IHSG Tertekan, Investor Cermati Sentimen BI dan Prabowo

Forex & Saham Gilang Nabaris 24 Mei 2026 16:17 WIB 6
IHSG Tertekan, Investor Cermati Sentimen BI dan Prabowo

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dan kembali turun ke kisaran 6.300-an. Berdasarkan data RTI Business, indeks terkoreksi 3,46 persen ke level 6.370,67. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat melemah 8,59 persen, sementara sepanjang tahun berjalan penurunannya sudah mencapai 26,32 persen. Tekanan pasar semakin besar karena aksi jual investor asing dan koreksi tajam pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Sentimen negatif juga datang dari saham-saham konglomerat yang banyak terseret hingga menyentuh auto reject bawah. Di sisi lain, pelaku pasar menanti arah kebijakan moneter Bank Indonesia serta pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan fiskal. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati, terutama di tengah kekhawatiran atas potensi pengaturan ekspor komoditas. Bursa efek pun menjadi sorotan setelah Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad melakukan sidak ke BEI untuk meredakan kekhawatiran pasar.

IHSG Tertekan Aksi Jual

IHSG bergerak melemah sejak perdagangan Jumat, 8 Mei, ketika indeks turun 2,86 persen ke level 6.969,39. Penurunan berlanjut pada pekan berikutnya, hingga tekanan jual semakin terasa di seluruh lini perdagangan. Pada penutupan Selasa, indeks kembali terkoreksi dan berada jauh di bawah level psikologis 6.400. Kondisi ini menegaskan bahwa sentimen pasar domestik masih rapuh.

Jika dilihat selama lima hari perdagangan terakhir, pelemahan IHSG mencapai 8,59 persen. Dalam periode yang lebih panjang, indeks bahkan sudah turun 26,32 persen sepanjang tahun berjalan. Angka tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi pasar saham Indonesia. Investor masih menunggu katalis yang mampu mengembalikan kepercayaan terhadap pasar modal.

Aksi jual bersih investor asing turut memperberat pergerakan indeks pada tahun ini. Secara year to date, net foreign sell tercatat sebesar Rp41,28 triliun per Senin, 18 Mei. Arus keluar dana asing itu memperlihatkan sikap defensif terhadap aset berisiko. Di tengah situasi tersebut, likuiditas dan minat beli investor lokal menjadi penopang utama.

Saham Konglomerat Menjadi Beban

Sejumlah saham milik konglomerat ikut menekan kinerja IHSG setelah terkoreksi tajam pada akhir perdagangan. PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA milik Prajogo Pangestu turun 14,75 persen ke Rp3.120 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN juga melemah 13,33 persen ke Rp650 per saham. Sementara itu, PT Petrosea Tbk atau PTRO terkoreksi 10,93 persen ke Rp4.320 per saham.

Tekanan serupa juga dialami saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA milik Grup Sinar Mas. Saham tersebut anjlok 14,77 persen ke Rp750 per saham pada penutupan perdagangan. Di sektor perkebunan, PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG turun 14,97 persen ke Rp1.590 per saham. Koreksi dalam pada saham-saham besar ini memberi dampak signifikan terhadap pergerakan indeks.

Pergerakan saham berkapitalisasi besar biasanya memiliki bobot besar terhadap IHSG. Ketika beberapa di antaranya terkoreksi tajam, tekanan pada indeks menjadi lebih dalam. Pelaku pasar menilai pelemahan tersebut mencerminkan kombinasi dari aksi ambil untung dan kekhawatiran atas prospek bisnis. Situasi ini membuat sektor unggulan pasar modal ikut terimbas.

Sidak DPR Redakan Pasar

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad melakukan sidak ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026. Kunjungan itu dilakukan untuk memantau pertumbuhan investor sekaligus menenangkan pasar di tengah tekanan koreksi. Dasco hadir bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi serta jajaran BPI Danantara. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi sinyal perhatian pemerintah terhadap stabilitas pasar modal.

Dalam pertemuan itu, Dasco menyebut banyak berdiskusi mengenai perkembangan jumlah investor pasar modal. Ia menilai investor ritel terus tumbuh dan menunjukkan minat yang semakin luas terhadap bursa. Menurutnya, paparan dari Danantara juga memberi gambaran mengenai arah kebijakan yang diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor. Dasco menyatakan keyakinannya bahwa fundamental BEI masih kuat untuk menghadapi tekanan pasar.

Dasco menjelaskan bahwa regulasi yang baik akan membantu investor lokal merasa lebih nyaman. Ia menilai pertumbuhan investor ritel yang terus meningkat menjadi modal penting bagi pasar modal nasional. Dengan fondasi yang ada, ia percaya bursa akan semakin kuat ke depan. Pernyataan itu diharapkan mampu meredam kekhawatiran pelaku pasar dalam jangka pendek.

Sentimen Pasar Masih Menekan

Phintraco Sekuritas mencatat setidaknya ada dua sentimen utama yang membebani IHSG pada perdagangan hari ini. Sentimen pertama adalah pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR, Rabu, 20 Mei. Pidato tersebut akan memuat Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN Tahun Anggaran 2027. Pasar menunggu arah kebijakan fiskal yang akan disampaikan secara resmi.

Sentimen kedua datang dari hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang juga dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama. Konsensus pasar memperkirakan BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Langkah itu dinilai sebagai upaya meredam pelemahan rupiah di tengah tekanan eksternal. Investor kini menimbang dampaknya terhadap pasar saham dan biaya pendanaan korporasi.

Selain dua agenda tersebut, pasar juga merespons wacana pengaturan ekspor komoditas oleh negara melalui satu badan khusus. Kekhawatiran muncul karena kebijakan itu berpotensi memengaruhi harga jual komoditas ekspor. Jika marjin laba perusahaan tertekan, pelaku pasar khawatir valuasi emiten komoditas ikut melemah. Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi tetap volatil hingga kepastian kebijakan keluar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!