Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan penguatan kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa peran satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.
Satelit Nasional dan Konektivitas
Risdianto menjelaskan, industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga menopang ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026, dalam rangkaian pembahasan industri satelit nasional. Ia menilai perkembangan ini menunjukkan perubahan fungsi satelit yang semakin strategis bagi ekosistem digital.
Dalam pandangannya, kebutuhan layanan data yang stabil membuat satelit tetap relevan di tengah percepatan transformasi digital. Kondisi itu sekaligus membuka ruang bagi industri untuk memperluas kontribusinya di luar layanan komunikasi dasar.
Modal Strategis Indonesia
Indonesia dinilai memiliki modal strategis untuk mengembangkan teknologi dan layanan berbasis satelit. Status sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menjadikan kebutuhan konektivitas di Tanah Air sangat besar.
Selain faktor geografis, populasi yang besar juga menciptakan pasar yang luas bagi industri satelit nasional. Risdianto menyebut Indonesia memiliki pengalaman industri yang cukup matang untuk berkembang di sektor ini.
Ia menekankan pentingnya integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah agar pengembangan sektor satelit berlangsung berkelanjutan. Menurut dia, seluruh elemen tersebut perlu dirangkai dalam satu strategi nasional yang konsisten.
Satelit Nasional untuk 2045
Peran satelit juga dipandang semakin strategis untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Pemanfaatannya dinilai penting untuk memperluas konektivitas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Selain itu, satelit berperan dalam mendukung ketahanan nasional, konektivitas maritim, serta mitigasi bencana. Kebutuhan tersebut membuat infrastruktur satelit menjadi elemen penting dalam pembangunan jangka panjang.
Risdianto menilai penguatan kapasitas nasional perlu dilakukan agar manfaat satelit dapat dirasakan lebih merata. Ia menambahkan bahwa sektor ini dapat menjadi penopang pemerataan layanan digital di berbagai daerah.
Satelit Nasional Hadapi Tantangan
Di sisi lain, industri satelit global menghadapi tantangan baru yang semakin kompleks. Perkembangan konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, serta ancaman keamanan siber menjadi perhatian utama.
Isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa juga ikut mewarnai lanskap industri internasional. Risdianto menilai kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, penguatan kapasitas nasional dianggap penting agar industri satelit domestik mampu tumbuh sehat di tengah persaingan global. Kapasitas tersebut mencakup teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia.
Ke depan, teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit diprediksi semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Kondisi ini membuka peluang baru, tetapi juga menuntut kesiapan infrastruktur, investasi, dan talenta yang adaptif.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026 yang digelar ASSI di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu dihadiri pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, dan mitra internasional dari Asia Pasifik.
Agenda tersebut turut menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Kehadiran para pemangku kepentingan itu menegaskan bahwa penguatan ekosistem satelit menjadi isu lintas sektor yang semakin mendesak.
