Kebahagiaan tengah dirasakan keluarga Mario Irwinsyah dan Ratu Anandita setelah putri sulung mereka, Jada Shafira, diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia. Jada lolos di jurusan Ilmu Komunikasi, setelah sebelumnya dua kali gagal pada seleksi Universitas Padjadjaran. Perjalanan itu ia ungkapkan saat ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026. Hasil tersebut menjadi jawaban atas upaya panjang yang ia jalani melalui beberapa jalur seleksi.
Sebelum akhirnya berlabuh di UI, Jada sempat mencoba peruntungan di Unpad melalui jalur SNBP dan International Undergraduate Program. Namun, kedua kesempatan itu tidak membuahkan hasil sesuai harapan. Meski demikian, kegagalan tersebut justru mengantarnya pada kampus yang lebih dekat dengan rumah keluarga. Bagi Jada dan orang tuanya, penerimaan di UI dianggap sebagai hasil terbaik dari proses yang ia jalani.
Perjuangan Masuk UI
Jada mengaku sempat mendaftar ke Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBP. Jalur itu ditempuh melalui penilaian rapor sejak kelas 10, kemudian dipilih sekolah untuk mengikuti seleksi. Ia memilih Ilmu Komunikasi sebagai jurusan yang dituju di kampus tersebut. Namun, hasil seleksi menyatakan dirinya tidak lolos.
Setelah gagal di SNBP, Jada tidak langsung menyerah. Ia kembali mencoba jalur International Undergraduate Program atau IUP di Unpad dengan jurusan yang sama. Harapannya tetap besar karena ia merasa bidang tersebut sesuai dengan minatnya. Akan tetapi, hasilnya kembali belum berpihak kepadanya.
Jada menyadari bahwa dirinya perlu menyiapkan rencana cadangan. Saat menunggu hasil seleksi berikutnya, ia mulai memikirkan opsi lain yang masih sejalan dengan keinginannya berkuliah. Sikap itu menunjukkan keteguhan dan kedewasaannya dalam menghadapi penolakan. Pada akhirnya, usaha tersebut membuka jalan menuju kampus lain yang justru lebih cocok.
Doa Orang Tua Menguatkan
Mario Irwinsyah menilai keberhasilan putrinya di UI tidak lepas dari doa sang istri. Ia menyebut Ratu Anandita sebagai sosok yang paling serius memanjatkan harapan terbaik bagi anak mereka. Sebagai orang tua, keduanya berusaha menyerahkan hasil akhir kepada kehendak Tuhan. Bagi Mario, doa ibu memiliki peran besar dalam setiap keputusan keluarga.
Mario mengatakan dirinya percaya bahwa doa terbaik dari Ratu Anandita memberi hasil yang paling baik pula. Ia menegaskan bahwa keluarga tidak ingin memaksakan kehendak tertentu kepada Jada. Yang terpenting, putrinya bisa diterima di kampus yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. Situasi itu membuat mereka merasa lebih tenang dan bersyukur.
Ratu Anandita pun melihat penerimaan di UI sebagai anugerah yang patut disyukuri. Ia menilai anaknya mendapatkan jalan yang tepat setelah melewati beberapa penolakan. Dalam pandangannya, setiap proses memiliki hikmah tersendiri. Karena itu, hasil akhir di UI diterima dengan penuh rasa lega.
Alasan Memilih Kampus Dekat
Selain faktor akademik, lokasi kampus menjadi pertimbangan penting bagi keluarga ini. Unpad yang berada di Bandung dinilai terlalu jauh dari rumah mereka. Kondisi itu membuat keluarga cenderung berharap Jada dapat kuliah di kampus yang lebih dekat. Pilihan tersebut dianggap lebih realistis untuk aktivitas harian.
Ratu Anandita menyebut dirinya lebih memilih Jada pulang pergi setiap hari daripada harus tinggal di kos. Menurutnya, kebijakan itu membuat anak tetap dekat dengan keluarga dan tidak terlalu lelah. Ia juga menilai akses jalan tol membantu perjalanan menuju kampus menjadi lebih cepat. Dengan begitu, mobilitas harian masih dianggap aman dijalani.
UI dinilai memenuhi kebutuhan tersebut karena lokasinya lebih terjangkau dari tempat tinggal keluarga. Jada pun merasa senang karena diterima di kampus yang sesuai harapan orang tuanya. Ia mengucapkan rasa syukur karena akhirnya mendapat tempat yang diinginkan. Kabar itu menjadi penutup manis dari rangkaian seleksi yang ia jalani.
Langkah Baru Jada Shafira
Diterimanya Jada di jurusan Ilmu Komunikasi UI menjadi awal baru dalam perjalanan pendidikannya. Jurusan itu dipilih karena dinilai sejalan dengan minat dan arah masa depannya. Sebagai mahasiswa baru, ia kini bersiap memasuki lingkungan akademik yang kompetitif. Proses adaptasi tentu menjadi tantangan berikutnya yang harus ia hadapi.
Kisah Jada memperlihatkan bahwa penolakan bukan akhir dari perjuangan. Dua kegagalan di Unpad tidak menghentikan langkahnya untuk mencari peluang lain. Justru dari situ ia belajar menyiapkan pilihan cadangan dan tetap fokus pada tujuan. Sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi banyak calon mahasiswa.
Bagi keluarga Mario Irwinsyah dan Ratu Anandita, pencapaian ini menjadi momen yang layak dirayakan. Mereka melihat keberhasilan Jada sebagai buah dari doa, usaha, dan kesabaran. Kini, perhatian keluarga beralih pada persiapan kuliah dan perjalanan akademik Jada ke depan. Harapan mereka sederhana, putri sulungnya dapat menjalani masa studi dengan lancar dan membanggakan keluarga.
