Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Daerah, BRIN Ungkap Alasannya

Teknologi BRH 28 Mei 2026 03:12 WIB 3
Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Daerah, BRIN Ungkap Alasannya

Kebutuhan energi Base Transceiver Station atau BTS di Pulau Jawa tidak bisa disamakan dengan wilayah lain di Indonesia. Peneliti Ahli Muda BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menegaskan perbedaan itu dipengaruhi oleh kebutuhan cakupan, kontur wilayah, serta karakter masyarakat setempat.

Dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, Rabu, 20 Mei 2026, Mardi menjelaskan bahwa setiap tipe BTS dipasang berdasarkan kebutuhan jaringan. Ia menilai konsumsi energi jaringan seluler akan terus meningkat, seiring dominasi implementasi 4G dan terbatasnya penerapan 5G di Indonesia.

Energi BTS dan Cakupan Wilayah

Mardi menjelaskan bahwa BTS di tiap daerah tidak dipasang dengan pola yang sama. Penempatan perangkat tersebut menyesuaikan kebutuhan coverage, kondisi geografis, dan target layanan operator.

Menurut dia, sempit atau luasnya wilayah layanan akan memengaruhi jumlah perangkat yang dibutuhkan. Semakin besar kebutuhan cakupan, semakin tinggi pula konsumsi energi yang harus disiapkan operator.

Ia mencontohkan, energi operasional untuk operator telekomunikasi dapat menyerap porsi yang sangat besar dari total konsumsi tahunan. Pada salah satu operator besar, beban energi operasional bahkan hampir mencapai 90 persen dari konsumsi tahunan pada 2023.

Situasi itu membuat efisiensi jaringan menjadi perhatian penting bagi industri telekomunikasi. Tanpa perencanaan yang tepat, kebutuhan energi BTS akan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Profil Site Tidak Seragam

Dalam penelitiannya, Mardi mengumpulkan data dari sekitar 8.500 BTS sites milik salah satu operator di Indonesia. Data itu tersebar di 20 kabupaten dan kota pada tiga provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Dari sampel tersebut, ia menemukan beragam tipe site yang digunakan operator. Jenisnya meliputi Pico, Mikro, Indoor Base Station atau IBS, Makro, dan Makro Hub.

Hasil pengamatan menunjukkan hampir 78 persen site yang dianalisis merupakan site makro. Komposisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan jaringan di suatu wilayah dapat sangat berbeda dengan wilayah lain.

Perbedaan tipe site juga berdampak pada kebutuhan daya yang digunakan. Karena itu, perhitungan energi BTS harus melihat proporsi dan karakter masing-masing site secara cermat.

Faktor Sosial Ekonomi Penting

Mardi menegaskan bahwa perhitungan energi BTS tidak cukup hanya mengandalkan aspek teknis. Peneliti juga harus mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah yang dianalisis.

Ia menyebut profil masyarakat di Kalimantan, Papua, dan Jakarta sangat berbeda. Perbedaan itu memengaruhi pola penggunaan layanan digital, kebutuhan jaringan, dan kapasitas infrastruktur yang harus disiapkan.

Dalam validasi penelitiannya, Mardi menggunakan tiga faktor sosial ekonomi sebagai dasar analisis. Ketiga faktor itu adalah population density, development index, dan digital society index.

Menurut dia, tanpa penyesuaian terhadap faktor tersebut, pemodelan energi tidak akan menggambarkan kondisi Indonesia secara nyata. Karena itu, pendekatan yang seragam justru berisiko menghasilkan estimasi yang keliru.

Implikasi Bagi Operator

Temuan BRIN memperlihatkan bahwa kebutuhan BTS di satu daerah tidak bisa dipukul rata dengan daerah lainnya. Pulau Jawa yang padat penduduk memiliki pola kebutuhan berbeda dibanding wilayah dengan sebaran penduduk yang lebih longgar.

Bagi operator, hasil ini menjadi sinyal penting untuk merancang jaringan yang lebih efisien. Penyesuaian tipe site, kapasitas, dan kebutuhan daya dapat membantu menekan pemborosan energi.

Di sisi lain, tren implementasi 4G yang masih dominan membuat kebutuhan energi jaringan belum akan turun dalam waktu dekat. Selama 5G belum meluas, beban operasional BTS diperkirakan tetap tinggi.

Mardi menilai perencanaan jaringan harus menggabungkan aspek teknis dan sosial secara seimbang. Dengan begitu, pembangunan telekomunikasi dapat lebih sesuai dengan karakter wilayah di Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!