Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dan ditutup turun 3,46 persen ke level 6.370,67. Tekanan ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing, koreksi tajam saham-saham konglomerat, serta penantian pasar terhadap dua agenda penting yang akan memengaruhi arah sentimen domestik.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG telah terkoreksi 8,59 persen dalam lima hari perdagangan terakhir dan merosot 26,32 persen sepanjang tahun berjalan. Pelemahan pasar juga diiringi net foreign sell senilai Rp41,28 triliun secara year to date hingga Senin, 18 Mei, yang menandakan investor asing masih cenderung keluar dari pasar saham Indonesia.
IHSG Tertekan Aksi Jual
Tekanan pada IHSG tidak hanya datang dari sentimen global, tetapi juga dari aksi jual yang melanda sejumlah saham berkapitalisasi besar. Pada perdagangan hari itu, beberapa emiten milik konglomerat bahkan terseret hingga menyentuh auto reject bawah atau ARB. Kondisi tersebut memperdalam pelemahan indeks dan meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar.
PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA turun 14,75 persen ke harga Rp3.120 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN melemah 13,33 persen ke Rp650 per saham, sedangkan PT Petrosea Tbk atau PTRO terkoreksi 10,93 persen ke Rp4.320 per saham. Di sisi lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA susut 14,77 persen ke Rp750 per saham, dan PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG turun 14,97 persen ke Rp1.590 per saham.
Pelemahan saham-saham tersebut menunjukkan tekanan yang merata pada kelompok emiten tertentu, terutama yang selama ini menjadi penopang likuiditas pasar. Ketika saham-saham unggulan terkoreksi tajam, dampaknya langsung terasa pada pergerakan indeks utama. Investor pun cenderung menunggu kepastian arah kebijakan sebelum kembali agresif masuk ke pasar.
DPR dan OJK Pantau Pasar
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad melakukan inspeksi mendadak ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026, untuk memantau perkembangan investor sekaligus menenangkan pasar. Kunjungan itu dilakukan di tengah koreksi tajam IHSG yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Hadir pula Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, dan COO BPI Danantara Dony Oskaria.
Dalam kunjungan tersebut, Dasco menyebut dirinya berdiskusi mengenai pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang dinilai masih terus berkembang. Ia juga mendengarkan paparan terkait upaya penyusunan regulasi yang dapat meningkatkan rasa aman investor lokal. Menurutnya, fundamental pasar tetap menjadi modal penting bagi penguatan bursa ke depan.
Dasco menegaskan bahwa pertumbuhan investor ritel menunjukkan minat masyarakat terhadap pasar modal masih terjaga. Ia menilai kehadiran kebijakan yang memberi kepastian dapat memperkuat kepercayaan investor domestik. Dengan fondasi yang ada, ia optimistis bursa saham nasional akan semakin kuat dalam jangka panjang.
Pasar Menanti Kebijakan
Selain tekanan dari saham-saham tertentu, pasar juga dibayangi dua sentimen utama yang berasal dari agenda kebijakan nasional. Investor menunggu pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR, serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan mengumumkan keputusan suku bunga. Kedua agenda itu dinilai akan memberi petunjuk penting bagi arah pasar dalam waktu dekat.
Mengacu analisis Phintraco Sekuritas, pelaku pasar menyoroti pidato Prabowo yang dijadwalkan menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN Tahun Anggaran 2027. Pernyataan itu akan menjadi salah satu acuan investor dalam membaca arah belanja negara dan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Pasar menilai kejelasan kebijakan fiskal dapat membantu meredakan ketidakpastian yang sedang meningkat.
Di saat yang sama, konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia berpeluang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Langkah itu dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal. Investor pun memilih bersikap hati-hati sambil menanti sinyal resmi dari bank sentral dan pemerintah.
Risiko Ekspor Dan Marjin
Sentimen negatif lainnya datang dari wacana pemerintah untuk mengatur ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Kebijakan tersebut berpotensi menyentuh komoditas utama seperti batu bara, crude palm oil atau CPO, hingga mineral logam. Wacana ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor yang mencermati dampaknya terhadap bisnis emiten terkait.
Pelaku pasar khawatir pengaturan ekspor yang lebih ketat dapat membuka ruang pengendalian harga jual. Jika hal itu terjadi, margin laba perusahaan berisiko tertekan dan prospek keuntungan emiten bisa berubah. Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan mengapa aksi jual tetap dominan di tengah perdagangan.
Dengan kombinasi tekanan asing, koreksi saham besar, dan ketidakpastian kebijakan, IHSG masih menghadapi tantangan untuk pulih dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu kepastian dari pemerintah, Bank Indonesia, dan regulator pasar modal untuk mengembalikan kepercayaan investor. Selama sentimen belum mereda, volatilitas IHSG diperkirakan masih tinggi.
