Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Teknologi BRH 30 Mei 2026 01:13 WIB 4
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menyebut peran satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurutnya, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional dan keberlanjutan layanan di berbagai wilayah.

Peluang Satelit Nasional

Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Risdianto mengatakan, peran satelit kini tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga menopang ketahanan jaringan nasional.

Pernyataan itu disampaikan Risdianto di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia menilai perkembangan layanan digital membuat satelit semakin relevan dalam menjaga keberlanjutan konektivitas.

Menurutnya, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menjadi modal strategis. Kondisi tersebut membuat satelit memiliki fungsi penting untuk menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan darat.

Dengan populasi besar dan kebutuhan internet yang terus meningkat, Indonesia dinilai memiliki pasar yang menjanjikan. Selain itu, pengalaman industri dalam negeri juga disebut cukup matang untuk memperluas pengembangan layanan satelit.

Integrasi Industri Dan Riset

Risdianto menilai pengembangan industri satelit nasional harus didukung integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Tanpa kerja sama lintas sektor, pertumbuhan industri dinilai akan sulit berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya menyatukan kekuatan pelaku usaha dan lembaga riset dalam satu arah pengembangan. Menurutnya, model tersebut diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga penggerak inovasi.

Indonesia, kata dia, memiliki modal yang cukup baik dari sisi kebutuhan pasar dan sumber daya manusia. Pengalaman pelaku industri juga menjadi bekal penting untuk membangun ekosistem yang lebih kuat.

Karena itu, ia menilai strategi nasional perlu dirancang secara konsisten. Strategi tersebut harus mampu menghubungkan kepentingan teknologi, regulasi, dan investasi dalam satu kerangka kerja yang berkesinambungan.

Satelit Untuk Kedaulatan

Peran satelit dipandang semakin strategis untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Fokus utamanya adalah memperluas konektivitas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Selain itu, satelit juga dinilai penting bagi ketahanan nasional dan konektivitas maritim. Teknologi ini dapat membantu menghadirkan layanan komunikasi di wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional.

Risdianto juga menyoroti manfaat satelit dalam mitigasi bencana. Dalam situasi darurat, konektivitas berbasis satelit dapat menjadi penopang komunikasi yang lebih andal.

Di sisi lain, isu kedaulatan digital menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas nasional dipandang penting agar industri domestik mampu tumbuh sehat di tengah persaingan global.

Ekosistem Digital Terpadu

Risdianto memprediksi teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Perubahan ini membuka peluang baru bagi industri yang siap beradaptasi.

Menurutnya, integrasi tersebut menuntut kesiapan infrastruktur yang lebih kuat. Regulasi juga perlu menyesuaikan perkembangan teknologi agar tidak menghambat inovasi.

Selain infrastruktur dan aturan, talenta digital disebut menjadi faktor penentu. Industri satelit membutuhkan sumber daya manusia yang memahami teknologi, keamanan siber, dan pengembangan layanan modern.

Agenda dan tantangan itu menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta. Konferensi internasional yang digelar ASSI pada 12-13 Mei 2026 itu mengangkat tema tentang masa depan ekosistem satelit, kedaulatan, AI, inovasi, dan integrasi teknologi.

Forum APSAT 2026

Konferensi edisi ke-22 tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri. Pesertanya mencakup pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, dan mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik.

Kehadiran para pihak itu menunjukkan isu satelit kian strategis dalam percakapan kebijakan nasional. Forum ini juga menjadi ruang untuk menyatukan pandangan mengenai arah pengembangan industri ke depan.

Dalam acara tersebut hadir Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Kehadiran mereka menandakan bahwa isu satelit berkaitan erat dengan riset, regulasi, dan perlindungan pengguna.

Melalui forum ini, pelaku industri diharapkan memperoleh peta jalan yang lebih jelas. Indonesia pun berpeluang memperkuat posisinya sebagai bagian penting dari ekosistem satelit Asia Pasifik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!