Jessica Iskandar Ungkap Fase Kelam dan Mental Breakdown

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 13:37 WIB 6
Jessica Iskandar Ungkap Fase Kelam dan Mental Breakdown

Jessica Iskandar akhirnya buka suara mengenai fase hidup yang paling kelam, saat ia kehilangan arah dan mengalami mental breakdown. Pengakuan itu disampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026.

Di balik citra yang kerap terlihat ceria, artis berusia 38 tahun itu mengaku pernah berada di titik terendah dan merasa kehilangan diri sendiri. Ia juga menuturkan bahwa tekanan dari luar, termasuk penilaian publik, sempat memperburuk kondisi mentalnya.

Kesehatan Mental Jessica

Jessica Iskandar menuturkan bahwa masa terberat dalam hidupnya bukanlah hal yang mudah untuk dibuka kepada publik. Ia mengaku sempat berada pada fase paling gelap, hingga sulit mengenali arah hidupnya sendiri. Pengalaman itu menjadi beban yang ia simpan cukup lama sebelum akhirnya berani berbicara.

Menurut Jessica, tekanan dari lingkungan sekitar membuat situasi yang ia hadapi semakin berat. Ucapan dan bisikan orang lain membuatnya merasa dihakimi sebelum sempat memaafkan dirinya sendiri. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh penilaian publik terhadap kesehatan mental seseorang.

Ia juga mengisyaratkan bahwa perjalanan hidupnya tidak lepas dari sejumlah pengalaman pahit, mulai dari perceraian, kegagalan menikah, hingga dugaan penipuan yang merugikannya hingga miliaran rupiah. Rangkaian peristiwa itu disebut menjadi bagian dari luka yang lama ia pendam. Kini, ia memilih untuk lebih terbuka agar bisa melanjutkan hidup dengan lebih sehat secara emosional.

Langkah Pulih Jessica

Dalam kesempatan yang sama, Jessica membagikan cara yang ia pilih untuk kembali menata dirinya. Langkah pertama, menurut dia, adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan pencipta. Bagi Jessica, spiritualitas menjadi pegangan penting ketika batin sedang rapuh.

Langkah kedua adalah mencari tempat aman untuk bercerita kepada orang yang dipercaya. Ia menilai berbagi beban dapat membantu hati menjadi lebih ringan. Menurutnya, persoalan yang dibagikan dengan tepat perlahan bisa terasa lebih mudah untuk dihadapi.

Jessica juga menekankan pentingnya menerima bahwa setiap orang memiliki sisi sensitif yang perlu dirawat, bukan disembunyikan. Ia menganggap keterbukaan terhadap perasaan sendiri justru dapat menjadi awal dari pemulihan. Sikap itu membuatnya merasa lebih jujur pada diri sendiri dan lebih siap menghadapi kehidupan.

Dukungan Psikolog

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica merespons sisi sensitifnya sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu ketika menunjukkan kerentanan. Justru, dari sisi itulah kekuatan bisa tumbuh dan berkembang.

Indah menjelaskan bahwa pengakuan terhadap perasaan sendiri merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. Saat perempuan mampu mengenali emosi, mencari dukungan, dan memiliki ruang aman, mereka akan lebih mudah memahami dirinya. Proses itu juga membantu membangun ketahanan batin yang lebih kuat.

Ia menambahkan bahwa sensitivitas bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari kemampuan untuk merasakan dan merespons kehidupan secara lebih dalam. Dengan dukungan yang tepat, sensitivitas dapat berubah menjadi kekuatan. Hal tersebut dinilai penting agar individu tidak merasa sendirian ketika menghadapi tekanan hidup.

Pelajaran untuk Publik

Kisah Jessica Iskandar memberi gambaran bahwa kehidupan seseorang yang terlihat bahagia belum tentu bebas dari luka batin. Di balik sorotan publik, ada pengalaman emosional yang kerap tidak terlihat. Karena itu, empati menjadi hal penting dalam menilai perjalanan hidup orang lain.

Pengalaman tersebut juga mengingatkan bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian serius. Tekanan sosial, penilaian orang, dan peristiwa pribadi dapat memengaruhi kondisi psikologis secara signifikan. Jika tidak ditangani, beban itu bisa semakin berat dan mengganggu keseharian.

Melalui keterbukaannya, Jessica menunjukkan bahwa mencari pertolongan dan berbagi cerita bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, langkah itu bisa menjadi awal untuk pulih dan kembali kuat. Pesan tersebut relevan bagi siapa pun yang tengah berjuang menghadapi masa sulit.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!