaha kecil yang ia bangun mulai benar-benar naik kelas.

Pelajaran Dari Konsistensi

Kisah Haidir menunjukkan bahwa usaha kecil bisa berkembang bila dijalani dengan tekun. Konsistensi menjadi modal utama sebelum modal besar datang. Tanpa ketekunan, peluang yang ada sering kali lewat begitu saja.

Ia membuktikan bahwa lokasi strategis penting, tetapi ketahanan menghadapi masa sulit juga menentukan. Saat pandemi membuat penjualan turun, ia tetap menjaga usaha agar tidak hilang. Sikap itu membuat usahanya tetap hidup hingga kondisi membaik.

Perjalanan dari gerobak keliling ke ruko juga memperlihatkan pentingnya membaca waktu yang tepat. Haidir tidak menunggu terlalu lama ketika peluang sewa ruko muncul. Keputusan cepat itu membantu usahanya melangkah ke tahap berikutnya.

Bagi pelaku usaha mikro, cerita ini memberi pelajaran bahwa pertumbuhan membutuhkan keberanian, kesabaran, dan adaptasi. Pasar bisa berubah, tetapi komitmen menjaga kualitas tetap menjadi kunci. Dari Mayestik, Haidir membuktikan bahwa usaha sederhana pun bisa berkembang jika dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!