Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Teknologi Moh. Royhan Nahado 29 Mei 2026 07:11 WIB 3
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting di ekosistem satelit Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa peran satelit kini tidak lagi sebatas pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional, sekaligus penopang layanan yang semakin bergantung pada konektivitas andal.

Satelit dan Konektivitas Digital

Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang makin beragam. Risdianto mengatakan, peran satelit saat ini tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional.

Ia menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Selasa (12/5/2026), dalam rangkaian pembahasan industri satelit nasional. Menurut dia, perubahan kebutuhan pengguna membuat satelit semakin relevan untuk mendukung layanan komunikasi di berbagai wilayah. Kondisi itu sekaligus memperlihatkan bahwa satelit memiliki fungsi strategis dalam arsitektur digital nasional.

Risdianto menilai, penguatan layanan berbasis satelit perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi konektivitas jangka panjang. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat menjaga keandalan jaringan di tengah pertumbuhan trafik data yang terus meningkat. Hal itu juga penting untuk memastikan layanan digital tetap berjalan di wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial secara optimal.

Potensi Indonesia di Asia Pasifik

Posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau disebut menjadi modal strategis untuk mengembangkan teknologi dan layanan berbasis satelit. Dengan bentang wilayah yang luas, kebutuhan konektivitas di Indonesia cenderung tinggi dan beragam. Kondisi itu membuka ruang besar bagi pengembangan industri satelit domestik.

Selain pasar yang besar, Indonesia juga dinilai memiliki pengalaman industri yang cukup matang. Risdianto menyebut, kombinasi antara kebutuhan pasar, sumber daya manusia, dan pengalaman pelaku industri menjadi bekal penting untuk tumbuh lebih jauh. Karena itu, Indonesia berpeluang memperkuat perannya di kawasan Asia Pasifik.

Ia menekankan perlunya integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah agar sektor ini berkembang berkelanjutan. Menurut dia, tanpa strategi yang terhubung, potensi besar tersebut akan sulit diterjemahkan menjadi daya saing nyata. Kerja sama lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk mempercepat pertumbuhan industri satelit nasional.

Kedaulatan Digital Jadi Sorotan

Peran satelit juga dinilai semakin strategis untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Sektor ini berpotensi memperluas konektivitas di wilayah 3T, memperkuat ketahanan nasional, mendukung konektivitas maritim, dan membantu mitigasi bencana. Dalam konteks tersebut, satelit dipandang sebagai infrastruktur penting yang tidak bisa diabaikan.

Di sisi lain, industri satelit global menghadapi tantangan baru yang semakin kompleks. Risiko itu meliputi berkembangnya konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, ancaman keamanan siber, hingga isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa. Setiap tantangan tersebut menuntut kesiapan industri dan regulasi yang lebih adaptif.

Risdianto menilai isu kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas nasional dinilai penting agar industri satelit domestik mampu tumbuh sehat di tengah persaingan global. Kapasitas tersebut mencakup teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia yang mumpuni.

Arah Ekosistem Satelit Terpadu

Ke depan, Risdianto memprediksi teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Integrasi itu diperkirakan membuka peluang baru bagi industri, terutama dalam pengembangan layanan yang lebih cepat dan efisien. Namun, peluang tersebut juga menuntut kesiapan yang lebih tinggi dari para pemangku kepentingan.

Menurut dia, kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting agar integrasi teknologi berjalan mulus. Selain itu, regulasi yang adaptif dibutuhkan untuk mengimbangi perubahan ekosistem digital yang berlangsung cepat. Tanpa penyesuaian yang tepat, manfaat integrasi teknologi berisiko tidak optimal.

Isu-isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026 di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu mengusung tema The Future of Satellite Ecosystems: Importance of Sovereignty, AI, Innovation and Technological Integration dan dihadiri pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, serta mitra internasional dari Asia Pasifik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!