IHSG berbalik melemah pada penutupan sesi I perdagangan hari ini, Selasa, 12 Mei, setelah sempat menguat sekitar 1% di pembukaan. Indeks utama anjlok sebesar 1,43% ke level 6.807,12 saat penutupan, sementara pembukaan pagi tadi sempat berada di 6.977,28. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas pasar domestik menghadapi tekanan jual investor asing dan dinamika pasar global.
Di sepanjang sesi I, 456 saham melorot, 192 menguat, dan 166 stagnan. Aksi jual bersih investor asing tercatat membebani IHSG dengan total foreign sell sebesar Rp 2,63 triliun, sementara net foreign sell tercatat Rp 653,44 miliar. Kendati demikian, sejumlah emiten tetap menarik minat beli asing sehingga volatilitas pasar tetap tinggi.
Pergerakan IHSG Hari Ini
Pagi hari, IHSG sempat menguat sekitar 1% ke level 6.977,28. Momentum itu kemudian berbalik seiring berjalannya sesi I. Akhirnya IHSG menutup pada 6.807,12, turun 1,43% dari penutupan sebelumnya.
Nilai rata-rata saham bergerak di zona negatif. Sebanyak 456 saham mengalami pelemahan, sementara 192 saham menguat dan 166 stagnan. Hal ini menegaskan tekanan jual yang mendominasi pasar pada periode perdagangan tersebut.
Beberapa faktor eksternal dan domestik menjadi pemicu volatilitas di pasar. Investor memperhatikan sentimen global serta rilis data ekonomi lokal. Kondisi tersebut memperlihatkan dinamika pasar saham Indonesia yang masih sensitif terhadap arus modal asing.
Pelemahan Saham dan Asing
Sebanyak 456 saham mengalami pelemahan sepanjang sesi I. Sebanyak 456 saham mengalami pelemahan, sementara 192 menguat, dan 166 stagnan. Kondisi ini menandai tekanan jual yang meluas di banyak sektor.
Aksi jual bersih investor asing menjadi faktor utama pelemahan tersebut. Total nilai foreign sell mencapai Rp 2,63 triliun sepanjang sesi I, sedangkan net foreign sell tercatat Rp 653,44 miliar. Para pelaku pasar mencermati dinamika jual beli asing sebagai sinyal aliran modal.
Saham yang paling banyak dilepas asing adalah DSSA, dengan net foreign sell sekitar Rp 105,69 miliar. ANTM berada di urutan kedua dengan Rp 100,61 miliar. BMRI menempati posisi ketiga dengan Rp 79,54 miliar.
Pembelian Neto Asing
Namun tidak semua arah pergerakan sejalan dengan penjualan bersih. Beberapa saham kembali mencatat pembelian bersih oleh investor asing meski IHSG turun. TLKM menjadi emiten dengan net foreign buy terbesar, yakni Rp 25,17 miliar.
Selanjutnya, ADRO mencatat net buy sebesar Rp 22,26 miliar, diikuti BBCA sebesar Rp 19,43 miliar. Aksi-aksi beli tersebut menunjukkan adanya minat asing pada saham-saham tertentu meski pasar sedang terkoreksi. Pasar tetap memperhatikan pola pembelian untuk potensi rebound jangka pendek.
Dengan demikian, TLKM, ADRO, dan BBCA menjadi tiga saham dengan netto pembelian asing tertinggi pada sesi ini. Nilai beli tersebut menambah konteks bahwa investor asing tetap selektif terhadap saham defensif dan sumber daya. Analis menilai dinamika ini bisa mempengaruhi volatilitas IHSG menjelang evaluasi pasar berikutnya.
