Kisah Aisah Bangun Betawi Punya Gaye dari Camilan Jadul

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 23:12 WIB 6
Kisah Aisah Bangun Betawi Punya Gaye dari Camilan Jadul

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan hanya untuk menambah penghasilan keluarga. Dari jualan keripik pedas, ia kemudian beralih ke jajanan jadul khas Betawi dan membangun merek Betawi Punya Gaye pada 2020. Kini, usaha yang berawal dari kebutuhan itu berkembang menjadi bisnis rumahan dengan omzet jutaan rupiah per bulan.

Perjalanan Aisah menunjukkan bahwa keberanian mengubah arah usaha bisa membuka peluang baru, bahkan saat kondisi pasar tidak menentu. Setelah sempat terpuruk akibat pandemi, ia memilih bangkit dengan produk yang lebih kuat identitasnya dan lebih dekat dengan budaya Betawi.

Awal Usaha Jajanan Betawi

Aisah mulai berjualan pada 2018 ketika masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia membawa keripik pedas ke tempat kerja, lalu menawarkan ke teman dan menitipkannya ke warung sekitar.

Langkah sederhana itu sempat memberi hasil yang cukup baik. Dalam sebulan, ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta dari penjualan camilan tersebut.

Namun, usaha itu kemudian menghadapi tantangan ketika banyak warung tutup dan permintaan menurun. Situasi pandemi COVID-19 membuat penjualan keripiknya semakin sulit bertahan.

Di tengah tekanan itu, Aisah tidak memilih berhenti. Ia justru mulai mencari produk yang lebih sesuai dengan karakter usahanya dan lebih mudah dikenali pasar.

Beralih ke Cita Rasa Betawi

Aisah lalu memutuskan mengubah arah usaha menjadi aneka jajanan khas Betawi. Produk yang ia jual antara lain kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, jajanan tradisional memiliki nilai nostalgia yang kuat dan masih diminati konsumen dari berbagai usia.

Ia pun mengembangkan resep secara mandiri hingga mendapatkan rasa yang dianggap pas. Proses itu dijalani secara autodidak dengan memanfaatkan pengalaman sejak kecil membantu orang tua membuat kue.

Kebiasaan lama itu menjadi modal penting saat ia membangun usaha baru. Dari dapur rumah, Aisah meracik produk yang kini menjadi identitas Betawi Punya Gaye.

Berani Tinggalkan Pabrik

Setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik, Aisah akhirnya memutuskan resign. Keputusan itu diambil setelah ia merasa perlu fokus penuh pada usaha yang sedang tumbuh.

Baginya, terlalu lama membagi waktu antara pekerjaan pabrik dan bisnis membuat pengembangan usaha berjalan lambat. Ia memilih mengambil risiko dengan keyakinan bahwa usaha rumahan bisa menjadi sumber penghidupan utama.

Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Dari karyawan pabrik, ia bertransformasi menjadi pelaku usaha yang lebih mandiri dan berani menentukan arah bisnisnya sendiri.

Perubahan itu juga memberinya ruang untuk mengelola produksi dengan lebih serius. Dengan fokus penuh, ia dapat mengatur kualitas, pemasaran, dan inovasi produk secara lebih terarah.

Naik Kelas Lewat HAKI

Pada 2020, Aisah mulai serius menekuni bisnisnya dengan bergabung ke Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemprov DKI Jakarta.

Awalnya, ia memakai nama usaha Camilan 19. Namun, nama itu dinilai terlalu umum sehingga ia diminta mencari identitas yang lebih kuat dan mudah diingat.

Dari proses itu lahirlah nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang resminya. Nama tersebut sekaligus menjadi penegas bahwa produk yang dijual membawa kekhasan budaya Betawi.

Dengan identitas merek yang lebih kuat, usaha Aisah mendapat posisi yang lebih jelas di pasar. Ia pun semakin percaya diri membawa produknya ke tahap yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!