Kainnesia Tembus Pasar Malaysia, Tenun UMKM Makin Dilirik

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 03:38 WIB 6
Kainnesia Tembus Pasar Malaysia, Tenun UMKM Makin Dilirik

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar luar negeri setelah Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa produk berbasis budaya lokal memiliki peluang besar untuk tumbuh di pasar internasional.

Kainnesia, atau Kain Tenun Indonesia, berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah dan memperluas jangkauan usahanya melalui dukungan pembinaan, akses pasar, serta penguatan kapasitas usaha. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berdampak pada satu perusahaan, tetapi juga pada ekosistem mitra yang ikut naik kelas.

Tenun Kainnesia Menembus Pasar

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyebut pertumbuhan usaha yang dicapai perusahaan berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas UMKM binaan. Ia menegaskan bahwa hasil itu lahir dari kolaborasi yang terbangun melalui program Pertapreneur Aggregator.

Menurut Nur, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra kini telah mencapai lebih dari 400 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa penguatan rantai usaha dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas di daerah.

Ia menambahkan bahwa capaian ini bukan hanya soal penjualan, melainkan juga soal keberlanjutan usaha. Dengan model agregator, UMKM mitra dapat memperoleh manfaat yang lebih merata dan terukur.

Pasar Ekspor Makin Terbuka

Produk Kainnesia telah tampil dalam sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Kehadiran di berbagai pameran tersebut membuka peluang pertemuan dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.

Partisipasi pada ajang berskala global memberi ruang bagi tenun Indonesia untuk dikenal lebih luas. Di saat yang sama, kualitas dan konsistensi produksi menjadi faktor penting agar permintaan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Pesanan dari Malaysia senilai US$ 50 ribu menjadi salah satu bukti konkret bahwa produk UMKM Indonesia mampu bersaing. Momentum ini juga memperkuat posisi tenun sebagai komoditas kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Tenun Sebagai Warisan

Nur Salam menilai tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar relevan dengan zaman. Karena itu, Kainnesia berupaya menghadirkan produk yang tetap berakar pada tradisi namun sesuai dengan selera pasar modern.

Perusahaan juga mendorong anak muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya produk masa lalu. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga regenerasi pengrajin dan kesinambungan industri tenun.

Dengan narasi budaya yang kuat, produk tenun memiliki nilai tambah yang sulit digantikan. Nilai ini menjadi keunggulan kompetitif saat bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Pertapreneur Dorong UMKM Naik Kelas

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata dari tujuan Pertapreneur Aggregator. Program tersebut dirancang untuk memperkuat UMKM agar mampu tumbuh lebih cepat dan lebih mandiri.

Rudi menjelaskan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang UMKM lain untuk naik kelas. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan omzet, tetapi juga pada pembukaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi lokal.

Ia berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi penggerak ekonomi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar. Dengan dukungan yang tepat, pelaku usaha kecil dinilai bisa berkembang menjadi kekuatan ekonomi daerah yang lebih tangguh.

Peran Program Binaan

Program Pertapreneur Aggregator telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, peserta mendapatkan dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas.

Pendekatan pembinaan tersebut membantu UMKM memperbaiki kualitas produk, tata kelola usaha, dan kesiapan menghadapi pasar yang lebih besar. Dalam praktiknya, model ini juga mendorong kolaborasi antarpelaku usaha agar rantai pasok menjadi lebih kuat.

Keberhasilan Kainnesia menunjukkan bahwa pembinaan yang konsisten dapat menghasilkan dampak ekonomi yang nyata. Jika diperluas, model serupa berpotensi menjadi salah satu strategi efektif untuk mempercepat pertumbuhan UMKM Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!