Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah tajam 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei. Tekanan datang dari aksi jual investor asing yang membukukan jual bersih Rp508,11 miliar di pasar reguler dan Rp544,89 miliar di seluruh pasar.
Di tengah pelemahan itu, sejumlah saham seperti Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya masih menjadi penopang indeks. Namun, tekanan terbesar berasal dari Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources, sementara seluruh sektor Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah.
Tekanan IHSG dan Sentimen
Pelemahan IHSG terjadi ketika investor asing terus melakukan aksi jual di bursa domestik. Kondisi ini membuat hampir seluruh sektor tertekan, dengan sektor energi mencatat penurunan paling dalam sebesar 6,91 persen.
Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat justru bergerak positif pada penutupan perdagangan. Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 menguat 0,17 persen, dan Nasdaq bertambah tipis 0,09 persen.
Sentimen domestik masih dipengaruhi perhatian pelaku pasar terhadap pandangan S&P Global Ratings. Lembaga tersebut menyoroti risiko fiskal dan kebijakan pengendalian ekspor Indonesia yang dinilai dapat berdampak pada neraca pembayaran serta stabilitas makroekonomi.
WMPP Genjot Ekspansi
Widodo Makmur Perkasa Tbk atau WMPP menargetkan pendapatan kuartal I-2026 mencapai Rp2,10 triliun. Target itu mencerminkan pertumbuhan 108,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,01 triliun.
Untuk menopang kinerja, perseroan meningkatkan kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam. WMPP juga memperluas bisnis ayam petelur dengan target populasi mencapai 1 juta ekor pada 2028, dari 350 ribu ekor tahun ini.
Pada lini sapi, perusahaan menargetkan kenaikan bobot harian minimal 1,60 kilogram per hari. Ekspansi feedlot juga diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara.
CRSN dan CPIN Menarik Perhatian
Carsurin Tbk atau CRSN membidik pendapatan tahun 2026 sebesar Rp618,16 miliar. Angka itu naik 22,41 persen dari target tahun 2025 yang sebesar Rp504,96 miliar.
Segmen inspeksi diperkirakan menjadi kontributor utama dengan target pendapatan Rp491,11 miliar. Perseroan juga memperkirakan laba bersih naik menjadi Rp17,52 miliar dengan margin laba bersih 2,83 persen.
Charoen Pokphand Indonesia Tbk atau CPIN menetapkan dividen tunai Rp180 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen mencapai Rp2,95 triliun, jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp30 per saham.
Rekomendasi Saham Hari Ini
CPIN juga mencatat penjualan Rp70,70 triliun sepanjang 2025, atau naik 4,78 persen dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan melonjak 52,07 persen menjadi Rp5,64 triliun, seiring kenaikan laba per saham menjadi Rp344.
Pada penutupan perdagangan Kamis, saham CPIN berada di level Rp4.270 per saham. Cum date dividen dijadwalkan pada 2 Juni 2026 untuk pasar reguler dan negosiasi, sedangkan pembayaran dividen dilakukan pada 12 Juni 2026.
Sejumlah saham juga masuk daftar pantauan dengan skenario perdagangan jangka pendek, yaitu INDF, CPIN, KJEN, WIIM, dan HMSP. Disclaimer, analisis dan rekomendasi saham bersifat informatif dan bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu.
- INDF: Buy 6600-6650, TP 6800-6900, SL 6375
- CPIN: Buy 4180-4200, TP 4300-4390, SL 4010
- KJEN: Buy 161-163, TP 166-170, SL 151
- WIIM: Buy 1750-1760, TP 1810-1840, SL 1665
- HMSP: Buy 725-730, TP 755-770, SL 685
