Transformasi digital yang kian masif di Indonesia membuat risiko keamanan siber bagi perusahaan ikut meningkat. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menilai ancaman seperti AI fraud, deepfake, dan ransomware kini berkembang lebih kompleks dan menyasar sektor strategis nasional.
Temuan itu dipaparkan dalam whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang menyoroti masih adanya resilience gap di banyak perusahaan. Kondisi ini terjadi ketika laju digitalisasi berjalan lebih cepat dibanding kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.
Ketahanan Siber Jadi Fondasi
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Menurut dia, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, melainkan bagian dari kepercayaan dalam menjalankan usaha.
Ia mengatakan kebutuhan perusahaan saat ini tidak hanya terkait konektivitas dan teknologi. Dunia usaha juga perlu memiliki sistem keamanan siber yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi ancaman modern.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak dapat berdiri sendiri tanpa perlindungan yang memadai. Tanpa kesiapan keamanan yang kuat, perusahaan berisiko menghadapi gangguan operasional dan hilangnya kepercayaan pelanggan.
Ancaman Makin Kompleks
Whitepaper yang disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim menjelaskan bahwa ancaman digital kini bergerak lebih cepat dan sulit dideteksi. Perkembangan AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat modus penipuan menjadi semakin canggih.
Charles menilai organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Dengan cara itu, perusahaan dapat memperkuat kemampuan deteksi, respons, dan pemulihan saat terjadi serangan.
Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.
Risiko Serangan Terus Naik
Selain penipuan berbasis AI, ancaman ransomware juga disebut terus meningkat di Indonesia. Salah satu kasus yang disorot adalah serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik.
Data Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 juga menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Di sisi lain, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa risiko siber tidak lagi terbatas pada sektor teknologi saja. Hampir semua sektor, terutama yang memiliki data besar dan layanan vital, kini berada dalam posisi rentan.
Respons Perusahaan Diperkuat
Indosat Business menyoroti penerapan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang mendorong perusahaan memperkuat sistem monitoring dan respons keamanan siber secara real-time. Aturan itu juga mengharuskan pelaporan insiden dilakukan dalam waktu 72 jam.
Dalam whitepaper tersebut, perusahaan juga mendorong penerapan Zero Trust Architecture dan Human Firewall untuk memperkuat pertahanan digital. Pendekatan ini dinilai penting agar keamanan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada perilaku pengguna di dalam organisasi.
Indosat Business menilai penguatan ketahanan siber harus menjadi bagian dari strategi transformasi digital jangka panjang. Dengan perlindungan yang lebih solid, perusahaan diharapkan mampu menjaga daya saing di tengah pertumbuhan AI dan ekonomi digital.
