Industri Satelit Indonesia Masuki Babak Baru

Teknologi Moh. Royhan Nahado 30 Mei 2026 03:48 WIB 3
Industri Satelit Indonesia Masuki Babak Baru

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menilai peran satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurutnya, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Ekosistem Satelit Indonesia

Risdianto mengatakan industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional.

Pandangan itu disampaikan di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026, dalam rangkaian pembahasan industri satelit. Ia menekankan bahwa perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha membuat peran satelit semakin strategis.

Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk memperkuat industri ini, mulai dari kebutuhan pasar yang luas hingga pengalaman pelaku usaha. Dengan posisi sebagai negara kepulauan, satelit menjadi solusi penting untuk menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan konvensional.

Kedaulatan Digital Nasional

Posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menjadi modal strategis untuk pengembangan layanan berbasis satelit. Jumlah penduduk yang besar juga menciptakan kebutuhan konektivitas yang terus meningkat di berbagai sektor.

Risdianto menilai pengembangan industri satelit nasional perlu didukung integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Menurutnya, seluruh elemen tersebut harus berjalan dalam satu strategi yang berkelanjutan agar industri dapat tumbuh sehat.

Ia menegaskan bahwa kapasitas nasional harus diperkuat dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Penguatan itu menjadi penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan teknologi satelit global.

Tantangan Industri Global

Industri satelit global kini menghadapi tantangan baru yang lebih kompleks. Di antaranya adalah berkembangnya konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, serta ancaman keamanan siber.

Selain itu, isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa juga ikut menjadi perhatian internasional. Kondisi tersebut menuntut industri untuk lebih adaptif dalam mengelola teknologi, investasi, dan tata kelola.

Risdianto menilai penguatan kapasitas nasional menjadi syarat agar industri satelit domestik mampu bertahan dalam persaingan. Ia juga menyoroti bahwa isu kedaulatan digital kini semakin relevan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Arah Integrasi Teknologi

Ke depan, teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit diperkirakan akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Perkembangan ini membuka peluang baru bagi industri dan layanan publik di Indonesia.

Namun, integrasi tersebut juga menuntut kesiapan infrastruktur, regulasi, talenta, dan investasi yang lebih adaptif. Tanpa kesiapan itu, peluang pertumbuhan industri satelit berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Isu-isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026 yang digelar ASSI di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu dihadiri pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, dan mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!