Indosat Soroti Lonjakan Ancaman Siber di Perusahaan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 17:01 WIB 3
Indosat Soroti Lonjakan Ancaman Siber di Perusahaan

Transformasi digital yang semakin masif di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyebut ancaman kini berkembang semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Indosat Business menilai banyak perusahaan masih menghadapi resilience gap, yakni saat laju digitalisasi bergerak lebih cepat daripada kesiapan organisasi membangun ketahanan siber. Temuan itu disampaikan dalam whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience.

Ancaman Cyber Resilience

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah mengatakan ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Menurut dia, cyber resilience bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan soal menjaga kepercayaan pelanggan dan kelangsungan usaha.

Pernyataan itu disampaikan di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026. Ia menekankan bahwa kebutuhan enterprise saat ini tidak cukup hanya konektivitas dan teknologi, tetapi juga sistem keamanan yang adaptif.

Whitepaper tersebut disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim untuk memetakan tantangan ancaman modern. Dalam kajian itu, perusahaan didorong memahami bahwa pola serangan terus berubah, sehingga respons keamanan harus lebih cepat dan terintegrasi.

Resilience Gap Perusahaan

Charles Lim menjelaskan ancaman siber kini bergerak lebih cepat dan makin sulit dideteksi. Menurut dia, munculnya AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat metode penipuan menjadi lebih meyakinkan.

Ia menilai organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai penting agar perusahaan tidak hanya fokus mencegah serangan, tetapi juga mampu pulih dengan cepat saat insiden terjadi.

Indosat Business menyebut banyak perusahaan belum siap menghadapi risiko baru karena kemampuan pertahanan internal masih tertinggal. Kondisi resilience gap itu dinilai menjadi tantangan utama dalam era ekonomi digital yang serba cepat.

Dampak Pada Sektor Strategis

Dalam laporan tersebut, Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Ancaman ransomware juga disebut terus meningkat dan berpotensi mengganggu layanan penting. Serangan terhadap pusat data nasional pada 2024, misalnya, sempat berdampak pada lebih dari 200 layanan publik.

Risiko yang sama kini menghantui sektor strategis lain seperti manufaktur, pemerintahan, dan pendidikan. Karena itu, perusahaan dinilai perlu menempatkan keamanan siber sebagai bagian dari manajemen risiko operasional.

Strategi Cyber Resilience

Indosat Business turut menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP. Aturan tersebut mendorong perusahaan memperkuat monitoring dan respons keamanan siber secara real-time, termasuk kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.

Whitepaper itu juga membahas strategi penguatan keamanan melalui Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Keduanya dipandang relevan untuk memperkuat perlindungan data sekaligus meningkatkan kewaspadaan karyawan terhadap ancaman digital.

Data Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman modern. Dengan rata-rata kerugian kebocoran data mencapai Rp15 miliar, ketahanan siber kini menjadi faktor penting dalam daya saing bisnis jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!