Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu, 20 Mei, setelah turun 0,82 persen ke level 6.318,50. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan pada mayoritas sektor, terutama basic industry yang terkoreksi paling dalam sebesar 4,67 persen.
Di sisi lain, sektor keuangan menjadi penopang pasar dengan kenaikan 1,21 persen, sementara investor juga mencermati sentimen eksternal dari Amerika Serikat dan kebijakan domestik. Sejumlah saham seperti MORA, SMMA, dan BMRI mencatat penguatan, sedangkan TPIA, BRPT, dan BREN menjadi pemberat utama indeks.
IHSG Tertekan Sentimen Pasar
Tekanan pada IHSG datang dari kombinasi pelemahan sektoral dan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi. Basic industry menjadi sektor dengan koreksi terdalam, sehingga menahan laju indeks meski beberapa saham unggulan tetap menguat. Investor juga menimbang rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor untuk sentralisasi ekspor CPO dan batu bara. Kebijakan itu dinilai berpotensi memberi tekanan pada saham berbasis komoditas.
Dari sisi aliran dana, investor asing membukukan jual bersih Rp130,88 miliar di pasar reguler. Namun, secara keseluruhan pasar, asing masih mencatat beli bersih Rp249,17 miliar. Kondisi ini menunjukkan minat investor asing belum sepenuhnya hilang, meski selektif terhadap saham tertentu. Pergerakan tersebut juga mencerminkan sikap hati-hati menjelang rilis data ekonomi penting.
Pelaku pasar kini menunggu notulen rapat Federal Open Market Committee atau FOMC The Fed. Selain itu, data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026 juga menjadi perhatian karena diproyeksikan mencatat defisit US$4,50 miliar. Sentimen global ikut memberi dukungan, lantaran bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 1,31 persen, S&P 500 bertambah 1,08 persen, dan Nasdaq menguat 1,55 persen.
Emiten Catat Kinerja Beragam
Di tengah tekanan pasar, sejumlah emiten justru menunjukkan kinerja yang bervariasi pada kuartal I-2026. Indika Energy Tbk atau INDY mencatat laba bersih US$13,59 juta, naik 33,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan juga naik tipis menjadi US$493,21 juta dari sebelumnya US$489,59 juta. Kenaikan ini ditopang pendapatan investasi yang melonjak 73,51 persen menjadi US$5,47 juta.
Kontribusi investasi INDY ditopang peningkatan nilai investasi pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd yang mencapai US$20,04 juta. Di sisi lain, total beban perusahaan turun 1,57 persen menjadi US$419,18 juta. Penurunan beban pokok dipengaruhi kenaikan persediaan batu bara selama kuartal berjalan. Kondisi tersebut mengindikasikan produksi batu bara lebih tinggi daripada volume penjualan pada periode tersebut.
Sementara itu, Cisadane Sawit Raya Tbk atau CSRA menargetkan pengolahan tandan buah segar sebanyak 700 ribu ton tahun ini, naik dari realisasi 500 ribu ton pada tahun sebelumnya. Hingga kuartal I-2026, produksi TBS perseroan sudah mencapai 18 persen dari target tahunan. Perseroan juga menargetkan pendapatan tumbuh menjadi Rp2 triliun dari Rp1,89 triliun. Untuk menopang ekspansi, CSRA menyiapkan belanja modal Rp100 miliar untuk replanting dan penambahan landbank.
Buyback Saham Jadi Sorotan
Bangun Kosambi Sukses Tbk atau CBDK menyiapkan langkah korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan menyiapkan dana maksimal Rp250 miliar yang akan berasal dari kas internal perusahaan. Pada kuartal I-2026, posisi kas CBDK tercatat sebesar Rp2,75 triliun. Manajemen menyebut buyback dilakukan untuk menjaga fleksibilitas struktur modal dan mendukung stabilitas harga saham.
Aksi buyback tersebut akan berlangsung pada periode 20 Mei hingga 19 Agustus 2026. Pelaksanaannya dilakukan melalui Ina Sekuritas Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. Perseroan menegaskan jumlah saham treasuri yang dibeli kembali akan mengikuti aturan POJK terkait. Langkah ini kerap dipantau investor karena dapat menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Di pasar, buyback sering dianggap sebagai upaya emiten menjaga persepsi nilai saham di tengah volatilitas. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada sentimen fundamental dan kondisi likuiditas perdagangan. Investor juga mencermati apakah aksi ini akan berdampak pada struktur permodalan jangka pendek. Dalam situasi pasar yang bergejolak, kebijakan seperti ini dapat menjadi penopang tambahan bagi emiten tertentu.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Sejumlah saham masuk pantauan pelaku pasar untuk perdagangan berikutnya. Rekomendasi mencakup PTBA, ASII, MYOR, OASA, dan KETR dengan skenario beli, target keuntungan, serta batas rugi yang telah disusun. PTBA disarankan pada kisaran buy 2.770 hingga 2.820, dengan target 2.850 hingga 2.900 dan stop loss 2.650. ASII berada pada area buy 5.900 hingga 5.950 dengan target 6.050 hingga 6.100 dan stop loss 5.700.
Untuk MYOR, area beli berada di 1.845 hingga 1.865, dengan target 1.890 hingga 1.920 dan stop loss 1.750. OASA direkomendasikan pada rentang buy 416 hingga 424, target 432 hingga 442, dan stop loss 394. Sementara itu, KETR berada pada area buy 600 hingga 615 dengan target 625 hingga 645 serta stop loss 565. Rentang ini menunjukkan saham pilihan masih menunggu konfirmasi arah pasar yang lebih stabil.
Meski rekomendasi teknikal dapat menjadi referensi awal, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Tekanan IHSG, sentimen kebijakan, dan rilis data global berpotensi membuat volatilitas pasar tetap tinggi. Karena itu, disiplin pada target dan batas rugi menjadi penting dalam menjaga portofolio. Pelaku pasar disarankan tetap selektif dan mencermati perkembangan emiten secara berkala.
