Kainnesia Bawa Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 13:15 WIB 3
Kainnesia Bawa Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali menarik perhatian pasar luar negeri, kali ini melalui sarung tenun yang dipesan Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Pesanan tersebut menjadi bukti bahwa produk wastra nusantara memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.

Keberhasilan itu datang dari Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, yang berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah. Melalui pendampingan bisnis dan perluasan akses pasar, Kainnesia membawa tenun Indonesia menembus berbagai ajang dan peluang dagang global.

Kainnesia Dorong Tenun Go Global

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyampaikan bahwa program Pertapreneur Aggregator memberi dampak langsung bagi usaha yang ia rintis. Pertumbuhan Kainnesia tidak hanya tercermin dari penjualan, tetapi juga dari peningkatan kapasitas UMKM binaan. Saat ini, jaringan 37 UMKM mitra Kainnesia telah menyerap lebih dari 400 tenaga kerja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan usaha kecil dapat menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah.

Nur menyebut capaian itu sebagai bukti bahwa kolaborasi dan pendampingan yang tepat mampu memperluas manfaat bagi banyak pihak. Menurut dia, pertumbuhan yang terjadi bersifat menyeluruh dan berkelanjutan. Kainnesia tidak hanya berkembang sebagai merek, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem tenun. Model ini dinilai relevan untuk mendorong UMKM lain naik kelas.

Produk Kainnesia juga mulai menembus panggung internasional melalui partisipasi di sejumlah ajang bergengsi. Di antaranya Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian pameran itu, Kainnesia bertemu dengan calon pembeli dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Peluang ekspor pun terbuka lebih luas seiring meningkatnya minat terhadap produk tenun Indonesia.

Nur menegaskan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga relevansinya. Ia ingin generasi muda melihat tenun sebagai produk masa depan yang memiliki nilai ekonomi dan identitas budaya. Karena itu, inovasi desain, pemasaran, dan pengembangan pasar menjadi fokus utama. Langkah tersebut diharapkan menjaga kelestarian tenun sekaligus memperkuat daya saingnya.

Pesanan Malaysia Jadi Bukti

Pesanan dari Malaysia senilai US$ 50 ribu menjadi salah satu pencapaian penting bagi Kainnesia. Nilai transaksi itu menunjukkan bahwa produk tenun lokal mampu bersaing di pasar luar negeri. Sarung tenun yang diproduksi Kainnesia dinilai memiliki kualitas dan karakter yang sesuai dengan selera pembeli internasional. Capaian ini juga menegaskan potensi besar wastra Indonesia sebagai komoditas ekspor.

Permintaan tersebut tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang penguatan usaha dan jejaring pasar. Kainnesia memanfaatkan berbagai pameran untuk memperkenalkan produk dan membangun kepercayaan buyer. Kehadiran di ajang internasional membuat merek ini lebih mudah dikenali oleh pembeli potensial. Dari sana, negosiasi dagang dapat berkembang menjadi pesanan nyata.

Keberhasilan ini juga memberi harapan baru bagi para penenun di daerah. Saat produk mereka diterima pasar luar negeri, nilai ekonomi yang tercipta menjadi lebih besar. Para pengrajin mendapat kepastian pasar, sedangkan daerah memperoleh manfaat dari aktivitas produksi yang meningkat. Hubungan antara pelaku usaha, pengrajin, dan pembeli pun menjadi lebih kuat.

Di sisi lain, pesanan dari Malaysia memperlihatkan pentingnya kualitas dan konsistensi produksi. Dalam pasar ekspor, standar mutu menjadi faktor penentu untuk menjaga kepercayaan pembeli. Karena itu, pengelolaan rantai pasok dan kontrol kualitas harus berjalan seiring. Kainnesia menjadikan aspek tersebut sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Pertapreneur Buka Akses Pasar

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menilai Kainnesia menjadi contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Program itu dirancang untuk membantu UMKM naik kelas melalui pendampingan teknis dan manajerial. Selain itu, peserta juga mendapat dukungan untuk memperluas akses pasar. Hasilnya, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kompetitif.

Rudi menjelaskan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang UMKM lain berkembang. Skema ini dinilai efektif karena menciptakan keterhubungan antarpelaku usaha. UMKM yang lebih siap dapat menjadi penghubung bagi usaha kecil lain di sekitarnya. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi lokal dapat bergerak lebih cepat dan merata.

Menurut Rudi, kehadiran Kainnesia memperlihatkan bagaimana dukungan program mampu menghasilkan dampak konkret. Bukan hanya penjualan yang meningkat, tetapi juga jumlah tenaga kerja yang terserap. Hal itu menunjukkan bahwa pengembangan UMKM memiliki nilai sosial yang luas. Dari satu usaha, manfaatnya bisa menjalar ke banyak keluarga dan komunitas.

Pertamina berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi penggerak ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Istilah tentakel ekonomi yang digunakan Rudi merujuk pada jejaring usaha yang saling menguatkan. Semakin kuat jejaring itu, semakin besar kontribusinya bagi perekonomian daerah. Karena itu, keberlanjutan pendampingan menjadi hal yang penting untuk dijaga.

UMKM Tenun Terus Naik Kelas

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, para pelaku usaha memperoleh dukungan yang tidak hanya berupa modal jejaring, tetapi juga penguatan kapasitas bisnis. Pendampingan tersebut mencakup aspek teknis, manajerial, hingga strategi pemasaran. Pendekatan ini membantu UMKM lebih siap menghadapi pasar yang kompetitif.

Kehadiran program itu memberi ruang bagi UMKM untuk mengembangkan produk secara lebih terstruktur. Dalam kasus Kainnesia, penguatan yang diterima membuat produk tenun lebih mudah menembus pasar premium. Dukungan semacam ini penting agar usaha kecil tidak berjalan sendiri. Dengan pendampingan yang tepat, kapasitas produksi dan daya saing dapat meningkat bersamaan.

Pertumbuhan Kainnesia juga menunjukkan bahwa sektor budaya dapat menjadi motor ekonomi yang menjanjikan. Tenun yang selama ini dianggap tradisional justru memiliki peluang besar di pasar modern. Ketika dikemas dengan inovasi dan strategi yang tepat, produk budaya mampu bernilai tinggi. Hal tersebut membuka jalan bagi UMKM lain untuk mengikuti jejak serupa.

Ke depan, tantangan utama tetap berada pada konsistensi kualitas, perluasan pasar, dan regenerasi pelaku usaha. Kainnesia ingin anak muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar warisan masa lalu. Jika regenerasi berhasil, keberlanjutan industri tenun akan lebih terjamin. Pada saat yang sama, ekonomi lokal akan memperoleh dorongan baru dari sektor kreatif yang berbasis budaya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!