Jessica Iskandar akhirnya buka suara tentang fase hidup paling kelam yang pernah dialaminya. Dalam sebuah acara di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, ia mengaku sempat kehilangan arah, kehilangan diri sendiri, hingga mengalami mental breakdown.
Pengakuan itu disampaikan Jessica dengan jujur di hadapan publik pada acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO, Jumat, 17 April 2026. Ia juga menjelaskan bahwa tekanan dari luar, perceraian, kegagalan hubungan, dan pengalaman ditipu membuat kondisi mentalnya semakin berat.
Jessica Iskandar dan Mental Breakdown
Jessica Iskandar mengakui bahwa masa paling gelap dalam hidupnya bukanlah hal yang mudah untuk diceritakan. Ia bahkan sempat merasa berada di titik terendah ketika harus menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi. Kondisi itu membuatnya merasa kehilangan arah dan tidak mengenali dirinya sendiri. Bagi Jessica, fase tersebut menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan.
Di hadapan peserta acara, Jessica menuturkan bahwa ia sempat menahan banyak perasaan seorang diri. Ia memilih untuk tetap terlihat kuat meski batinnya sedang rapuh. Situasi itu membuat beban emosinya semakin menumpuk dari waktu ke waktu. Pada titik tertentu, ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan dan ketenangan.
Jessica juga menyinggung bagaimana komentar dan penilaian orang lain ikut memperburuk keadaan mentalnya. Bisikan dan ucapan yang datang dari luar membuatnya merasa dihakimi sebelum sempat berdamai dengan diri sendiri. Ia menilai, tekanan sosial sering kali lebih berat daripada masalah yang dihadapi itu sendiri. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kesehatan mental perlu dijaga dengan serius.
Tekanan yang Memicu Luka
Di balik citranya yang ceria, Jessica menyimpan pengalaman hidup yang tidak sederhana. Ia pernah melewati perceraian, kegagalan dalam hubungan, dan persoalan finansial yang besar. Rangkaian peristiwa itu meninggalkan luka emosional yang cukup dalam. Publik mungkin melihat sisi luar yang bahagia, tetapi kenyataan pribadinya jauh lebih kompleks.
Jessica mengaku bahwa tekanan dari lingkungan membuat beban batinnya terasa semakin berat. Ia harus menghadapi pandangan orang yang kerap menilai tanpa memahami keadaan sebenarnya. Kondisi ini membuatnya sulit memberi ruang untuk diri sendiri. Dalam situasi seperti itu, ia merasa perlu mencari cara agar tidak semakin tenggelam.
Pengalaman tersebut membuat Jessica memahami bahwa rasa sakit tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa saja tersenyum, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras di dalam hati. Karena itu, ia memilih untuk lebih terbuka tentang perasaannya. Kejujuran itu menjadi langkah awal untuk memulihkan diri.
Cara Jessica Memulihkan Diri
Jessica Iskandar menyebut langkah pertama untuk bangkit adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurutnya, spiritualitas memberinya kekuatan saat pikiran sedang kacau. Ia percaya bahwa ketenangan batin tidak datang begitu saja, melainkan perlu diusahakan. Dari sana, ia mulai belajar menerima keadaan dengan lebih lapang.
Langkah kedua yang ia lakukan adalah mencari tempat aman untuk bercerita. Jessica menilai bahwa berbagi beban kepada orang yang dipercaya bisa membuat hati terasa lebih ringan. Ia percaya masalah yang dipendam terlalu lama justru dapat memperburuk kondisi mental. Dengan bercerita, beban itu perlahan menjadi lebih mudah dipahami.
Ia juga menegaskan bahwa proses pemulihan tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada kalanya seseorang harus melewati fase sulit sebelum akhirnya merasa lebih baik. Jessica memilih untuk terus melangkah meski perlahan. Baginya, keberanian untuk jujur pada diri sendiri adalah bagian penting dari penyembuhan.
Sensitivitas sebagai Kekuatan
Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi., menilai cara Jessica merespons sisi sensitifnya sebagai perempuan sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu ketika menunjukkan sensitivitas. Justru dari sana muncul kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik. Sensitivitas dapat menjadi modal penting dalam menghadapi tekanan hidup.
Indah menjelaskan bahwa perempuan yang mampu mengakui perasaannya akan lebih mudah menemukan dukungan. Ruang aman untuk berekspresi membantu seseorang keluar dari beban emosional yang menekan. Ketika perasaan diakui, proses pemulihan biasanya berjalan lebih sehat. Hal itu juga membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi tantangan berikutnya.
Pesan tersebut sejalan dengan pengalaman Jessica yang kini lebih berani terbuka. Ia ingin menunjukkan bahwa rapuh bukan berarti lemah, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang lebih utuh. Sikap jujur terhadap emosi dapat membantu seseorang pulih dan bertumbuh. Dari pengalaman pahit itu, Jessica berusaha mengambil pelajaran untuk menjalani hidup dengan lebih tenang.
