Jam Tangan Mewah Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Publik

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 09:03 WIB 2
Jam Tangan Mewah Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Publik

Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali mencuri perhatian publik setelah pemusnahan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Barang-barang tersebut dipastikan palsu oleh Kejaksaan Agung setelah melalui proses validasi. Kasus ini menyorot kembali dunia jam tangan mewah, yang kerap menjadi simbol prestise sekaligus incaran kolektor. Di Indonesia, kedua merek itu masih menempati jajaran teratas dalam kategori arloji premium.

Fenomena tersebut ikut mengingatkan publik pada tingginya harga jam tangan mewah, yang bahkan membuat sebagian orang memilih versi tiruan. Dalam dunia horologi, Patek Philippe dan AP dikenal bukan hanya karena desain, tetapi juga kelangkaan dan nilai koleksi. Di pasar global, keduanya kerap diburu para crazy rich dan kolektor serius. Popularitas itu membuat perbincangan seputar harga dan keaslian jam tangan kembali ramai.

Jam Tangan Mewah Patek Philippe

Patek Philippe berasal dari Swiss dan dikenal sebagai salah satu merek paling prestisius di dunia jam tangan. Reputasinya terbentuk dari produksi yang terbatas, kualitas pengerjaan tinggi, dan nilai jual kembali yang kuat. Di kalangan kolektor, merek ini sering disebut sebagai holy grail karena sulit didapatkan. Kondisi itu membuat Patek Philippe berada di level yang sangat eksklusif.

Harga Patek Philippe sangat bervariasi, tergantung seri dan tingkat komplikasinya. Model Calatrava entry level biasanya berada di kisaran Rp 180 juta sampai Rp 500 juta. Sementara itu, Aquanaut dapat menembus Rp 1 miliar hingga Rp 4 miliar. Untuk lini Nautilus, harga bisa berkisar Rp 1,8 miliar sampai Rp 7 miliar.

Di kelas yang lebih tinggi, seri Grand Complications dapat mencapai puluhan miliar rupiah. Salah satu contohnya adalah Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary yang sempat dipamerkan di Jakarta Watch Exchange 2026. Arloji tersebut disebut dibanderol Rp 6,6 miliar dan menjadi perhatian kolektor. Nilai fantastis itu menegaskan posisi Patek Philippe sebagai simbol kemewahan tingkat tertinggi.

Daya Tarik Audemars Piguet

Audemars Piguet atau AP juga memiliki basis penggemar yang sangat kuat di Indonesia. Seri Royal Oak menjadi model paling ikonik karena desainnya yang khas dan mudah dikenali. Popularitasnya didorong oleh kombinasi estetika sporty dan status premium. Tidak heran jika AP kerap disebut sebagai salah satu jam tangan paling bergengsi di pasar mewah.

Untuk harga, Royal Oak stainless steel umumnya berada di kisaran Rp 600 juta hingga Rp 1,2 miliar. Sementara itu, Royal Oak Offshore chronograph biasanya dijual sekitar Rp 400 juta sampai Rp 900 juta. Pada model high complication atau limited edition, harganya bisa melambung ke Rp 2 miliar hingga lebih dari Rp 6 miliar. Rentang harga tersebut menunjukkan betapa luasnya pasar AP di segmen premium.

Di dunia kolektor, AP dianggap memiliki daya tarik tersendiri karena desainnya yang konsisten dan nilai prestisenya yang tinggi. Meski demikian, dalam banyak pembicaraan, Patek Philippe sering disebut masih berada satu tingkat di atas AP dari sisi eksklusivitas. Perbandingan itu kerap muncul di kalangan pembeli jam tangan kelas atas. Di Indonesia, keduanya sama-sama menjadi incaran para pencinta barang mewah.

Pasar Kolektor Jam Tangan

Pasar jam tangan mewah di Indonesia tumbuh seiring meningkatnya minat kalangan berduit terhadap barang koleksi. Richard Mille bahkan disebut berada di posisi teratas dalam daftar jam tangan yang paling diburu oleh crazy rich. Setelah itu, Patek Philippe dan Audemars Piguet menyusul sebagai pilihan favorit. Tren ini memperlihatkan bahwa jam tangan bukan lagi sekadar alat penunjuk waktu.

Bagi kolektor, faktor kelangkaan sering kali lebih penting daripada sekadar merek besar. Produk dengan jumlah terbatas biasanya memiliki daya tarik lebih tinggi karena dianggap memiliki nilai investasi. Selain itu, kondisi pasar juga membuat beberapa model justru naik harga dari tahun ke tahun. Karena itu, banyak pembeli rela menunggu lama demi mendapatkan model tertentu.

Di sisi lain, maraknya barang palsu membuat pembeli perlu lebih berhati-hati sebelum melakukan transaksi. Validasi keaslian menjadi langkah penting, terutama untuk jam tangan bernilai miliaran rupiah. Kasus pemusnahan jam palsu milik tersangka korupsi menjadi pengingat bahwa merek mewah selalu rentan dipalsukan. Situasi tersebut sekaligus menegaskan pentingnya reputasi, sertifikat, dan asal-usul produk.

Kasus Jam Palsu Koruptor

Kejaksaan Agung memastikan 14 jam tangan milik Jimmy Sutopo merupakan barang palsu setelah proses pemeriksaan yang panjang. Sebelumnya, tersangka juga telah mengakui di persidangan bahwa barang tersebut bukan produk asli. Langkah pemusnahan dilakukan sebagai bagian dari penanganan barang bukti. Peristiwa ini kemudian memicu perhatian luas karena menyangkut barang mewah yang identik dengan status sosial.

Kasus tersebut menjadi sorotan karena nilai kerugian negara akibat korupsi Asabri mencapai Rp 22,7 triliun. Di tengah besarnya kerugian itu, jam tangan palsu yang dikaitkan dengan tersangka justru menambah sorotan publik. Banyak pihak menilai fenomena ini menggambarkan kontras antara kemewahan dan praktik korupsi. Selain itu, kasus tersebut memperlihatkan bagaimana barang tiruan kerap dipakai untuk membangun citra tertentu.

Perbincangan publik pun meluas ke soal harga fantastis jam tangan asli yang sering dijadikan acuan gaya hidup mewah. Dari Patek Philippe hingga AP, keduanya tetap menjadi simbol status yang sulit disaingi. Namun, tingginya harga juga membuat pasar tiruan terus tumbuh di belakang layar. Dalam konteks itu, keaslian dan reputasi menjadi faktor utama yang menentukan nilai sebuah arloji.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!