Syifa Hadju mengenakan jubah ronce melati saat prosesi siraman dalam rangka pernikahan yang berlangsung pekan ini. Jubah strapless berwarna biru muda itu dihiasi ronce melati dengan sentuhan kristal Swarovski, mencuri perhatian para tamu undangan. Desain ini dibuat oleh Didiet Maulana dan menampilkan perpaduan tradisi Indonesia dengan nuansa modern, sementara pernikahan keduanya berlangsung di Raffles Hotel Jakarta pada 26 April 2026 dan dihadiri sejumlah tokoh termasuk Presiden Prabowo.
Didiet Maulana menegaskan bahwa duplikasi ronce melati tersebut diperbolehkan demi ekspresi kreatif. Ia menyatakan ide baru bisa dikreasikan ulang sesuai versi masing-masing untuk membahagiakan banyak orang. Semuanya diproduksi khusus oleh Svarna by IKAT Indonesia, lini busana tradisional premium milik Didiet, setelah proses riset dan development selama dua minggu.
Kreasi Jubah Ronce
Jubah ini membungkus terusan strapless berwarna biru muda dengan detail kristal Swarovski yang memikat. Ronce melati menjadi elemen utama, memberikan nuansa feminin pada busana yang dikenakan pada momen sakral tersebut. Desainnya memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern sehingga tetap elegan untuk acara tersebut.
Desain ini dibuat oleh Didiet Maulana, desainer yang dikenal lewat labelnya Svarna by IKAT Indonesia. Ia menyebut duplikasi ronce melati sebagai opsi kreasi yang diperbolehkan, asalkan tetap menghormati makna busana. Proses persiapan dan pengembangan memakan waktu dua minggu sejak konsep hingga finalisasi.
Semuanya dibuat khusus oleh Svarna by IKAT Indonesia, lini busana tradisional premium milik Didiet. Kreasi ini mencerminkan hangatnya tema pertemuan antara tradisi batik nasional dengan keindahan ronce melati. Busana ini menjadi bagian dari rangkaian busana yang dirancang untuk prosesi tersebut.
Inspirasi Bridgerton
Didiet menjelaskan bahwa ide utamanya terinspirasi dari serial Bridgerton, yang disukai Syifa Hadju. Ia berupaya memadukan nuansa era Regency dengan elemen budaya Indonesia yang sarat makna. Karya akhir menggambarkan perpaduan tema megah Bridgerton dan nuansa lokal untuk menonjolkan kisah cinta pasangan.
Baju kebaya klasik dengan bahu terbuka dan lengan lonceng, dipadu kain batik tulis Wahyu Tumurun, memperkaya pilihan busana. Batik Wahyu Tumurun membawa pesan doa baik, wahyu, dan rahmat untuk pemakainya. Didiet menekankan bahwa kebaya dan batik tersebut menjadi bagian dari cerita visual pernikahan yang sakral.
Menurut Didiet, tema Bridgerton dihadirkan lewat sentuhan tradisi Indonesia agar busana mampu melambangkan kisah cinta Syifa Hadju dan El Rumi. Ia menyampaikan bahwa perpaduan itu lahir dari perjalanan imajinasi yang terhubung dengan latar The Regency Era. Kreasi ini menegaskan bahwa kreativitas dapat menghasilkan busana yang merangkul sejarah sambil tetap relevan bagi pasangan modern.
