IHSG Terkoreksi ke Level 6.047, Pasar Bandingkan Era COVID-19

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 25 Mei 2026 02:13 WIB 7
IHSG Terkoreksi ke Level 6.047, Pasar Bandingkan Era COVID-19

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah pada perdagangan Jumat pagi, 22 Mei 2026, seiring dominasi aksi jual di pasar modal. Berdasarkan data RTI pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.047, turun 47 poin atau 0,78 persen dari pembukaan.

Pergerakan indeks sempat menyentuh rentang 5.966 hingga 6.074, sehingga menambah kekhawatiran pelaku pasar atas arah perdagangan harian. Dengan nilai transaksi Rp1,67 triliun, pasar mencatat 129 saham menguat, 418 saham melemah, dan 155 saham stagnan.

Tekanan IHSG Masih Berlanjut

Perdagangan pagi itu menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG. Kondisi tersebut membuat indeks bergerak lebih rendah dibanding posisi pembukaan di level 6.065.

Penurunan harian ini mempertegas sentimen hati-hati investor di tengah volatilitas pasar. Meski sempat bergerak naik turun, arah indeks tetap lebih banyak berada di zona merah.

Secara intraday, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Hal ini menandakan pelaku pasar masih mencari keseimbangan antara aksi beli dan jual.

Nilai transaksi yang menembus Rp1,67 triliun mencerminkan aktivitas perdagangan yang tetap ramai. Namun, dominasi saham melemah menunjukkan minat beli belum cukup kuat untuk menahan koreksi indeks.

Perbandingan dengan Era Pandemi

Tekanan pada IHSG kali ini memunculkan kembali ingatan pasar terhadap masa awal pandemi COVID-19. Saat itu, pasar modal Indonesia sempat mengalami gejolak besar akibat ketidakpastian yang meningkat tajam.

Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus positif pertama COVID-19 pada 2 Maret 2020. Pada hari yang sama, IHSG ditutup melemah 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361.

Seiring bertambahnya kasus, tekanan terhadap pasar saham semakin besar. Salah satu titik terendah terjadi pada 9 Maret 2020 ketika IHSG anjlok 6,5 persen ke level 5.136.

Pergerakan tersebut menjadi salah satu penurunan yang jarang terjadi dalam sejarah pasar modal domestik. Kondisi itu menunjukkan bahwa guncangan besar, seperti krisis kesehatan, dapat dengan cepat memukul kepercayaan investor.

Respons Regulator Pasar

Untuk meredam gejolak, regulator dan pengawas pasar modal kala itu mengambil sejumlah langkah. Bursa Efek Indonesia bahkan sempat menerapkan kebijakan penghentian perdagangan atau trading halt.

Kebijakan tersebut bertujuan memberi jeda bagi investor di tengah tekanan ekstrem. Dengan langkah itu, pasar diharapkan memiliki waktu untuk menilai kembali kondisi dan risiko yang berkembang.

Langkah pengendalian semacam ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasar. Selain itu, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa otoritas pasar tidak tinggal diam menghadapi penurunan tajam indeks.

Meski begitu, kebijakan teknis tidak selalu mampu langsung membalik sentimen pasar. Arah IHSG tetap sangat dipengaruhi oleh persepsi risiko, kondisi global, dan kepanikan investor.

Prospek IHSG Ke Depan

Dengan posisi IHSG yang kembali melemah, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati sentimen lanjutan pada perdagangan berikutnya. Pergerakan indeks masih berpotensi fluktuatif selama tekanan jual belum mereda.

Data pelemahan bulanan sebesar 20,01 persen, penurunan tiga bulanan 25,38 persen, dan koreksi sepanjang 2026 sebesar 30,07 persen menambah gambaran beratnya tekanan pasar. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kelemahan indeks tidak hanya terjadi dalam satu sesi perdagangan.

Investor biasanya akan menunggu katalis baru sebelum kembali masuk agresif ke pasar saham. Katalis itu dapat berasal dari stabilitas eksternal, perbaikan sentimen domestik, atau membaiknya kinerja emiten.

Di tengah kondisi tersebut, kehati-hatian menjadi pendekatan yang paling relevan bagi pelaku pasar. Selama arah sentimen belum membaik, IHSG berpeluang terus bergerak sensitif terhadap setiap perubahan berita dan arus modal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!