Kembung Akibat Stres, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 13:26 WIB 6
Kembung Akibat Stres, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat membuat tubuh bereaksi pada sistem pencernaan. Kondisi ini kerap memunculkan perut kembung dan begah, meski pola makan seseorang tidak berubah.

Para ahli menjelaskan bahwa hubungan antara otak dan usus sangat erat, sehingga tekanan emosional dapat berdampak langsung pada kerja pencernaan. Saat tubuh berada dalam kondisi tertekan, proses mencerna makanan bisa melambat dan memicu penumpukan gas.

Hubungan stres dan kembung

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menjelaskan bahwa usus dapat disebut sebagai otak kedua manusia. Ia menilai sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf dan kondisi emosional.

Menurut Ditkoff, ketika seseorang mengalami stres, tubuh tidak hanya merasakan tekanan mental, tetapi juga mengalami perubahan fisiologis. Perubahan ini dapat membuat saluran pencernaan bekerja tidak normal.

Akibatnya, makanan dapat bertahan lebih lama di perut dan tidak terurai dengan baik. Kondisi tersebut memudahkan gas terperangkap dan memicu rasa begah.

Respons tubuh saat tertekan

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh manusia umumnya berada dalam dua mode utama, yaitu fight-or-flight dan rest-and-digest. Saat stres meningkat, tubuh cenderung masuk ke mode fight-or-flight untuk menghadapi ancaman.

Pada fase ini, hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin dilepaskan dalam jumlah besar. Respons itu membantu tubuh bersiap menghadapi bahaya, baik ancaman nyata maupun tekanan modern seperti tenggat waktu.

Namun, perubahan tersebut membuat sistem pencernaan berhenti bekerja optimal untuk sementara. Aliran darah dialihkan ke otot agar tubuh siap bergerak, sehingga proses pencernaan ikut melambat.

Kenapa perut terasa begah

Saat aliran darah menjauh dari saluran cerna, kontraksi otot pencernaan juga menurun. Produksi sekresi pencernaan ikut berkurang dan makanan menjadi lebih sulit dipecah.

Jika makanan berada terlalu lama di saluran pencernaan, gas lebih mudah terbentuk dan terperangkap. Inilah yang kemudian membuat perut terasa penuh, kencang, dan tidak nyaman.

Ditkoff menambahkan bahwa respons stres pada setiap orang bisa berbeda. Ada yang mengalami kembung, sementara yang lain justru merasakan kram perut atau diare.

Cara meredakan kembung

Untuk mengurangi kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke mode rest-and-digest. Kondisi ini membantu hormon stres menurun, aliran darah kembali lancar, dan kerja pencernaan membaik.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru. Meski begitu, menahan makan sepenuhnya saat stres juga tidak dianjurkan karena justru bisa memperburuk kondisi tubuh.

Langkah sederhana seperti menarik napas dalam, duduk tenang sebelum makan, dan memberi jeda pada aktivitas padat dapat membantu tubuh lebih relaks. Dengan cara itu, pencernaan memiliki peluang lebih baik untuk bekerja secara normal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!