Kainnesia Bawa Tenun Indonesia Tembus Pasar Ekspor

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 26 Mei 2026 11:06 WIB 5
Kainnesia Bawa Tenun Indonesia Tembus Pasar Ekspor

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar luar negeri, kali ini melalui sarung tenun dari Kainnesia yang dipesan pembeli asal Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Pencapaian tersebut menandai semakin terbukanya peluang ekspor bagi produk wastra nusantara yang selama ini bertumpu pada kekuatan budaya dan kualitas produksi.

Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih luas. Keberhasilan ini juga memperlihatkan bahwa pendampingan UMKM, jika dilakukan secara berkelanjutan, dapat menghasilkan dampak bisnis yang nyata.

Kainnesia Bawa Tenun Go Global

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menilai tenun memiliki nilai lebih dari sekadar produk fesyen. Menurut dia, kain tenun adalah warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Kainnesia memanfaatkan momentum itu untuk membawa produk tenun Indonesia ke panggung internasional. Langkah ini memperlihatkan bahwa produk berbasis budaya dapat bersaing jika dibangun dengan strategi bisnis yang tepat.

Perjalanan Kainnesia tidak lepas dari peran ratusan penenun yang terlibat dalam rantai produksi. Kolaborasi tersebut membuat kapasitas usaha meningkat dan memperkuat posisi perusahaan di pasar ekspor.

Nur Salam menegaskan, pihaknya ingin generasi muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan. Ia menyebut dukungan terhadap produk lokal penting agar warisan budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberi nilai ekonomi.

Peluang Ekspor Dari Pameran

Produk Kainnesia kini telah tampil di sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Kehadiran di pameran tersebut membuka akses langsung kepada buyer potensial dari berbagai negara.

Selain itu, partisipasi di Jogja Fashion Week 2025 dan Inacraft 2025 memperluas jangkauan merek Kainnesia di dalam dan luar negeri. Dari rangkaian ajang itu, perusahaan mendapat kesempatan bertemu calon pembeli dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.

Pertemuan dengan buyer internasional menjadi pintu penting bagi pelaku UMKM untuk memahami selera pasar ekspor. Dari sana, penyesuaian desain, kualitas, dan skala produksi dapat dilakukan secara lebih terarah.

Pesanan sarung tenun dari Malaysia menjadi bukti bahwa pasar luar negeri memberi respons positif terhadap produk lokal. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa promosi lewat pameran dapat menghasilkan transaksi bisnis bernilai besar.

Dampak Ke UMKM Binaan

Nur Salam menyampaikan bahwa manfaat program Pertapreneur Aggregator tidak berhenti pada Kainnesia sebagai penerima program. Dampaknya ikut dirasakan oleh para UMKM binaan yang terlibat dalam ekosistem usaha tersebut.

Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra mencapai lebih dari 400 orang. Angka ini menunjukkan bahwa penguatan satu pelaku usaha dapat memicu pertumbuhan lapangan kerja di banyak titik.

Keterlibatan UMKM binaan juga membuat rantai pasok menjadi lebih inklusif. Dengan begitu, pertumbuhan usaha tidak hanya terkonsentrasi pada satu perusahaan, tetapi menyebar ke pelaku lain di daerah.

Nur Salam menilai capaian itu sebagai bukti bahwa pendampingan yang tepat dapat mendorong pertumbuhan yang menyeluruh. Ia menekankan bahwa keberhasilan Kainnesia harus menjadi ruang tumbuh bagi UMKM lain yang berada dalam jejaring binaannya.

Pertapreneur Dorong Ekonomi Lokal

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Program ini dirancang untuk membantu UMKM naik kelas melalui dukungan yang terstruktur.

Menurut Rudi, semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang UMKM lain untuk berkembang. Ia menilai model ini dapat membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih kuat.

Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, peserta memperoleh dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas.

Rudi berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi penggerak ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Dengan dukungan yang berkelanjutan, produk lokal dinilai berpeluang menembus pasar yang lebih kompetitif di tingkat global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!